moonlight | 17. Intrik

2 2 0
                                        

Awalnya Melissa mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

Pesan singkat yang ia terima semalam, Claire menginap di rumah teman terlihat wajar. Terlalu wajar. Tapi justru itu yang mengganggunya. Claire bukan tipe yang tiba-tiba menginap tanpa memberi tahu lebih dulu, apalagi di tengah kekacauan yang sedang terjadi di Beacon Hills.

Pagi itu, Melissa menelepon nomor Claire.

Tidak aktif. Ia mengirim pesan, tidak terkirim.

Melissa berhenti di dapur, menatap ponselnya dengan alis berkerut. Ada rasa dingin yang merayap di tulang punggungnya, naluri seorang ibu yang berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.

"Tidak..." gumamnya.

Melissa segera meraih jaketnya dan kunci mobil. Ia menyetir ke alamat yang disebutkan Claire dalam pesan, alamat seorang teman sekolah yang pernah ia antar pulang. Ketika Melissa mengetuk pintu, seorang perempuan paruh baya membukanya dengan ekspresi bingung.

"Maaf," kata Melissa cepat, menahan kepanikan. "Claire Chavez. Dia menginap di sini semalam?"

Perempuan itu menggeleng. "Tidak. Ava tidur sendirian. Tidak ada temannya yang datang ke sini sejak kemarin."

Dunia Melissa seakan berhenti berputar. Ia berterima kasih singkat, lalu kembali ke mobil dengan tangan gemetar. Jantungnya berdetak terlalu kencang saat ia kembali menatap ponselnya. Pesan semalam itu masih ada. Terlihat nyata. Terlihat dipalsukan dengan sangat rapi.

Melissa tahu pola ini. Ia pernah menghadapinya sebelumnya.

"Scott..." bisiknya.

Melissa langsung menghubungi putranya. Panggilan itu dijawab cepat, seolah Scott juga sedang berada dalam ketegangan yang sama.

"Mom?" suara Scott terdengar cemas. "Ada apa?"

"Scott," suara Melissa bergetar meski ia berusaha terdengar tegas. "Claire tidak menginap di rumah siapa pun. Dia menghilang."

Keheningan di seberang telepon terasa berat.

"Mom? Apa maksudmu?" tanya Scott, suaranya menegang.

"Ada seseorang yang mengirim pesan dari ponselnya," potong Melissa. "Pesan palsu. Aku sudah mengecek alamatnya. Claire tidak pernah sampai ke sana."

Napas Scott terdengar tersendat. "Tidak... tidak mungkin."

"Scott, dengarkan aku," kata Melissa, kini tak lagi menahan kepanikan. "Ini bukan kabur biasa. Ini seperti... seperti dulu. Saat orang-orang menghilang sebelum sesuatu yang buruk terjadi."

Scott terdiam, lalu suaranya berubah lebih rendah, lebih dingin. Alpha-nya mulai mengambil alih. "Siapa orang terakhir yang bersamanya?"

Melissa ragu sepersekian detik, lalu menjawab, "Theo Raeken."

Nama itu jatuh seperti bom.

"Aku akan mencarinya," kata Scott cepat. "Aku janji, Mom. Aku akan membawa Claire pulang."

"Bawa dia pulang hidup-hidup, Scott," suara Melissa pecah. "Tolong."

Telepon ditutup dan Scott berdiri kaku di tengah koridor sekolah, darahnya berdesir dengan napas yang terasa terlalu sempit di dadanya. Nama Claire masih bergaung di kepalanya seperti alarm yang tidak berhenti berbunyi.

Claire hilang. Bukan pergi, bukan menghindar. Hilang.

Ia berbalik tajam dan melangkah cepat menuju parkiran. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama.

Theo Raeken.

Di parkiran Sekolah Theo sedang bersandar pada mobilnya ketika Scott mendekat, wajah Alpha itu tegang, rahangnya mengeras.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ᴍᴏᴏɴʟɪɢʜᴛ ➼ ᴛʜᴇᴏ ʀᴀᴇᴋᴇɴCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang