Selamat membaca~
***
Penthouse mewah yang biasanya sepi, kini sudah ramai bahkan sebelum matahari naik. Pagi-pagi buta, Park Bo Kyu beserta beberapa asisten dan ajudan Gu Won sudah duduk dengan kaku di ruang tengah penthouse itu. Seolah mereka siap untuk diajak berperang kapan saja. Terlebih di tengah menteri mereka harus melaksanakan agenda krusial seperti saat ini.
Hari ini hingga beberapa hari ke depan Gu Won harus pergi ke Busan. Ada proyek strategis—pelabuhan pintar dan pusat teknologi maritim, yang menjadi kartu as dalam agenda masa depan kementeriannya. Jarak yang cukup jauh dan rentetan pertemuan tertutup di sana membuat tim harus berangkat saat Seoul bahkan belum benar-benar terbangun.
Do Hee yang entah mengapa merasa tidak tenang sepanjang malam, mau tidak mau ikut terjaga. Ia menolak untuk hanya berdiam diri di balik selimut sementara suaminya bersiap untuk berperang di lapangan.
Saat Gu Won masih sibuk di dalam kamar, Do Hee sudah turun ke dapur. Ia telah mengganti baju tidurnya dengan gaun rumahan berbahan rajut halus berwarna krem yang memeluk tubuhnya dengan elegan, tampilan yang tetap terlihat mahal dan berkelas meski hanya untuk di dalam rumah.
"Noan, biarkan kami yang menyelesaikannya." bisik Eun So yang terkejut melihat Do Hee sudah sibuk di depan pantry bersama beberapa pelayan lain.
"Tidak apa-apa, Eonnie. Bantu aku siapkan porsi ekstra," jawab Do Hee tenang, tangannya cekatan menata roti panggang artisan dan salad segar. "Sekretaris Park dan para ajudan itu pasti belum sempat sarapan karena harus bersiap sepagi ini. Siapkan meja panjang di area makan samping."
Setengah jam kemudian, aroma mentega gurih dan kopi kental memenuhi ruangan. Do Hee mengarahkan pelayan dengan otoritas alaminya untuk menyiapkan meja makan. Ia kemudian melangkah ke ruang keluarga yang membuat Bo Kyu dan para ajudan berdiri—siap siaga.
"Sekretaris Park, ajak yang lain untuk sarapan dulu. Perjalanan menuju Busan itu cukup lama, jangan sampai konsentrasi kalian terganggu karena perut kosong."
Bo Kyu mengerjap. "Ah, terima kasih, Nona. Kau tidak perlu repot-repot sebenarnya."
"Aku tidak repot, cepat pergi ke ruang makan. Kalian tidak punya banyak waktu, kan?" ujar Do Hee kemudian menyuruh para laki-laki itu pergi ke ruang makan.
Saat Bo Kyu dan para ajudan baru duduk di kursi meja makan, Gu Won turun dari lantai dua. Gu Won melangkah menuju ruang dengan setelan kerja yang kaku namun fungsional—kemeja putih bersih dengan dasi hitam yang terikat rapi dan celana kain gelap yang disetrika sempurna. Ia tampak sangat siap, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di ruang makan—orang-orangnya tampak memakan sarapan dengan tenang.
Gu Won mendekat, tatapannya lekat pada Do Hee. "Kau tidak perlu melakukan ini." ujar Gu Won pelan, suaranya sedikit serak.
Do Hee tidak menjawab langsung. Ia justru melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadi Gu Won hingga jarak mereka menyempit secara drastis. Tangan Do Hee terangkat, jemarinya yang lentik meraih kerah kemeja Gu Won, merapikan lipatannya yang sebenarnya sudah rapi tanpa cela.
"Tidak ada yang repot," bisik Do Hee, suaranya sengaja direndahkan agar hanya terdengar oleh pria di depannya. Matanya menatap tajam ke mata cokelat Gu Won yang dalam. "Beraktinglah dengan baik. Di sini banyak asisten dan ajudanmu. Mereka harus percaya bahwa aku adalah istri yang sangat perhatian. Itu tujuan kita, kan?"
Gu Won terdiam, ia bisa merasakan ujung jemari Do Hee yang dingin menyentuh kulit lehernya. Ia membiarkan istrinya melakukan itu selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Once Again
RomanceDo Hee hanya ingin hidup tenang setelah banyak hal yang terjadi di hidupnya. Tapi, sayangnya, takdir berkata lain karena ia harus menghadapi satu-satunya pilihan yang bisa ia ambil di mana ia harus memilih untuk menikah dengan laki-laki yang sangat...
