Earned it

316 35 2
                                        

Padatnya kendaraan di jalanan ibukota tampaknya tak begitu Shani pedulikan, sebab dia fokus memandang lurus ke arah samping. Tetesan hujan dengan intensitas sedang terdengar saling bersahutan dari atap mobil yang dia tumpangi.

Disebelahnya, Gracia sibuk dengan setir dan persneling. Sesekali menyalip kendaraan didepannya. Suara merdu Gracia yang bernyanyi mengiringi perjalanan mereka, dan sudah puluhan kali juga Gracia mencuri lirik pada bangku disebelahnya. Enggan mengusik waktu tenang Shani.

"Ngelirik sekali lagi, kamu harus beliin aku kopi ya," Shani akhirnya memecah keheningan, "udah pas 30 kali, cukup buat satu cup kopi."

Gracia terkekeh, "kok kamu bisa tau? Kamu hitung, ya?"

Shani mengangguk, "sekali lirik tarifnya seribu ya."

Gracia tersenyum, tangannya meremas pelan setir itu. Enggan untuk menimpali lagi.

"Kami udah ngga marah lagi?" Shani menoleh, bertanya pada Gracia dengan sedikit takut.

"Masih sih, tapi buat apa mau marah terus? Buang-buang waktu dan energi, kan? Waktu kita juga makin sempit dan terbatas," Gracia mengarahkan kendaraan itu masuk ke halaman drive thru restoran cepat saji. "Kamu pasti belum makan. Kita mampir bentar ya."

Shani mengangguk sekenanya. Tak mau membantah.

Setelah menyebut pesanan dan menunggu beberapa saat, pesanan sudah sampai dipangkuan Shani. Lalu si pengemudi kembali melanjutkan perjalanan, kembali membelah jalanan padat itu.

"Ge," Shani melirik sekilas, "maaf ya."

Gracia menahan napas sebentar, sedikit tegang, "ngga usah minta maaf, Shan, kamu ngga salah. Aku aja yang terlalu kekanak-kanakan."

Tatapan Shani jatuh pada wajah Gracia yang terlihat serius, "aku ngga tahu harus ngomong apa, intinya aku minta maaf karena aku ngambil keputusan ini."

Gracia mengangguk sekilas, "ngga apa-apa, keputusan kamu udah tepat. Aku harus menghargai apa yang udah jadi pilihan kamu, karena aku mau lihat kamu bahagia."

Tak terasa mobil yang mereka naiki telah sampai di gerbang utama bandara, degup jantung Gracia tiba-tiba terasa kencang, seolah baru saja selesai mengikuti lari maraton yang panjang.

Setelah mencari tempat parkir yang cukup sepi, Gracia mematikan mesin mobilnya. Deru bunyi mesin mobil sudah tak ada lagi, diganti hening yang terasa dingin.

"Udah ngga ada yang ketinggalan, kan? Udah kamu pastiin semua?" Gracia akhirnya membuka suara.

"Harusnya ngga ada, aku udah double check. Passport sama visa juga aman," Shani meremas seat belt yang masih dia pakai. "Geee, aku cuma pergi sebentar kok. Ngga akan ninggalin kamu selamanya."

"Aku tau," jeda Gracia, "aku cuma belum siap sama ketidakhadiran kamu disekitarku, Shan. Rasanya berat banget, mungkin karena kita udah terlalu rekat."

"Apa aku batalin aja, Ge? Biar kamu ngga sesak."

Gracia menggeleng cepat, "jangan gila deh, aku udah nangis semingguan ini biar bisa ikhlas ngelepas kamu pergi."

Shani memicingkan matanya, "masa sampe segitunya?"

"Iya, sampai segitunya. Jadi ngga usah jadi orang sinting ya, Shani. Aku udah dapat puluhan wejangan dari mama, jangan sampe aku di ledek Shania," nada bicara Gracia terdengar lucu.

Shani menahan tawanya, bisa Ia bayangkan betapa konyolnya jika itu sampai kejadian. Tampak raut lega dari wajah pucatnya, setidaknya langkah yang akan diambilnya tak akan terlalu berat.

Di bawah pendarnya lampu parkiran bandara yang berkedip itu, ada dua hati yang saling berteriak. 'Tinggal, jangan pergi' dan 'aku melakukan ini untuk kita'

"Uhm, Shan, aku bukan bermaksud buat ngusir. Tapi bukannya kamu udah harus siap-siap?" Gracia memperhatikan arloji yang melilit lengannya.

"Ah, iya, aku sampe lupa," Shani melepas seat belt, "udah ngga ada yang mau kamu omongin?"

Gracia menarik lengan Shani, menahannya, "aku mau kamu janji satu hal ke aku."

"Apa itu?"

"Aku mau kamu janji buat selalu ngehubungi aku di setiap jeda waktu yang kamu punya," Gracia menahan diri untuk tidak menangis, "telepon aku sebelum aku sempat merindukanmu."

Shani menarik Gracia dalam peluknya, membelai pelan kepala kekasihnya itu, semoga itu dapat sedikit memberi reda pada gemuruh dalam dirinya. "Kamu tunggu aku pulang ya, Ge. Aku ngga lama. Aku ngga akan pernah sanggup buat lama-lama jauh dari kamu, maaf aku harus pergi sebentar. Tawaran training ini ngga datang dua kali. Ini cara biar aku bisa level up dalam karirku, biar ngga stuck di situ-situ aja. Aku harus ngejar mimpi aku, keinginanku. Buat aku, buat kamu, buat kita."

Shani harus segera mengakhiri peluknya, sebab waktu yang mereka miliki hanya beberapa menit lagi, "aku pergi dulu ya. Anggap saja jarak itu ibarat mesin penghitung waktu, kita harus kuat menunggu tombol stop."

Shani meraih kedua tangan milik Gracia, untuk meninggalkan kecup hangat dipunggung tangannya, "tunggu aku."

Gracia menggigit bibirnya, menahan tangis yang akan segara pecah. Berharap Shani benar-benar bisa menuntaskan urusannya, dan memenuhi janjinya.

Fin.

Hello there. It's been way too looooooooong, but I'm back. Welcome back to the obsession with GRESHAN! My writing groove took a long vacation, but the feels for this story never left. Hope y'all enjoy!

Story GrshnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang