Shani membaca novel yang ada ditangannya, sore itu pengunjung tak terlalu ramai, mungkin karena bukan akhir pekan. Interior tempat itu tak berubah banyak dari terakhir kali dia kemari, hanya beberapa tambahan koleksi buku dan lukisan-lukisan abstrak yang ditambahkan oleh pemiliknya.
"Temen baru, Shan? Gracia kemana? Kok lama banget ngga muncul. Kita pikir udah ngga tinggal di kota ini lagi." Sapa Sherina, pemilik kedai itu duduk di meja Shani.
"Eh, Sherina. Iya nih, udah mau setahun ya," sahutnya, "Kenalin, Nads, itu Sherina."
"Halo, Ci. Gue Nadse," ramahnya, "ih kedainya homie banget, berasa pulang ke rumah nenek."
Sherina tersenyum, "wah gitu ya? kebetulan emang berdua sama pacar gue kepikiran buat bikin konsep kaya gini."
Nadse mengangguk, "nyaman banget, bakal sering kesini deh."
"Iya ditunggu ya, banyak menu yang harus lo cobain soalnya. Yaudah gue lanjut stock-stock lagi deh ya, takut tiba-tiba rame ntar gue kewalahan." Sherina pamit dari meja itu.
"Eh, emang kamu sering kesini, Shan? Kok kayanya akrab banget sama Sherina."
Shani melipat salah satu halaman bagian novel, "iya dulu sering kesini tiap balik dari kerja, cuma emang hampir setahun ngga kesini lagi."
"Oh ya? Kok bisa ketemu tempat ini? Kan tempatnya agak susah di cari, soalnya masuk-masuk gang gini."
"Di ajak Gracia dulu, kenal mereka juga dari dia," Shani memperhatikan Sherina yang tengah sibuk di bar tengah menggiling biji kopi, "dari yang awalnya cuma di kontainer teras, terus jadi kedai kaya gini. Sekarang juga udah punya dua cabang lain."
Nadse mengangguk, "oh gitu. Wah berarti berkembang banget ya usahanya."
"Iya gitu deh, ngeliat mereka dari awal banget sampe bisa buka cabang itu, rasanya waktu berlalu begitu ce----"
Belum sempat Shani menyelesaikan ucapannya, pintu kedai dibelakangnya terbuka.
"Loh?" Suara milik Sherina terdengar samar, lalu cepat-cepat dia berlalu menghampiri orang itu, "ih kangeeeen. Lo kemana aja?!"
Shani tak begitu peduli, mungkin itu teman Sherina, lalu memilih untuk melanjutkan membaca novel.
"Ngga kemana-mana, Ci, kebetulan aja tempat kerjaku udah pindah. Jadi ngga searah lagi kesini, kamu mah buka cabang juga masih sekitaran sini, jadi tetep kerasa jauh,"
Shani menajamkan pendengarannya, suara orang itu terasa familiar, 'ngga lucu banget sumpah.'
"Oh gitu rupanya, pantesan ih! Kok kamu ngga bareng Shani, Gre?"
Benar saja. Tentu Shani tahu siapa itu. Dia menunduk, tersenyum perih.
"Shani?" Gracia berucap tak mengerti.
"Itu ada Shani," tunjuknya pada salah satu meja, "kirain kalian janjian."
Gracia menatap lekat punggung Shani, sudah waktunya ya?
"Oh engga kok, tadi niatnya mau mampir ngopi aja mumpung lewat daerah sini. Ngga tau kalo bakal ketemu,"
"Lah? Emang kamu udah ngga bareng dia?" Sherina bertanya dengan nada penasaran.
Gracia menggeleng, "udah mau setahun putus."
"Waduh, sorry ya," Sherina merasa tak enak, "yaudah kamu duduk dulu aja, Gracia. Pesanannya kaya biasa, kan?"
"Iyaa, Ci. Makasih ya," Gracia berjalan ke meja di seberang Shani.
Shani tersenyum singkat saat tatapan keduanya bertemu, sementara Gracia mengangguk sopan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Story Grshn
Roman pour AdolescentsSekelebat cerita greshan. Random. Short story.
