Let It Go

258 23 0
                                        

Terlalu cepat untuk disebut pagi karena matahari belum menampakkan eksistensinya, meski kabut pagi itu tak terlalu tebal. Di dapur sebuah apartemen mini, Shani sibuk dengan mesin kopinya yang berdengung cukup nyaring, aroma kopi menguar ke seluruh ruangan, aroma yang membuatnya sedikit tenang.

Ketika semuanya siap, Shani membawa mug panas itu ke mini bar miliknya. Ditatapnya dalam gelas itu, uap panasnya menguap bercampur dengan udara dingin ruangan tersebut. Ada ruang kosong yang Shani rasakan ketika menatap kopi itu, seolah tengah memastikan jika dia---Shani masih ada disini, mendapati kesadarannya. Memastikan jika dia masih bisa merasa.

Ah, berbicara soal kopi, Shani teringat kejadian malam itu. Malam dimana Gracia berbicara tentang kejujuran, dan malam dimana Shani hanya bisa menerima. Malam ketika keduanya harus menyelesaikan kisah, menutup buku yang mereka tulis bersama. Ingatan yang sebenarnya tak ingin Shani usik lagi, biarlah menjadi penutup yang pas dalam cerita mereka.

Tapi ada sedikit kerinduan yang menggelitik, tentang bagaimana dia akhirnya mengetahui arti jarak yang Gracia buat. Dia tahu, orang itu sebenarnya tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya, hanya saja mungkin cara yang dipilih tak cukup tepat menurutnya. Bukankah dengan menciptakan jarak, justru membuat Shani semakin sesak? Bukankah pertemuan pertama mereka setelah jeda yang lama itu harusnya jadi pertemuan yang membahagiakan? Bukan malah mengakhiri semuanya. Gracia dengan keraguan dan kejujurannya, dan Shani dengan penuh pertanyaan di kepalanya, juga rindu untuk sekadar memeluk kekasihnya.

Shani menyesap kopinya perlahan ketika dirasa tak terlalu panas lagi, menikmati rasa pahit yang menyapa lidahnya, "kopi jam segini emang berguna banget." Shani tersenyum. Meski terasa asing awalnya, itu bukan karena biji kopinya yang berbeda, tapi karena ada setitik rindu kala menikmati kopi paginya.

Shani menatap sekitar, memperhatikan setiap jengkal tempat yang dia huni itu. Sofa kesukaan Gracia saat menikmati serial kesukaannya sambil menyantap cemilan, biasanya Shani menemani disebelahnya, meski sibuk dengan ponsel atau laptop miliknya.

Atau boleh juga sudut kecil yang terdapat lemari pajangan yang tertata rapi, di isi dengan barang koleksi Gracia, seperti action figure, lego, dan gundam. Space yang Gracia minta khusus padanya, 'biar aku punya alasan buat sesering mungkin mampir kesini, karena aku juga mau ngurusin barang-barang aku.'

Gracia setiap sabtu akan mampir sambil membawa banyak belanjaan---mainan, cemilan, bahan masakan, dan biji-biji kopi yang baru direkomendasikan temannya untuk dicicipi. Mereka akan menghabiskan waktu sampai sore untuk melakukan kegiatan masing-masing, lalu malamnya akan saling bertukar cerita tentang hari-hari yang mereka lewati dalan satu pekan itu. Tak lupa sambil menonton film atau series yang mereka suka, saling merengkuh satu sama lain, menyalurkan afeksi.

Lalu besoknya Gracia akan membangunkan Shani, menikmati pagi hari dengan berlari kecil di taman sebelah, "kita juga butuh udara pagi yang segar, Shan, walaupun cuma lari-lari doang di taman. Lumayan buat ngelepas penat, sekalian olahraga." Gracia selalu memberi alasan itu. Biasanya setelah melakukan kegiatan lari, Gracia akan mengajaknya mampir untuk membeli bubur ayam. Pulang dengan perut yang penuh, Gracia masih saja sempat meminta untuk dibuatkan kopi untuk mereka berdua nikmati.

"Biasanya kalo pesenannya udah dateng, kamu bakal ngejek aku karena buburku ngga di aduk ya, Ge. Terus kamu paksa aku buat tambahin susu di kopi, karena kamu takut asam lambungku kambuh." Shani tersenyum mengingatnya, tidak sesak. Hanya meraba kenangan saja.

Shani menatap kursi diseberangnya, kursi yang menjadi hak paten Gracia untuk diduduki ketika mereka menikmati dua cangkir kopi. Merencanakan kegiatan yang akan mereka lakukan seharian. Lalu Gracia akan mengusap kepala Shani dengan penuh perhatian sambil sesekali mengucapkan kalimat-kalimat rayuan, yang sukses membuat kepala Shani tertunduk guna menyembunyikan semburat merah diwajahnya.

Bayangan Gracia kadang masih suka berkeliaran ditempat itu, mungkin karena sudah terlalu merekat erat dalam ingatan Shani. Cara bicara dengan nada yang lembut, cara Gracia memegang gelas kopi dengan kedua tangannya seolah ingin mencari hangat di gelas itu, cara Gracia memberi pengertian dan perhatian ketika Shani membuat kesalahan, Gracia dengan seribu hal yang mungkin sulit untuk Shani lupakan.

Ah, biasanya di minggu pagi ini, dia akan menyiapkan dua cangkir kopi, ya. Tapi sekarang, dia hanya membuat satu cangkir untuknya sendiri, dan tanpa menambah susu didalamnya seperti yang biasa Gracia suruh.

Suara dering ponsel mengantarkannya pada kesadaran, dengan cepat mengangkatnya, "iya, Sis?"

"Kita jadi pergi hari ini, ngga?" Jawab orang itu.

"Jadi kok, kamu jemputnya jam 11 aja ya. Aku sekalian ada janji juga sama orang jam 1 nanti."

"Okeyy, kabarin aja kalo kamu udah siap-siap, biar aku bisa jalan."

"Okee, see you?"

"See you, Shan," telepon itu terputus.

Shani memegang cangkir kopi miliknya yang perlahan dingin, mungkin sudah terlalu lama dia sibuk dengan nostalgia-nya pada sosok Gracia. Kenangan memang punya caranya sendiri untuk datang. Lewat aroma kopi, lewat lagu yang biasa mereka dengar bersama, atau lewat kursi yang sudah lama sekali tidak Gracia tempati.

Shani meneguk kopi yang sudah dingin itu, menikmati rasa pahit yang membakar indera pengecapnya. Membiarkan setiap teguknya bersapa dengan kenangan dan pelajaran hari ini. Bukan tentang luka yang Gracia torehkan, atau cinta yang seharusnya tetap dirawat agar tumbuh subur. Tapi pelajaran tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana caranya menata perasaan, tentang cara bagaimana menerima tanpa melupakan, memberi ruang bagi semua rasa yang tengah dia kenali. Hangat, pahit, dingin, sepi.

Tidak, tidak. Shani tidak tengah bersedih. Tidak juga berharap jika Gracia tiba-tiba datang mengetuk pintu lalu mengungkapkan penyesalan dan memohon untuk kembali. Apa yang mereka putuskan adalah keputusan yang tepat dengan tidak saling menyakiti; Gracia tidak ingin terus berpura-pura jika dia masih memiliki rasa, dan Shani yang tak akan pernah memaksakan cintanya.

Biarkan dia merasakan semuanya dulu, tanpa buru-buru, tanpa merasa ditekan, tanpa merasa sesak, hanya duduk dan menerima pelan-pelan.

SJ.

Berbicara soal kenangan, aku hanya ingin megecapnya saja, berjalan menyusuri lorong-lorong itu, tapi tidak untuk tersersat. Aku sedikit jauh lebih baik, dan lebih lega. Bukankah ini proses yang memang seharusnya aku jalani, kan?

Story GrshnTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang