Omega YunMeng 23

214 46 14
                                        

Satu tahun kemudian ....

Satu tahun telah berlalu, banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu tersebut. Salah satunya mengenai pernikahan antara Wei Wuxian dan Lan Wangji, begitu pula kedamaian sekte Gusu terguncang dengan kehadiran Wei Wuxian si biang rusuh tersebut.

Tak jarang para murid dan tetua mengeluh pusing dan kurang tidur apalagi mereka yang tinggal di dekat kediaman Lan Wangji, namun meskipun sering mendengar keluhan, Lan Qiren tidak bisa berbuat apa-apa karena bagaimanapun Wei Wuxian kini menjadi menantunya, bukan hanya murid luar sekte setidaknya ia berpesan agar tidak membuat onar di luar dan menjelekkan nama Guru yang kini disandingnya.

Namun, berbanding terbalik saat tengah malam yang sunyi. Meskipun ia terlihat bersemangat dan masih sering berbuat usil, saat malam menghampiri, ia kerap kali terdiam memikirkan mengenai masa depan yang tak bisa ia dapatkan.

Ya, seorang anak.

Ia sangat sadar sejak awal ia tidak bisa memiliki anak dengan Lan Wangji. Ia baru saja memikirkan, Lan Wangji yang merupakan seorang Alpha dominan mungkin menyesal karena memilih menikah dengan seorang beta pria yang tidak bisa memiliki anak dibandingkan dengan omega diluar sana. Meskipun Sedari awal Lan Wangji tidak pernah memaksa untuk memiliki seorang anak darinya tetap saja rasa sepi dan khawatir masih terlintas di pikirannya.

Apalagi mimpi yang beberapa hari ini mengganggunya. Di mimpinya, terlihat Lan Wangji sedang menggendong seorang anak laki-laki berusia 2 tahun yang manggilnya papa.

"Wei Ying? Kenapa kau terbangun? Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Lan Wangji dengan nada yang lembut dan sedikit berat karena baru saja terbangun.

Lan Wangji memang type orang yang mudah terbangun saat merasakan pergerakan di samping tempat tidurnya, apalagi seringkali ia melihat istrinya termenung sambil menghadap langit-langit kamar mereka.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir apakah kau menyesal menikah denganku? Karena kemungkinan kita tidak akan bisa memiliki seorang anak? Aku hanya takut kau menyesal dan meninggalkanku," jawab Wei Wuxian mengungkapkan segala keraguannya.

"Wei Ying. Dengarkan aku. Aku sangat sadar saat aku memutuskan untuk melamarmu di hadapan pemimpin sekte Jiang. Aku tahu bahwa mungkin aku tidak bisa memiliki anak darimu, aku bisa melawan takdir agar aku bisa memilikimu. Jika ada sedikitpun keraguanku padamu, aku tidak akan mengambil keputusan sedari awal," 'Apalagi saat aku mengetahui jika mate ku adalah Jiang Cheng.' ujar Lan Wangi mencoba menenangkan istrinya sambil melanjutkan kata terakhirnya didalam hati.


*****


Di pagi hari yang tenang, di Gusu Lan tiba-tiba saja menjadi ramai. Bukan karena kelakuan Wei Wuxian seperti biasa, namun karena tiba-tiba saja pemimpin sekte yaitu Lan Xichen membawa seorang anak kecil yang diperkirakan berusia dibawah dua tahun di pelukannnya ke dalam sekte.

Hal itu membuat mereka bertanya-tanya siapa anak kecil tersebut? Pakaiannya yang bersih, badannya yang sedikit gempal, matanya yang cerah jelas tidak menunjukan jika anak itu anak terlantar terlihat dari bagaimana terawatnya anak itu. Apalagi terlihat sang anak yang sangat dekat dengan Lan Xichen membuat beberapa orang berspekulasi jika anak itu adalah anak dari pemimpin mereka yang sengaja disembunyikan.

Namun meskipun banyak spekulasi yang beredar, mereka tidak berani bergosip maupun sekedar bertanya, mereka hanya bisa memendam rasa penasaran mereka terhadap anak yang berada dipelukan Lan Xichen berharap ada yang menjelaskan.

Wei Wuxian yang mendengar berita tersebut tentu saja tidak akan tinggal diam. Ia langsung mencari kakak iparnya tersebut untuk melihat secara langsung wajah anak laki-laki yang katanya mirip dengan kakak iparnya itu.

Setelah beberapa kali bertanya ke murid yang melintas, ia akhirnya mengetahui jika Lan Xichen sedang berada di aula dengan para tetua.

Saat sudah sampai di aula yang dimaksud, tanpa tahu malu ia langsung masuk. Saat ia baru saja membuka pintu, telinganya langsung menangkap pembicaraan yang membuatnya terkejut setengah mati.

"Mau tidak mau kita harus membujuk Wei Wuxian agar ia bisa menerima anak ini," ujar salah satu penatua di sana.

"Tunggu. Apa maksud kalian? Kenapa aku harus mau tidak mau menerima anak tersebut?" tanya Wei Wuxian dengan suara menggelegar di aula yang kedap suara itu. Suara Wei Wuxian mengejutkan semua orang yang berada di dalam terlebih Lan Wangji yang saat ini tengah menggendong anak kecil yang tadi ramai diperbincangkan di luar.

Sesaat mereka terdiam sebelum Lan Xichen kembali mengambil alih keadaan dan meminta Wei Wuxian untuk duduk dan mendengarkan penjelasannya.

"Adik Wei, tenanglah. Biar kami menjelaskan maksudnya," ujarnya tenang. Wei Wuxian yang melihat ketenangan dan bujukan dari kakak iparnya itu memilih untuk mengikuti perkataan Lan Xichen dan memilih duduk di dekat suaminya sambil memperhatikan wajah anak itu.

Wajah yang tidak asing. Ada rasa aneh tersendiri melihat wajah tersebut. Memang terlihat seperti wajah dari Lan bersaudara, namun ada campuran kemiripan dibagian pipi dan mata dari seseorang yang tak asing, hatinya berdegup kencang dan gelisah tanpa alasan yang jelas.

"Adik Wei, anak ini adalah A-Yuan. Sebelumnya ia tinggal di salah satu desa kecil wilayah Gusu, aku mengenalnya sejak baru lahir. Sejak lahir ayah dan ibunya telah berpisah, dan saat ini ibunya terpaksa meninggalkan A-Yuan karena urusan mendesak untuk kurun waktu yang tidak pasti. Aku sendiri tidak bisa meninggalkan anak kecil ini sendirian. Jadi aku memilih untuk membawanya kemari," jelas Lan Xichen yang setengah berisi kebenaran dan setengahnya lagi berisi kebohongan.

"Lalu jika kau yang membawanya, kenapa harus Lan Zhan yang mengasuhnya? Kenapa tidak kakak ipar sendiri?" tanya Wei Wuxian heran.

"Tidak bisa." Tegas salah satu penatua. Kemudian ditimpali dengan penatua lainnya.

"Lan Xichen belum pernah menikah. Ia tidak bisa mengadopsi anak tersebut karena syarat yang ada dimana seorang anak hanya boleh diadopsi oleh pasangan yang sudah menikah atau orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memiliki keturunan. Lan Xichen tidak memenuhi kedua syarat itu. Tapi kalian berdua memenuhi syarat tersebut sebagai pasangan yang sudah menikah dan tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan keturunan."

Mendengar perkataan salah satu tetua tersebut Wei Wuxian tersentak saat diingatkan kembali bahwa pernikahannya dengan Lan Wangji kemungkinan besar bisa memutuskan garis keturunan dari Lan Wangji, hal tersebut yang menjadi alasan dulu pernikahan mereka di tentang.

Lan Wangji yang melihat istrinya terdiam mungkin tersinggung mendengar perkataan tersebut langsung mengambil sikap dengan memberikan tatapan tajam kepada penatua tersebut dan berusaha memberikan ketenangan dengan mengusap pelan punggung Wei Wuxian lembut.

"Jangan pernah memaksa atau menyudutkan Wei Ying tentang hal itu. Mengadopsi A-Yuan hanya akan dilakukan saat Wei Ying setuju. Jika Wei Ying menolak kita akan mencoba cara lain. Mungkin-"

Belum sempat kalimat Lan Wangji selesai, Wei Wuxian langsung memotong. "Baiklah. Kami akan mengadopsinya."


****

Berapa lama nih kalian nungguin? Semoga nggak bosen yah. Kalau kalian ngerasa cerita ini mulai ngebosenin dan nggak worth it buat kalian tungguin it's ok aku sadar. Tapi kalau menurut kalian cerita ini masih layak makasih yah karena udah nungguin. Jangan lupa vote dan comment yah.

𝓣𝓱𝓪𝓪

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Omega Yunmeng Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang