Hari mulai siang, satu keluarga tersebut habis melakukan sholat dzuhur berjamaah di mushola. Dan sekarang mereka menunggu didepan ICCU berharap cemas.
Abi mendekap istrinya yang berdiri didepan pintu mengintip putranya dari balik kaca.
Aisyiyah meneteskan air matanya, ia pun begitu ketakutan kalau adiknya meninggalkannya.
"Athar kuat, dia gak akan kenapa napa" ucap aisyah mengusap pundak aisyiyah. Aisyiyah menatap saudaranya ini sambil memeluknya.
"Aku belum siap kehilangannya"
"Aku juga takut. Tapi kita bisa apa, kita cuma bisa berdoa biar athhar selalu disisi kita" ucap aisyah dengan air mata yang mengalir.
Tak lama terdengar suara langkah kaki, itu adalah suami aisyah. "Sayang bagaimana keadaan adek?" Tanya lelaki itu duduk disamping aisyah setelah pelukannya terlepas.
Aisyah menunduk sambil menggeleng. Pria itu menghela nafas berat sembari menunduk sedih.
"Belum bisa dijenguk?" Tanya lelaki itu.
"Belum" ucap aisyiyah sembari menangis terkadang mengusap air matanya. Wanita berjubah itu bangkit menghampiri kedua orang tuanya.
"Umi"
Umi mengalihkan pandangannya mendekap putrinya sambil menangis. "Ya Allah, adikmu Ais. Hiks umi takutt atharr baru pertama kali separah ini. Ya rabb jangan ambil anakku, aku masih ingin merawatnya"
Aisyiyah memeluk erat uminya sembari menangis pula. Tak lama pintu terdengar terbuka, aisyiyah dan umi melepas pelukan lalu menghampiri dokternya.
"Pasien sudah bisa dijenguk, namun satu persatu dan memakai pakaian yang sudah dipersiapkan" ucap dokter diangguki seluruh keluarga itu.
"Umi dulu aja" ucap aisyah lembut, ia tau uminya lebih sedih dan terluka dibanding kita semua.
"Abi tunggu disini sama anak anak" umi tersenyum lalu mengangguk, wanita paruh baya itu memeluk suaminya lalu masuk kedalam. Didalam ia diarahkan untuk memakai pakaian steril, lalu ia diarahkan masuk kedalam ruangan.
Saat sudah didalam, air matanya tak bisa terbendung lagi. Tubuhnya meluruh kelantai, dirinya kembali menangis.
"Eh, bu. Ibu tidak apa apa?" Ucap suster panik memegang kedua pundak wanita berjubah hitam dengan purdah di kepala menutupi wajahnya.
"Mari saya bantu berdiri" umi bangkit lalu mendekati putranya. Saat tangan lembut sang umi memegang kepala putranya, athar membuka mata dan melihat uminya.
"Umi" ucapnya dengan suara serak.
Umi terkejut saat putranya sudah sadar. "Sayang hiks ini umii hm. Umi takut athar ninggalin umi, jangan seperti ini lagi jangan bikin umi takut hiks" umi memeluk putranya lembut tanpa membuat putranya kesakitan.
"Suater bukankah keadaan putraku lebih baik tapi kenapa tidak dipindahkan." Tanya umi
"Maaf bu, pasien msih dalam pantauan dokter karna sewaktu waktu pasien bisa ngedrop" ucap suster itu mrmbuat mata umi berkaca kaca.
"Ya rabb apalagi ini. Hamba mohon pertolonganmu ya karimm, ya rohman ya rahim aku percaya dengam semua ketemtuanmu" batinnya sembari meneteskan air mata.
"Ja-ngan na-ngis hah" ucapnya dengan nafas tersendat sendat. Tangan lemahnya ingin meraih tangan wanita paruh baya kesayangannya.
"Le-pas"
Umi yang paham segera menggeleng. "Tidak boleh sayang ya, nurut apa kata dokter ya. Umi gamau kamu kenapa napa, nafas kamu masih sulit sayang" ucapnya sambil mengecup dahi putranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Holy Heaven Gift
ContoBagaimana jadinya, anak terakhir dari keluarga besar yang mengimani Akhirat dan ilmu agama yang tinggi mempunyai sebuah penyakit. Keluarga pendakwah dan penerus waliyullah. Keluarga itu menyebarkan agama Allah dengan semangat begitu juga sang bungs...
