Shani mengetuk pintu apartemen dengan tergesa, meski tubuhnya basah karena nekat menerobos hujan deras, dia tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya segera bertemu dengan Gracia, perempuan yang memintanya untuk bertemu.
Pintu itu terbuka, "loh? Kamu kok basah gitu?"
"Keujanan di jalan, soalnya naik motor," Shani melirik ke dalam ruangan, "aku boleh masuk?"
Gracia menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Shani, "kamu ganti baju dulu gih, atau sekalian mau mandi? Aku bikinin minuman buat kamu."
Shani mengangguk singkat, "aku ganti baju aja."
Selagi menunggu Shani yang sibuk di kamar mandi, Gracia menyiapkan dua gelas minuman.
Gracia meletakkan gelas itu di meja yang tengah Shani duduki, "di minum, biar hangat."
Aroma kopi menguar memenuhi ruang tamu, cahaya kilat di langit sesekali menembus tirai jendela.
Ruangan itu begitu dingin, bukan karena cuaca. Meskipun memang di luar sedang hujan, tapi bukan dingin karena itu. Ruangan itu terlalu hening, tak ada yang memulai percakapan. Padahal riuh di kepala ingin segera diloloskan, namun sampai detik inipun tak ada satupun kata yang keluar dari keduanya.
Shani melirik, "jadi.... Ada apa?"
Gracia tersentak pelan, menarik napas cukup dalam, Akhirnya Shani memecah hening diantara mereka.
"Kenapa tiba-tiba ngajakin ketemu? Setelah dua bulan ini kamu terus ngehindar dari aku," lanjut Shani.
"Aku pikir aku cuma butuh ruang dan sedikit waktu buat sendirian, buat refleksi diri dari hubungan kita yang makin hari kayanya makin rumit," Gracia mengeratkan genggaman pada mug, "aku udah ngga bisa, Shan."
Ada sengatan kecil di hati Shani ketika mendengar kalimat Gracia, "udah ngga bisa gimana maksudnya?"
"Aku ngga tahu sejak kapan, tapi aku ngerasa kalo hubungan kita itu udah ngga bisa dilanjutin. Terlalu rumit dan sulit," Gracia berkata hati-hati, enggan menyakiti perasaan Shani.
"Rumit dan sulit? Bagian mananya? Boleh kamu jelasin, ngga? Aku kurang paham maksudnya."
"Begini," Gracia menatap lurus dinding didepannya, "kita udah ngga punya arah yang sama, aku ngerasain itu. Rasanya kaya kita ada di perahu yang sama, kamu mau kita terus berlayar menjelajahi laut, tapi aku terlalu takut. Aku takut kapal kita karam, lalu kita tenggelam."
"Ya kalo kapalnya karam, kita tinggal berenang, Gracia. Kita masih bisa tetap menjelajahi laut bareng-bareng, aku yang bakal narik kamu ke permukaan dan ngajarin kamu cara renang,"
Gracia tertawa sebentar, "masalahnya aku ngga mau renang, Shan. Aku ngga mau kelelahan, dan itu bukan maunya aku."
"Kalo itu bukan maunya kamu, terus maunya kamu apa?" Shani sungguh tidak mengerti, mengapa malam ini bukannya melepas rindu satu sama lain, justru pertemuan ini membuatnya sesak.
"Aku mau kita selesai, sekarang. Kamu sadar ngga sih, 6 bulan terakhir ini, kita itu terlalu berjarak, kita dekat tapi terlalu jauh,"
"Bukannya kamu yang bikin jarak itu ada, Ge? Apalagi di 2 bulan terakhir ini, kamu seolah menghindar dan ngejauhin aku."
"Kaya kataku tadi, Shan, aku pikir aku cuma butuh ruang dan waktu. Nyatanya bukan itu yang aku mau," Gracia menatap Shani, "aku ngga perlu keduanya, karena ternyata bukan itu yang aku butuhin. Yang aku butuhin itu adalah kata selesai yang harus aku ucapin."
Sungguh, Shani tidak ingin menangis, tapi air matanya turun dengan kurang ajar, "kenapa?"
"Kita terlalu rumit, aku sama kamu udah ngga ada di tempat yang sama lagi, Shan. Aku mau kita pisah baik-baik, makanya aku minta kamu kesini buat diskusiin ini."
"Ini bukan diskusi, Ge, ini kamu cuma ngasih closure aja. Keren ya, 2 bulan kamu ghosting aku, tiba-tiba ngajakin putus."
Gracia meneguk kopi yang perlahan dingin sambil menatap Shani dalam, "maaf, Shan, tapi aku udah beneran kehabisan semuanya."
"Kehabisan? Kamu kehabisan apa?"
"Cinta yang aku rasain, perasaan itu udah kehabisan ruang buat tumbuh ditempatku. Aku udah berusaha buat ngerawat sesuatu yang nyaris mati itu, semampu yang aku bisa. Tapi aku gagal, Shan. Aku juga udah ngga bisa lagi menahan diri buat ngga ngomongin kejujuran ini, Shan, aku udah ngga cinta lagi sama kamu. Kalimat itu terus-terusan berputar di kepala. Aku udah kehabisan energi buat nahan semuanya." Gracia menjelaskan sebisanya, Ia tahu bahwa Shani akan terluka.
Shani terdiam cukup lama, mencoba menata perasaanya yang hancur saat mendengar kalimat-kalimat itu keluar dari bibir yang amat Ia hapal tiap jengkalnya.
"Shan, aku ngga tau harus pake kalimat apa biar ngga terlalu nyakitin kamu, aku kehabisan ide," Gracia menarik sebelah tangan Shani, "dulu tiap aku tatap mata kamu, aku seolah liat ada semesta yang terpancar dari sana. Itu yang buat aku jatuh berkali-kali, dan bikin aku mau selamanya tinggal disana. Tapi sekarang, yang aku liat cuma kenangan-kenangan kita aja disana, aku cuma bisa nostalgia sama perasaan yang aku punya dulu. Udah ngga ada pancaran semesta itu lagi, Shan, dan aku udah ngga mau menetap disana."
"Gee," Suaranya bergetar, "apa cinta dari aku aja ngga cukup? Aku terima kalo misal perasaan kamu udah layu, tapi aku mau kasih punya aku, biar bisa kamu rawat dari awal lagi, sumpah aku ngga apa-apa kalo harus begitu dulu."
"Shani, makasih banget, tapi aku ngga tau caranya yakinin kamu buat bisa terima alasanku. Aku cuma ngga mau nyakitin kamu lebih lama lagi, ini terlalu menyakitkan, Shan. Bukan cuma buat kamu, tapi juga buat aku,"
"Ge..... Aku kurang keras ya usahanya? Aku kurang sabar ya? Aku terlalu nuntut kamu ya?"
Gracia menggeleng, "engga. Bukan kamu yang ngga pernah cukup, Shan, tapi aku yang udah ngga bisa ngasih ruang biar perasaanku tetap tumbuh. Aku minta maaf, sebelum aku mutusin buat ngomongin ini, aku udah berusaha. Aku udah mengupayakan sebisaku, Shan, aku udah seberusaha itu, tapi aku sadar, aku harus berhenti berusaha dan belajar sesuatu; semakin aku memaksakan maka semakin dalam juga aku dan kamu bakal terluka."
"Berarti ini bukan karena salahku, kan, Gracia?"
"Bukan, Shan, bukan. Ini bukan salah kamu, jangan pernah kamu punya pikiran kaya gitu."
Shani mengangguk, meski masih sesak, setidaknya dia tau jika itu memang bukan karenanya, "aku mau marah, aku juga mau bilang kalo kamu itu jahat, tapi aku sadar sesuatu. Kamu ngga pernah bermaksud buat menyakiti aku, kamu cuma berusaha jujur sama aku dan jujur dengan diri kamu sendiri. Makasih ya, Ge, udah mau jujur."
Gracia tersenyum, "aku minta maaf ya, Shan."
"Engga, Ge, kamu ngga boleh minta maaf. Karena itu bukan kesalahan kamu, dan bukan kehendak kamu," Shani berusaha menekan rasa sakitnya, "kadang cinta aja emang ngga pernah cukup buat bikin dua orang bisa terus bersama. Makasih udah sempat bertahan cuma buat ngejaga sesuatu yang sebenarnya udah lama berhenti tumbuh. Walaupun sekarang perasaan kamu berubah, aku ngga akan pernah lupa kenyataan; kamu dulu pernah cinta sama aku dan kamu ngelakuinnya dengan sungguh-sungguh."
Gracia merengkuh tubuh Shani, "aku cuma mau ngucapin kata maaf, Shan. Aku udah ngga punya alasan yang cukup kuat untuk tetap tinggal."
Dalam pelukan Gracia, Shani menenangkan gemuruh dalam hatinya, "iya, maafin aku juga. Maafin kita."
Malam itu, dibawah temaram lampu ruang tamu dan dinginnya suhu ruangan, semuanya berakhir. Dengan sopan, meski menyayat. Tapi tak menimbulkan adegan dramatis yang biasanya mereka tonton dari series ataupun film. Tanpa selamat tinggal yang berlebih-lebihan, hanya ada kejujuran akan perasaan dan penerimaan yang ditekan. Kisahnya sudah seperti dua cangkir kopi yang Gracia buat, hangat pada awalnya, pahit di akhir. Meskipun begitu, tetap saja rasanya meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan.
Fin.
Ah, dan Gracia, jika suatu hari dimana perasaan dan hatiku telah pulih, aku ingin mengatakan ini dengan lantang tanpa bergetar; terimakasih karena pernah mencintaiku, meskipun di akhir kisah ini kamu harus berhenti.
