"Nyatanya, kita hanya dua orang yang terjebak dimasalalu"
HENDRA MAHESWARA adalah mahkota di SMA Gerhana, sekolah terfavorit di Jakarta. Prestasi akademik dan nonakademiknya membuatnya jadi dambaan banyak orang, tapi di balik itu, tersembunyi trauma...
"Dengan nya aku saki,tapi tanpa nya aku lebih sakit"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada suatu malam di ruangan yang gelap hanya secercah cahaya kecil yang masuk lewat pantulan bulan di jendela, terlihat perempuan berusia dua belas tahun duduk di sudut ranjang dengan kaki tertekuk rapat, matanya terpejam kuat dengan air mata yang terus mengalir keluar dari mata indahnya. Dia menangis terisak pilu berharap ini hanya sebuah mimpi, mimpi buruk yang terlalu panjang.
Tangan nya bergetar memeluk kakinya yang terasa lemas, dari dalam kamar ia bisa mendengar isakan seorang perempuan yang sangat familiar, suara benda-benda yang di banting dengan sangat kuat dan suara teriakan penuh amara yang terus bersautan terngiang-ngiang ditelinga gadis kecil itu.
Dadanya terasa sesak, seolah-olah ada benda berat yang menekannya "Ma..maa.. aku takut hiks.." Isaknya pelan. Matanya terpejam membayangkan keluarga kecil bahagianya. ini seperti mimpi, Rasanya kemarin baik baik saja,ia masih tertawa, bercanda ria dengan ibu dan ayah, bahkan kemarin mereka masih bercerita hangat sambil menonton TV di ruang tamu, yang sekarang ruangan itu menjadi saksi kehancuran keluarga nya.
Gadis itu memeluk boneka beruang pemberian ayahnya dengan erat. hadiah ulangtahun, sekaligus hadiah terakhir ayahnya"Tuhan, apa aku perna buat salah? sampai kamu rusak rumah ku?!"ia memeluk boneka itu erat membayangkan yang iya peluk saat ini adalah ayah nya.
"I..ini.. cu..man mimpi ke..kann?!" kalimat demi kalimat keluar dari bibir anak kecil itu, kalimat yang harus nya tidak perna terucap dari anak seumuran nya.
"a..ku.. ayah..ma.. aku ta..kut" malam itu, gadis itu terus menangis tanpa henti,membaringkan tubuh nya di ranjang dengan badan yang ditutupi selimut tebal, dia menutup telinga nya kuat menggunakan tangan mungilnya, berharap suara-suara itu akan hilang, sampai akhirnya ia tertidur dengan terus bergumam memanggil ibu dan ayah.
Suara samar-samar menggelitik telinga, suara yang sangat familiar, kelopak matanya terasa berat untuk membuka mata dan melihat siap itu.
Ia merasakan telapak tangan hangat mengusap lembut pipinya yang basah dan lembab, lalu berpindah mengusap surai rambutnya dengan lembut.
Ini mengingatkannya pada sosok pria yang sangat berarti dalam hidup nya yaitu ayah. Dia perna bilang ayah nya adalah ayah terhebat didunia, ayah selalu mendorongnya untuk berani, jadi anak yang ceria dan menebarkan aura positif untuk orang-orang sekitarnya.
Ayah nya juga selalu melakukan hal yang sema seperti yang saat ini ia rasakan, saat ia merasa sedih dan tidak aman ayah nya akan mengusap kepalanya berlagak seperti pahlawan, tapi bagi nya sosok ayah memang seorang pahlawan hebat, sampai malam itu datang.
Matanya masih terpejam tapi terus menerus menggumamkan kata ayah, pria yang sedari tadi duduk di tepi ranjang menatapnya lekat, mendengar itu dadanya terasa sesak tanpa sadar air matanya menetes mengenai tangan gadis itu, yang membuat sang gadis menggeliat kekiri dan ke kanan.
Pemuda itu langsung me ngelap sarkas air matanya yang akan terjatuh dan membenarkan posisi tidur adik nya.
Beberapa menit kemudian gadis itu membuka kelopak matanya, cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar menusuk menggangu pandangan nya, ia mengusap matanya pelan melihat seorang pemuda tengah duduk di tepi ranjang menatap nya dengan lekat, terlihat dari raut wajah pemuda itu menunjukkan kekhawatiran.
Perlahan gadis itu beranjak dari tidurnya duduk menyender di dinding ranjang"Emm, abang kenapa di kamar aku" tanya nya, sembari mengucek matanya yang terasa panas dan berat.
Adnan menyingkirkan tangan Zia yang masih setia mengucek matanya "entar merah, Lo jadi tambah jelek"tegur Adnan
"Lo Dateng ke kamar gue cuman buat ngomong itu? mending Lo keluar aja dari kamar gue!!" Teriak Zia kesal Adnan terkekeh pelan dan kembali menepuk pelan kepala adik nya gemas.
"Semalem Lo demam gua yang jagain"ujar Adnan lembut tersenyum manis, sedangkan Zia terdiam sejenak memandang kakak laki-lakinya.
Zia menarik ujung kaos Adnan, matanya seolah olah di selimuti awan mendung yang bisa menurunkan hujan kapan saja, membuat hati Adnan terasa di sayat degan pisau tumpul "Boleh peluk ga?" Tanya Zia Adnan mengangguk memeluk adik nya erat.
"Lo cengeng banget si, terharu ya sama effort gue"
Zia tidak langsung menjawab ia semakin memeluk Adnan erat, berusaha menetralkan detak jantungnya,ketika demam tinggi Zia selalu seperti ini merasa cemas diikuti mimpi buruk yang panjang"Aku.. aku mimpi ayah, aku keinget kejadi.."Adnan menepuk pelan punggung adiknya, ia tau apa yang akan selanjutnya adiknya katakan.
"Suttt... Itu udah lama, Zi. sekarang kita udah mulai hidup baru, jangan mikirin hal yang ga perlu"
"Dia juga belum tentu mikirin kita"lanjut nya
"Kalo ayah pulang gimana?" Tanya Zia pada Adnan, pertanyaan yang sangat ia benci.
"Kamu tau kan kenapa dia pergi?"jawab Adnan balik bertanya "dan satu lagi kita ga punya ayah"kini Adnan mengatakan nya dengan wajah datar tidaka ada kelembutan, menatap lurus kedepan sebelum akhirnya melepaskan pelukan.
Ia menatap Zia lekat "Lo perna denger kalimat, dengan dia aku sakit tapi tanpa dia aku lebih sakit"
"Kalimat Itu sangat menggambar kan kita saat ini. sama dia kita sakit, bunda juga sakit, tapi tanpa dia kita jauh lebih sakit. sakit ngelepas seseorang yang sangat penting dalam hidup kita, yaitu sosok ayah. di umur kita yang sekarang, kita sanga butuh peran ayah, tapi dia malah pergi ningalin kita, membuat kita bukan hanya kehilangan sosok ayah, tapi juga separuh jiwa"Zia menunduk, membiarkan tetesan air bening itu jatuh membasahi tangan kakaknya yang masih setia menggenggam erat tangan nya.
"Jadi pertanyaan nya kamu mau ngelepas dan ngerasain sakit yang sakit banget, tapi sebentar. atau pertahankan dan terus merasakan sakit nya"
Tanpa mereka sadari seorang wanita menggunakan seragam advokat mendengar semua percakapan mereka, ia memandang kedua anak nya yang sedang menangis. mengepalkan tangan nya kuat menahan air mata yang akan berjatuhan.
Ia mengelap matanya yang memerah, tersenyum lebar, merapikan Pakaian nya. memastikan tidak ada raut kesedihan yang terlihat dari nya " Zia, Nanda, sarapan dulu nak" ujar nya setelah mengetuk pintu kamar Zia.
"Buna" ujar Zia mendusal-dusal hidung nya yang gatal menggunakan jari telunjuk nya.
"Kamu mandi dulu sana Abang tunggu di bawah" ujar Adnan yang di balas anggukan kecil.
Zia mengelap surai wajahnya, menarik napas dalam-dalam"Iyaa Bunaaa ini Zia lucu, imut, ikutt, bentar lagi turun" teriak Zia dari dalam kamar sembari berlari masuk ke kamar mandi. kalimat yang ia lontarkan mungkin membuat orang yang baru mengenal nya tidak menyadari bahwa ia sedang menangis, tapi ibu nya tidak mungkin tertipu.
Adnan yang melihat itu tersenyum tipis melihat tingkah adik nya yang selalu tampak baik-baik saja dengan topeng tebalnya "dia emang selalu punya aura positif" monolog Adnan, ia beranjak dari duduk nya berjalan keluar dari kamar Zia.
Hemmmm rencana nya mau up tahun depan (2026) tapiiii aku lagi mood hari ini buat up.😓☝️
Semoga kalian suka yaa, jangan bosen buat baca cerita akuu🥺
Tebakkkkk menurut kalian pas kejadian malam itu Adnan dimana? yang bener aku kasih hadiah kecupan hangat!!😘
Jangan lupa tinggal kan jejek dengan vote & dan komen, biar aku semangat up nya🤍🌷