Ikhsan baru dikasih tau saat sampai rumah. Ikhsan 2 hari berada disemarang ada dua acara disana yang membuatnya tidak bisa pulang.
"Gimana keadaan athhar, umi" tanya ikhsan mengusap surai adiknya dengan cemas.
"Umi baru aja panggil dokter. Ga sempat kalo harus nunggu kontrol" ucap umi mengusap lalu mencium dahi putranya.
Athhar masih tidur. Tidurnya sangat tenang dan nyenyak, tangannya sedari tadi dikecup umi dengan sayang.
Ikhsan terduduk dibawah mengecupi jemari adiknya.
Tak lama dokter datang semuanya menyingkir kecuali umi yang masih duduk diatas kasur disamping putranya.
"Gimana dok?" Tanya umi dengan khawatir apalagi kernyitan didahi sang dokter membuatnya resah.
"Jangan bebani pasien. Pasien terlalu kekelahan makannya dadanya selalu terasa berdetak terlalu kencang dan menyakitkan"
"Saya suntikkan obat nanti obatnya saya tambah ya" ucap dokter setelah meletakkan stetoskop ditasnya lalu mrnuliskan resep dikertas yang selalu ia bawa.
"Terima kasih dok" ucap ikhsan.
Dokter itu mengangguk lalu mengundurkan diri. Umi mrngecup dahi putranya sementara ikhsan mengambil kertas yang diberikan kepada abinya.
"Ikhsan aja yang nebus bi"
Abi mengangguk membiarkan putra ketiganya menebus di apotik. Sedangkan umi dan abi menjaga athhar yang masih tidur nyenyak.
Sekitar 20 menit athhar baru bangun. Matanya terbuka sedikit demi sedikit, athhar memeluk umi membuat umi terkekeh.
"Manjanya putra umi ini" ucap umi terkekeh menciumi pipi putranya. Pipi athhar bersemu merah.
"Abi sama umi disini" ucap lirih athhar khas bangun tidur.
"Iya kita jagain athhar. Athhar sakit gak bilang hm, telfon kakak kalo ngerasa sakit. Umi gamau kamu kenapa napa" ucap umi mengusap surai outranya.
Athhar tersenyum lebar. "Athhar ga kenapa napa umi"
"Sekarang ga kenap napa tapi tadi kamu kesakitan sendirian. Bagi sakitnya sama umi" ucap umi dengan nada sedih.
Athhar menunduk mengecup pipi umi yang tertutup cadar. "Allah nemenin athhar. Masa Allah yang bagi sakitnya sama Athhar, athharnya ga ridho. Athhar ridho cuma sakit banget tadi" ucap athhar.
Abi mendudukkan dirinya disamping athhar membuat athhar ikutan duduk dibantu umi.
"Hati hati"
Athhar duduk dengan sandaram bantal yang disiapkan sang umi. Abi ikut duduk mengenggam tangan putranya.
"Astaghfirullah hal'adzim"
"Umi. Kok badan athhar makin lemah ya" ucap athhar membuat hati seorang ibu berdenyut sakit begitupun dengan abi.
Tak lama dengan posisi itu suami istri itu menemani putranya membaca Al-Qur'an. Ikhsan udah datang dengan plastik berisi obat obatan yang ditambah oleh dokter tadi.
"Umi abi"
"Eh udah datang kak. Udah selesai ditebus?" Ikhsan mengangguk mrletakkan obat diatas meja.
"Dek udah bangun" tanya ikhsan duduk disisi ranjang disamping kaki adiknya.
"Udah kak. Kakak darimana?" Tanyanya membuat ikhsan tersenyum mengusap kaki adiknya.
"Abis nebus obat kamu" ucap ikhsan membuat athhar mengernyitkan dahinya.
"Bukannya obat athhar masih ya kak" ucap athhar bingung.
"Tadi dokter dipanggil sama umi teruz nambah obat kamu" ucap ikhsan membuat athhar mengangguk faham.
KAMU SEDANG MEMBACA
Holy Heaven Gift
Historia CortaBagaimana jadinya, anak terakhir dari keluarga besar yang mengimani Akhirat dan ilmu agama yang tinggi mempunyai sebuah penyakit. Keluarga pendakwah dan penerus waliyullah. Keluarga itu menyebarkan agama Allah dengan semangat begitu juga sang bungs...
