kedua belas

22 5 0
                                        

Sekarang athar dan ikhsan sedang tausiah, terlihat disana banyak jamaah. Sholawat serta salam sudah di ucapkan saat ini mereka sedang berceramah.

"Nahh kalo disuruh bohong jangan mau, janganlah jadi orang yang tersesat. Pilihlah jalan yang benar seharusnya kamu jalani"

Ikhsan melirik adiknya. "Pusing kak" ucapnya berbisik kepada sang kakak yang meliriknya sebentar.

"Jadilah orang yang beriman karna kalau kita ada dijalan yang tepat kita semuanya pasti akan selamat. Disetiap gerak tubuhmu diakhirat jangan lupa terus bersholawat karna rasulullah yang memberi kita syafaat"

Ikhsan menggenggam tangan adiknya kuat sambil mengelusnya berharap adiknya dapat menguatkan dirinya.

"InsyaaAllah ya bapak bapak ibu ibu, adek adek, dan kakak kakak sekalian kita semua husnul khotimah"

Saat ceramah selesai ikhsan meminta izin untuk langsung pulang. "Pusing kak ga kuat" ucap athar memegang lengan kakaknya.

Ikhsan mengangguk memapah adiknya ssmpai luar ikhsan buru buru menggendong adiknya ala bridal style lalu memasukkan kedalam mobil.

Athar memejamkan matanya sementara ikhsan membuat kursi mobil yang diduduki adiknya untuk kebelakang agar adiknya bisa tidur.

"Tidur aja nanti kalo udah ssmpai rumah kakak gendong"

Athar tidak berucap apa apa hanya memejamkan mata. Lama lama mata itu tertutup dan terdengar denguran halus dari bibir pink adiknya.

Ikhsan menghela nafas mengusap surai adiknya. "Ya Allah tolong sembuhkan adikku, kau yang memberi sakit maka aku percaya kau dapat menyembuhkan hambamu" ucap ikhsan mengusap pipi adiknya.

Sesampainya dirumah ikhsan menggendong adiknya. Disana terlihat aisyiyah panik.

"Astaghfirullah hal'adzim apa yang terjadi" ucap aisyiyah panik mengusap wajah adik bungsunya. Ia raih telapak tangan adiknya yang mendiringin.

"Tangannya dingin. Ini kenapa dek ko athar bisa kaya gini" paniknya.

"Gatau tadi ngrluh pusing dipertengahan acara kaya mau pingsan. Aku buru buru gendong athar kemobil trus athar tidur" ucap ikhsan membuat aisyiyah mengangguk.

"Ayo bawa masuk"

Ikhsan membawa adiknya ke ruang keluarga, aisyiyah menggelar kasur lipat lalu athar diletakkan disana.

Aisyiyah naik ke kasur lalu mengusap pipi adiknya, dengan wajah memakai cadar ia meletakkan telinganya didada athar.

"Detaknya cepat, san"

Aiyiyah mengusap dada itu agar normal nsmun semuanya sia sia. Aisyiyah berbaring menyamping berusaha membuat athar nyaman dan detaknya bisa normal kembali.

Athar membuka matanya, athar mrlihat kakaknya lalu mengubah posisi tubuhnya memeluk kakaknya.

Aisyiyah memeluk adiknya membuat seluruh tubuh athar tertutupi kerudung panjang sang kakak, dan wajahnya dibenamkan didada kakaknya.

"Nyaman"

"Seperti pelukan umi"

"Detak jantungmy cepat dek. Coba tarik nafasss terus buang" athar mendongak menatap kakaknya yang mengangguk. Athar menarik nafas lalu membuangnya.

"Coba lagi sampai tenang" aisyiyah mengusap dada adiknya lalu memegangnya lama merasakan detak adiknya.

"Ikhsan, ambilkan obat adek" ucap aisyiyah pada ikhsan yang berdiri khawatir. Ikhsan segera mengambilkan obat adiknya.

"Ini kak"

"Air"

Ikhsan memberikan segelas air. "Yuk duduk dulu minum obat biar dadanya nyaman"

Holy Heaven Gift Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang