12

31 10 5
                                        

Saat sesuatu sudah berubah semuanya tidak akan kembali, sekalipun kembali, tidak akan sama lagi.

Saat sesuatu sudah berubah semuanya tidak akan kembali, sekalipun kembali, tidak akan sama lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bentar lagi jam istirahat, mau ke kantin ga?" tanya Nadia menoleh kebelakang

Quinza memain kan pulpen nya mendongak menatap Nadia "Lo lupa kalo harus balik ke ruang kepsek?"

"Makan bentar ga papa ga si?, aku laper banget" ujar Nadia memelas memegangi perut nya

"Makan bekel gua aja, gua ga laper,di kantin pasti rame, ga enak sama pak Tio kalo nunggu lama" ujar Zia

Mendengar itu Nadia memegang tangan Zia dengan mata berbinar"Beneran ga papa?!" Tanya Nadia antusias

"Gercep banget Lo kalo bahas tentang makanan" sindir Quinza

"HE, YANG DI UJUNG SANA. Mau gantiin saya ngoceh didepan" mendengar itu Nadia sontak membalikan badan nya melihat pak Marta tengah menatap tajam kearah mereka begitu pun Quinza dan Zia tubuh mereka menegang, semua mata mengarah ke arah mereka.

"Kalian berempat maju kedepan"instruksi pak Marta yang membuat teman sebangku Nadia membulat kan mata nya jari tunjuk nya mengarah ke dirinya sendiri "se..aya, juga pak?" Tanya Cerin

"Perlu saya ulangi lagi"sontak Zia Quinza dan Nadia langsung berdiri sedangkan Cerin Masi melongo kebingungan, Nadia yang melihat Cerin tidak berdiri menoleh dan menarik tangan Cerin pelan "kok gue juga kena sih" Cerin perlahan berdiri berbisik pelan pada Nadia.

"Ya maaf aku juga ga tau"balas Nadia .

"Dari kemaren mereka bertiga ini ribut terus"sindir Clara yang duduk tidak jauh dari mereka.

"Iya padahal lulusan sekolah terbaik semua"timpal Seren berbisik tapi masih bisa terdengar bahkan oleh Quinza yang sudah berdiri di depan.

"Apa lagi lulusan Sriwijaya, kata nya itu sekolah terbaik di Bandung"sahut Kirana teman sebangku Clara

Mata Quinza menatap tajam ke arah Clara dan dua teman nya, cabe cabean caper tunggu aja Lo. batin Quinza menggerutu rasanya ia ingin sekali menampar mulut tiga orang itu.

Zia memegang tangan Quinza memberi tatapan lembut seolah-olah ia mengatakan jangan, tahan dulu

Zia pun tersenyum ke arah Clara, Kirana dan seren tiga orang yang  tidak berhenti menyindir seperti tidak ada kerjaan lain selain mengurusi hidup orang lain."Aduh makasih banget ya buat pujian nya"ujar Zia yang membuat tiga orang yang menyindir nya terdiam dan berlaga seolah olah tidak mendengar perkataan Zia

"Sudah-sudah diam. Zia, Quinza, Nadia, Cerin benar?" ujar pak Marta menunjuk ke arah mereka satu per satu.

"Em, i..ya pak"jawab mereka pelan

"Tapi pak Cerin ga ngobrol, yang ngobrol cuman kami bertiga" ujar Zia memberanikan diri, ia tidak mungkin membiarkan orang yang tidak bersalah, kena akibat karena ulah nya.

"Iya pak bener kata Zia"timpal Nadia dibalas anggukan oleh Quinza dan Zia. Cerin yang awalnya hanya menundukkan kepala kini menatap Zia dan Nadia dengan mata yang berbinar Cerin memang murid yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman di sekolah, ia hanya punya satu teman ya itu Melati teman SMP dan sekarang beda kelas.

Quinza melihat mata Cerin yang berkaca-kaca, ia memegang tangan Cerin lembut dan berbisik "Lo ga perlu takut" Cerin yang merasakan kehangatan dari Quinza,Zia dan Nadia tersenyum tipis jadi ini rasanya di hargai dan disayangi monolog nya dalam hati.

"Apa benar Cerin" tanya pak Marta, Cerin hanya diam suaranya seperti tersangkut di tenggorokan, ia tidak punya keberanian untuk menjawab.

Sampai ia merasakan genggaman tangan Quinza yang menguat seolah berkata, ayo kamu bisa, kamu cuman perlu bilang iya.

Cerin memejamkan mata nya mengambil nafas dalam dalam sampai akhirnya iya membuka pata dan berkata"I..ya pak"jawab Cerin gugup Quinza dapat merasakan tanya Cerin yang iya genggam bergetar dan berair.

Pak Marta mengerutkan keningnya, mengusap matanya disusul hembusan nafas pelan "Kenapa tidak bilang dari awal?"ujar pak Marta tetap dengan nada awalnya,bukan nya mendapat jawaban ia hanya melihat Cerin yang hanya diam dan kembali menunduk.

"Yasudah kalo begitu Cerin kamu boleh duduk. Untuk kalian bertiga bersihkan perpustakaan selama satu Minggu, jam 06.20 perpus sudah dibuka dan jam 07.00 sudah Bersi setiap pagi akan bapak periksa"ujar pak Marta.

Matila sudah, duta kesiangan ini disuru datang pagi?

Apa ga ada hukuman yang lebih mudah?

Ting.. ting..

Pak Marta melihat jam tangannya "ya sudah, untuk yang lain kerjakan soal yang ada di papan, dikumpul Minggu depan" ujar pak Marta dan melangkah pergi meninggal kan kelas.

"Ini semua gara lo" tunjuk Quinza pada Nadia "salah kamu ngomongnya gede banget" balas Nadia tak terima.

"Salah elo" balas Quinza tidak mau kalah, kini Nadia tidak lagi membalas, ia diam menatap Quinza geram.

Zia yang berada di tengah tengah mereka berdua mengeluarkan tangan nya membekap mulut Quinza yang akan kembali melontarkan kalimat"Daripada kalian berantem, mending kita makan, gua bawa bekel banyak hari ini, setelah itu langsung ke ruang kepsek" ujar Zia

Mereka kembali duduk di bangku masing-masing, dengan Zia yang sudah mengeluarkan Kotak bekal berwarna pink dengan gambar beruang diatasnya

Bau sedap yang menggoda membuat Nadia tidak sabar lagi, membuat cacing di perut Nadia menari-nari seperti akan menyambut pesta"kamu bawa bekel apa Zi,belum dibuka aja udah semerebak harumnya"tanya Nadia dengan mata berbinar Zia hanya tersenyum dan membuka kotak bekal nya.

Terlihat ada sosis yang berbentuk hati,telur mata sapi dan nasi goreng yang dari warna, tampilan,dan wangi yang begitu menggugah belum mencicip saja mereka dapat merasakan bahwa itu pasti sangat enak.

"itadikimas.."

"Meojak"

Setelah mengucapkan kalimat itu mereka bertiga berdoa, dan makan dengan tenang.

udah beberapa hari ini aku ga up,sebener nya chapter ini udah aku simpen dari Minggu kemeren tapi belum sempet aku publish karna belum aku tinjau, baru kesampean hari ini😓🙏

Semoga kalian ga bosen ya nungguin kelanjutan cerita aku😘🤏

Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote & komen. Love you🤍🎀

𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐨𝐫 𝐢𝐝𝐞𝐚𝐥𝐬Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang