Pada akhirnya, hidup mungkin hanya sebuah paragraf panjang yang terlalu sering dibaca ulang, mencari makna di antara kalimat yang belum sempat dipahami.
Penuh dengan hari-hari yang terasa seperti catatan kaki- kecil, nyaris tak dianggap, namun diam-diam menjelaskan mengapa langkah pernah begitu berat.
Ada halaman yang terlewat tanpa sempat diberi garis bawah, ada kalimat yang selesai dibaca namun tak benar-benar dimengerti, ada pula bagian yang sengaja dilipat agar tak perlu kembali dibaca.
Pun dengan harap yang berkali-kali digarisbawahi, meski kenyataan selalu mencoba menghapusnya perlahan; menyisakan bekas yang samar, seperti kata yang pernah diberi tanda lalu berangsur-angsur pudar di antara paragraf yang pernah dibaca.
Mungkin memang tak perlu memahami seluruh isi halaman. Beberapa kalimat boleh saja lewat tanpa sempat menemukan makna. Catatan kaki pun tak harus selalu menjelaskan mengapa sesuatu pernah diutarakan.
Barangkali cukup menemukan ide pokok dari segala yang telah dilewati, menemukan sedikit bagian yang masih bisa disebut inti.
Cukup memahami bahwa lelah pernah ada, bahwa beberapa jalan memang menuntun tuk hilang arah, dan beberapa halaman harus dilewati meski belum tau apa yang sedang dicari.
Terkadang cukup menjadi catatan kaki atau kalimat pendek, yang suatu hari sudah tak perlu dibaca lagi.
Biarlah cerita tetap berjalan meski belum menemukan kesimpulan. sebab selama masih ada halaman yang terbuka, masih ada kalimat yang belum selesai, dan harap yang diam-diam digarisbawahi.
Pada akhirnya, kesimpulan belum benar-benar dituliskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Masih Sama
PoetryAku buruk dalam menulis. Aku buruk dalam bercerita. Aku buruk dalam berekspresi. Aku buruk, setidaknya dalam merindu. Sekedar coretan tak penting. Semestaku semestamu, kusemogai kau bahagia selalu.
