Tawa pagi hari 💫

27 5 2
                                        



Di kediaman keluarga Guindra

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di kediaman keluarga Guindra. Terlihat mereka sedang berkumpul di meja makan menyambut pagi hari dengan sarapan nasi goreng dan telor mata sapi setengah matang, kesukaan Zia. Namun hari ini ada yang tampak berbeda saat yang lain tengah asik menyantap makanan mereka, Zia hanya melamun menatap nasi goreng nya dengan enggan, nasi goreng yang biasanya sangat ia nanti-nanti setiap pagi. Nasi goreng buatan ibu nya, bahkan pernah Zia dan Adnan rebutan untuk porsi terakhir yang tersisa karna merasa kurang.

Zoe yang melihat Zia yang tidak menyentuh makanannya bertanya dengan lembut "kamu kenapa sayang? Ada sesuatu yang lagi kamu pikirin?" Tanya Zoe.

Zoe adalah ibu dari Adnan dan Zia, yang sekarang berusia 43 tahun,dia adalah seorang pengacara yang sangan terkenal. Hampir semua kasus yang ia pegang selalu mencapai titik keadilan, dan itu bukan kebetulan. Zoe dikenal dengan ketelitiannya yang luar biasa, tak perna melewatkan kesempatan kecil apapun. Sebuah bukti kecil ditangannya bisa berubah menjadi senjata yang sangat tajam, dengan koneksinya yang luas tidak ada yang mustahil.

"Iya,tumben banget. biasanya Lo selalu excited kalo bunda masak nasi goreng" timpal Adnan melirik adik nya heran.

Zia menggigit bagian dinding dalam bibirnya, ia menaruh garpu yang sedari tadi ia genggam, menggunakan tangan yang bertumpu di meja untuk menahan dagu nya.

"Aku mau minta pendapat Abang sama Bunaa" ujar nya menatap dua orang itu bergantian.

Adnan dan Zoe memicingkan matanya, meladeni Zia memajukan badan mereka agar lebih dekat dengan dia, agar terkesan lebih serius.

"Jadii" ujar Zia menggantung

"Jadii" balas Zoe dan Adnan tidak kalah serius dengan mata yang di picingkan dan jidat yang mengkerut.

"Gaada, hehe" jawab Zia cengengesan mengalihkan pandangannya melihat langit langit plafon rumah.

"Aduhh"

"Sayang sekali pemirsa" ujar Zoe dan Adnan bersamaan, yang membuat ruang makan itu di penuhi tawa-tawa hangat setelah nya.

Setelah terdiam cukup lama Zia kembali menetralkan jantungnya yang berdetak cepat enta mengapa kalimat itu sulit sekali terucap, seperti tersangkut di tenggorokan yang membuat Zia sangat tidak nyaman "Sebenar nya, aku ditawarin buat ikut olimpiade" ujar Zia cepat

Zoe melihat Zia dengan senyum harus sebelum akhirnya memegang bahu Zia mengelus nya pelan "bagus dong, olimpiade apa?!"ujar Zoe excited

Adnan yang kembali menikmati nasi goreng nya, mendongak dan menggangguk matanya membesar, tidak lupa dengan sendok yang iya arah kan menunjuk Zia.

"Heh, sendok nya" terus Zoe, menepis tangan putranya pelan dengan mata yang melirik tajam.

" Ukh.. uhk.. olimpiade sains ya? "Ujar Adnan "ihh cuda lo kemana mana" ujar Zia sembari menyodorkan minum pada Adnan dengan wajah jengkel.

"Pelan-pelan bang" tegur Zoe menepuk-nepuk bahu Adnan.

"Iya-iya maaf, tapi bener kan olimpiade sains?" Tanyanya lagi

Zia mengangguk, perlahan mengambil kembali sendok dan garpunya memakan nasi goreng yang ada di depan nya "Emm, enak banget! rasanya ga perna berubah selalu... Luarbiasa!!" Ujar Zia heboh membuat Zoe dan Adnan menahan tawa.

"Oh iya buna, bang Nan. Aku mau minta pendapat kalian, tentang olimpiade ini" ujar Zia "menurut.. kalian aku bisa ga, eh gimana si maksud nya, aku layak ga?" Tanya Zia pelan.

"Ya pastinya layak dong sayang, putri Buna kan emang pinter banget wajar kalo terpilih" sahut Zoe cepat dan mengusap pelah rambut Zia yang duduk di samping nya.

"Tapi inget, kamu harus tetep berdoa dan usaha, belajar yang rajin, dua-dua nya penting, bunda yakin kamu bisa" lanjut Zoe

Zia mengangguk dan kini ia menoleh ke sebelah kiri menatap Abang nya dengan wajah penuh harapan"Menurut Lo gimana bang?"tanya Zia pada Adnan yang terus makan dan sepertinya sudah dua kali nambah, bisa-bisa ini nasi dan telur ceplok nya habis dimakan Adnan.

"Mau pujian atau fakta?" tanya Adnan balik.

"Kok gitu si jawab nya!"

"Ya gimana ya. kalo Lo milih pujian gua puji kalo Lo pilih.."

"Pilih apa!" Jawab Zia ketus

"Kalo Lo pilih fakta ya tetep gua puji, karna fakta nya Lo memang layak dipuji" ujar Adnan tersenyum jahil dengan kedua alis yang naik turun, membuat pipi Zia memerah tapi tidak bisa menyembunyikan senyum indah nya.

"Ciee baper.. " ujar Adnan terkekeh pelan dia suka sekali menjahili adiknya.

"Engga ya, tanpa Lo bilang juga gua dah tau kalo gue pinter!" ujar Zia lantang "kaloo gitu kamu harus terima tawarannya" tibal Zoe tersenyum kemenangan.

"Zia pikir-pikir lagi deh Bun"












Lanjut ?!









Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐨𝐫 𝐢𝐝𝐞𝐚𝐥𝐬Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang