kesepuluh

43 6 0
                                        

Athar sedang berada di kamarnya. Kebetulan sedang duduk diatas sajadahnya selesai shalat duha dan berzikir.

Ceklek

"Atharrr jadi ikut kakak gak?" Tanya ikhsan saat melihat adiknya fokus pada ibadahnya. Athar yang mendengar segera mengangguk lalu berdiri dibantu kakakknya.

"Jadi kak. Athar mau mandi dulu"

"Jangan ditinggalin" ikhsan terkekeh mencubit hidung adiknya dengan gemas.

"Ga akan ditinggalin. Kakak tunggu sampai kamu selesai berpakaian" ucap ikhsan lalu buru buru athar mengambil handuk lalu kekemar mandi.

Ikhsan tersenyum melihat kelakuan adiknya, lalu dirinya berjalan kearah almari menyiapkan baju adiknya.

Ikhsan meletakkan baju adiknya diatas kasur lalu dirinya berdzikir penuh kekhusukan. "Astaghfirullah hal'adzim. Ya rasulullah ya muhammad nabiyyika"

"Hasbunallah wani'mal wakil ni'mal maula wani'mal wakilll. Ya Allahhh ya rohman ya rohiim" ikhsan terlalu fokus sampai tak menyadari adiknya udah keluar.

"Athar ganti didalam ya kak" ucap athar membuyarkan lamunannya. Ikhsan mengangguk menyelesaikan dzkir lalu mengambil handphone mengalihkan sambil menunggu adik kesayangannya.

"Udah kak"

"Yaudah yuk kebawah" ucap ikhsan menggandeng adiknya. Ia sempat memeriksa dibeberapa titik tidak ada lebam.

Aman

Athar tersenyum karna hari ini ia sangat sehat. Tangan kakaknya yang tergenggam ia ayun ayunkan saking senangnya.

"Girang banget kayanya" ucap aisyiyah saat melihat adiknya turun dengan ikhsan, namun nampaknya adik bungsunya sangat sehat.

"Iya dong. Athhar ikut kakak ke kanjian" sombongnya dengan senyum lebar.

"Adduhhh manisnya anak umi. Udah siap ya nak. MasyaaAllah" ucap umi mengusap kepala anaknya. Beruntung anakmya sehat banget.

Kalau anaknya dalam keadaan kritis ia sangat hancur berkeping keping.

"Makan dulu"

Athar dudum dibantu ikhsan lalu menarik piring yang sudah disiapkan. Akhirnya satu keluarga itu makan dipimpin oleh abi.

"Silahkan dimakan"

Setelah mereka makan, semuanya pada sibuk ada yang libur dari kajian ada yamg disibukkan berdakwah. Athar pun ikut kakaknya kajian rutinan.

Athar duduk dimobil samping kemudi, kakaknya yang mengemudi. "Cek dulu dek gaada lebam atau semacamnya kan? Takutnya kamu nyembunyiin dari kakak terus acaranya jadi ga lancar"

Athar mengangguk cepat. Dirinya lihat kaki, tangan, dan lengan zemuamya baik baik saja normal tidak ada tanda tanda penyakitnya kambuh.

"Oke banget kak" ucapnya antusias.

Ikhsan mengangguk melanjutkan perjalanan dengan tangan kiri menggenggam tangan athar. Athar pun tenang fokus ke depan dengan bibir berdikir.

"Subhanallah walhamdulillah walailahailallah wallahu akbar. Subhanallah walhamdulillah walailahailallah wallahuakbar."

"Lailahailallah wah dahula syarikalah lahulmulku walahulhamdu yuhyi wayumitu wahuwa 'ala kulli syaiin kodirr"

Ikhsan tersenyum mengusap kepala adiknya sekilas. Lalu dirinya memutar stir untuk masuk ke lapangan yang sudah ramai berisi mobil dan motor.

"Ini tempatnya?" Tanya athar melihat sekelilingnya. Sesampainya diparkir athar keluar dari mobil disusul ikhsan dengan penuh wibawa.

Ikhsan mendekati adiknya menggandengnya lalu masuk kedalam masjid besar itu. Saat masuk ia dipersilahkan panitia masuk.

Holy Heaven Gift Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang