Special. After Marriage III

121 15 38
                                        

"Papa Haruu!!!"

Teriakan si manis dari belakang pekarangan rumah Haruto Kaesang Dirgantara dan Jeongwoo Giandra Angkasa mencairkan suasana pagi mereka yang begitu tentram, saat ini jam masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas. Dengan tanpa baju hanya memakai bokser di atas lutut. Bahkan matanya masih belum siap terbuka sepenuhnya, pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu segera turun dari kasur dan berlari ke arah si manis berada.

Jdugh

Ia meringis saat jempol kakinya tersandung pangkalan meja kayu jati. Tapi bukan itu kekhawatirannya dengan tanpa memikirkan rasa sakitnya, ia berlari mendekat ke arah sang istri yang terus berteriak memanggil namanya.

"Kenapa sayang? Maaf Mas baru bangun,"

"Perut aku sakit hiks. Bentar lagi kayaknya dede mau keluar," Giandra menatapnya berkaca-kaca dengan cairan di kakinya yang sudah mengalir, tanda ketubannya sudah pecah.

Kantuknya langsung menghilang. Haruto segera mengais sang istri ala bridal style dan membawanya ke depan teras rumah mereka, untung saja semalam ia memiliki firasat untuk menyiapkan baju-baju bayi serta perlengkapan mereka dibawa ke rumah sakit.

"Ayo kita ke rumah sakit. Mas udah siapin semua perlengkapan kita," Dirgantara berkata lembut menenangkan.

"Ih tapi aku lupa gak nyiram taman depan, Mas. Kamu siap-siap aja sana! Masa ke rumah sakit cuma pake boxer! Mau ngegodain suster cantik di rumah sakit ya!" Tuduh si manis tiba-tiba membuat sang suami tidak paham.

Siapa yang ingin menggoda? Batinnya.

"Dek. Masa iya nyiram waktu kondisi kamu kayak gini? Nanti aja itu sama Pak Rudi, sekarang ayo cepet kita ke rumah sakit. Makasih juga ingetin mas pake baju, Mas panik banget waktu liat ketuban kamu pecah."

"Iya tapi bentar dulu, aku lupa belum selesai ngejemur sama ngasih makan si Prukutut. Mas ih! Itu gimana meja dapur kotor aku juga belum tilep-hmpp!"

Haruto meraup bibir sang istri gemas. Kesabarannya kembali di permainkan, ia sangat khawatir beberapa hari ini bahkan sampai tidak tidur karena setiap malam ia harus memijit Jeongwoo yang selalu mengeluh pinggangnya pegal, tapi sekarang yang dikhawatirkan tidak sadar keadaan.

"Kamu lupa kita bisa panggil orang? Dengerin mas. Kamu mau ngelahirin, jangan sampai mas harus kasar sama kamu," tegas Dirgantara

Barulah saat itu Giandra tersadarkan saat merasa sakit pada perutnya yang sebentar lagi akan melahirkan.

"Hiks maafin. K-kita ke rumah sakit," sesal Jeongwoo disamping sambil mengusap perutnya.

Setelah memasukan semua barang dan mengunci pintu rumah, keduanya sudah duduk di dalam mobil.

Dari ujung matanya Haruto bisa lihat Jeongwoo masih belum memakai seatbelt, dengan tanpa mengucapkan sekatah kata pun ia memakaikannya pada si manis dan kembali fokus mengeluarkan mobil mereka dari pekarangan rumah. Akhirnya dengan sedikit drama ini keduanya berhasil keluar dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

Sesekali Giandra melirik sang suami yang berusaha mengontrol emosinya agar redam.

"Papa Haru maafin hiks jangan marah eung, dede pengen di elus ini, cakit bangett pelut mamanya." Rengeknya dengan tangis Jeongwoo yang mulai pecah saat menyadari sang suami mengabaikan dirinya.

Haruto menghela nafas berat kantung matanya sudah tebal, akhirnya jemari kurus dan panjang sebelah kirinya ia sempatkan untuk mengelus perut buncit Jeongwoo pertanda ia tidak marah sesekali pada sang istri, sesekali ia memijat punggung Jeongwoo.

"Mas panik jeongwoo. Aku mohon jangan dulu bercanda di situasi genting ini, aku gak mau kehilangan kamu sama bayi kecil kita." Ujar dirgantara meluapkan isi hatinya.

Mas Har%Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang