13 - Dalam Kendali

188 18 7
                                        

Selamat membaca~

***

Cahaya matahari yang pucat menyusup melalui celah tirai, merayap pelan di lantai marmer sebelum akhirnya berhenti di atas ranjang besar yang terlalu kacau untuk disebut sebagai sisa tidur yang tenang. Seprai kusut, bantal terlempar, selimut terlipat tak beraturan—jejak yang tidak bisa berbohong tentang bagaimana malam itu berlalu.

Do Hee membuka matanya perlahan.

Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran kosong. Kepalanya terasa berat, bukan karena sakit, melainkan seperti ada sisa-sisa sesuatu yang masih mengendap di tubuhnya. Hangat. Pekat. Melekat.

Ia menarik napas dalam.

Tubuhnya terasa lelah dengan cara yang asing. Otot-ototnya seperti baru saja dipaksa bekerja terlalu keras. Ada nyeri samar di beberapa bagian tubuhnya, bukan menyiksa, tapi cukup untuk mengingatkannya tentang apa yang terjadi kemarin malam.

Do Hee menoleh.

Gu Won sudah duduk di tepi ranjang dengan punggung telanjang menghadap ke arahnya. Garis bahunya tegas, rambutnya sedikit acak—tidak serapi biasanya. Ia tampak diam, terlalu diam, seolah sedang menenangkan sesuatu dalam dirinya.

Gu Won menoleh sedikit ketika menyadari Do Hee bergerak.

Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.

Netral.

Sulit dibaca.

"Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan teh."

Suaranya rendah, terkendali, seperti tidak terjadi apa-apa. Seperti semalam bukanlah malam yang hampir membuat napas mereka habis.

Ia kemudian berdiri dan berjalan ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Do Hee.

Do Hee tetap diam.

Otaknya bergerak lambat, merangkai potongan-potongan yang terasa seperti mimpi yang terlalu nyata. Ingatan itu datang tidak runtut—hanya kilasan. Napas yang terengah. Tangan yang saling mencari. Suara namanya yang dipanggil dengan nada yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya.

Pipi Do Hee memanas.

Perlahan Do Hee duduk dan menurunkan selimut yang membalut tubuhnya. Tanpa sadar Do Hee menahan napasnya.

Cermin besar di seberang ranjang memantulkan bayangan yang membuat Do Hee membeku. Untuk beberapa detik ia hanya menatap dirinya sendiri, seperti melihat orang lain.

Kulit Do Hee yang biasanya bersih dan terawat kini dipenuhi tanda kemerahan yang samar membiru. Di sepanjang lehernya. Di tulang selangka. Hingga turun ke bahu. Bekas yang tidak mungkin tercipta di alam mimpi.

Tangan Do Hee terangkat tanpa sadar, menyentuh salah satu tanda itu dengan ujung jarinya. Sedikit nyeri. Ada sedikit sensasi yang membuat jantung Do Hee berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Bibir Do Hee juga terasa berbeda. Ia menyentuh bibir itu perlahan—sedikit bengkak, sedikit perih.

Kenangan itu datang sekaligus.

Cara Gu Won menahannya ketika ia mencoba mengatur napas. Cara Gu Won memanggil namanya, berulang kali, dengan suara yang tidak pernah terdengar dalam ruang rapat atau konferensi pers. Cara dirinya sendiri tidak benar-benar ingin dilepaskan oleh Gu Won

"Aku ingin pingsan..." kalimat itu berputar pelan namun jelas diingatan Do Hee. Bagaimana ia setengah memohon, setengah menyerah...

Dan Gu Won berhenti.

Once AgainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang