"Nyatanya, kita hanya dua orang yang terjebak dimasalalu"
HENDRA MAHESWARA adalah mahkota di SMA Gerhana, sekolah terfavorit di Jakarta. Prestasi akademik dan nonakademiknya membuatnya jadi dambaan banyak orang, tapi di balik itu, tersembunyi trauma...
"lebih baik gagal karna mencoba daripada gagal tanpa mencoba"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Didalam sebuah ruangan yang tampak luas, di sisi tembok kiri dan kanannya yang terpajang mendali dan piagam perhargaan belum lagi piala-piala yang berada di ujung ruangan sungguh menakjubkan.
Setelah adegan intip mengintip pak Asril tanpa banyak bertanya mempersilakan mereka masuk, disudut ruangan Nadia tengah duduk menghadap kepala sekolah ditengah-tengah mereka terdapat meja yang membatasi mereka berdua.
Melihat Zia dan yang lain masuk pak Tio dan Nadia secara spontan menoleh ke arah mereka, "eh, kalian sudah datang silahkan masuk"ujar pak Tio, pak Tio melambaikan tangannya ke arah mereka"tolong ini Leo ambil kursi di belakang"titah pak Tio pada Leo
Leo sontak menghentikan langkah nya"Anjir belom ini lima langka gua masuk udah ada aja perintah nya"gerutu Leo pelan yang masih bisa di dengar teman-temannya yang lain.
"Terima aja,emang nasib lu jadi babu" ledek Dirga dibalas tawa kecil dari teman-teman nya yang lain termasuk Quinza dan Zia.
Leo menggaruk kepala nya yang tidak gatal,dan tersenyum paksa"berapa pak?!"
"Ya hitung jumlah kalian saja" jawab pak Tio
"Oh, kalo gitu ga usah pak, kami berdiri aja" sahut Leo cepat "apa Lo liat liat mau duduk ambil sendiri" sinis Leo pada Dirga yang melirik nya sekilas tapi seperti meledek.
"Gausah ribut"ujar Gilang tanpa menoleh yang berada tidak jauh didepan mereka"gu..." Belum sempat Leo mengeluarkan suara nya Hendra sudah meliriknya tajam Leo yang langsung menyadari itu membuang muka dan membuka handphonenya.
"bisa dilanjutkan pak masalah olimpiade kemarin?" Tanya Gilang mengganti topik, kini mereka berempat berdiri sekitar satu meter dibelakang kursi Nadia sedangan Zia dan Quinza berada di sebelah kanan Nadia.
Sebelum pak Tio sempat menjawab Gilang menyenggol pelan bahu Leo, mengangkat dagunya ke raha Zia dan Quinza "gue lagi ni?" Tanya Leo menunjuk diri nya sendiri.
Leo menghela nafas memasukan kembali handphone di kantong seragam dan akhirnya pergi memasuki sisi lain ruangan itu
"duduk aja,pegel kalo berdiri"ujar Leo memberikan dua kursi pelastik pada Zia dan Quinza,"ah,makasih ya kak,maaf ngerepotin"Zia dan Quinza mengambil kursi itu dan duduk di atas nya tidak lupa dengan kaki yang disilangkan.
Pak Asril memegang sebuah map dan menyerahkannya pada pak Tio"oke langsung saja, jadi tadi sudah di jelaskan oleh pak Tio kepada Nadia tentang olimpiade ini, jadi saya hanya mengulas singkat"
"olimpiade ini sistemnya partner yaitu satu perempuan dan satu laki-laki,jadi rencana bapak mau mengajak Nadia mengikuti olimpiade ini, satu tim dengan Gilang karna melihat dari cara Nadia yang menyelesaikan soal tadi saya rasa Nadia dan Gilang sangat cocok untuk mengikut olimpiade ini dan berpotensi meraih juara"ujar pak Asril berusaha meyakinkan "menurut pak Tio gimana"sambungnya meminta pendapat pak Tio selaku kepsek