Fausta dan Farrel berjalan kearah parkiran dengan beriringan, sesekali mereka tertawa karena lelucon yang dilontarkan Farrel atau karena foto komuk yang berhasil Farrel abadikan di kameranya. "Anjir coba lo zoom, Rel!" perintah Fausta pada Farrel yang tengah menunjukan aib salah satu teman sekelasnya.
Atas perintah Fausta cowok itu beneran nge zoom fotonya sampai deket banget, alhasil mereka berdua tertawa bersamaan melihat aib temannya makin tambah aib sesudah di zoom.
"Nih, lo yang bawa mobil," Fausta memberikan kunci mobil pada Farrel yang masih asik berjalan sambil memainkan kameranya.
"Apaan, masa gue terus." Protesnya tidak terima.
"Tadi pagi, 'kan, udah gue, nah sekarang lo gentian." Kata Fausta sambil tersenyum kalem.
"Malesin lu mah," kata Farrel sambil tersenyum pada seorang cewek yang tersenyum padanya, "Ya udah, gue yang bawa," ucapnya pasrah sambil menggantungkan kameranya di lehernya.
"Gitu dong. Itu baru Kakak gue," ucap Fausta sambil meletakan tangan kirinya di bahu Farrel.
--
"Gila, ya. Mereka emang cowok paling ganteng di sekolah kita. Udah gitu kembar lagi. Beruntung banget salah satu dari mereka bisa sekelas sama kita. Ya, nggak, Var?" Arin menyenggol lengan Avari dengan sikunya.
"Mungkin maksud lo kembar tengil," ucap Avari sambil melihat Farrel dan Fausta yang sedang berjalan bersisihan menuju parkiran.
"Tengil-tengil gitu lo juga pernah deket kali sama salah satu dari mereka. Atau mungkin deket sama dua-duanya?" kata Arin bingung, "Kalo sama Fausta, kan, lo deket kayak pasangan-pasangan gitu, kalo sama Farrel kaya sahabat—"
"Berisik deh," ucap Avari kesal sambil duduk di pinggir lapangan futsal, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Mamanya untuk meminta jemput. Namun, nomor Mamanya sedang sibuk sehingga tidak dapat dihubungi, "Anjir, ini nyokap gue ngapain, sih?" gerutunya kesal lalu menoleh kearah Arin, "Lo bawa hape nggak, Rin?"
Arin menoleh sambil menggeleng, "Bawa, tapi nggak ada pulsa. Tadi gue di telepon bukan nelepon,"
"Oh, ya udah," kata Avari pasrah, pasrah karena ia tahu ini sudah pertanda, pertanda bahwa ia akan jalan sampai ke rumahnya.
"Eh, gue balik duluan ya, Var, Nyokap gue udah jemput," kata Arin sambil menepuk bahu Avari, "Duluan," lalu Arin berlalu keluar gerbang.
Avari hanya mendengus malas, ia langsung berdiri saat melihat Keiza melintas di depannya, "Kei, Kei!" panggilnya sambil berjalan cepat menghampiri Keiza.
Keiza menoleh saat mendengar seruan orang dari belakangnya, "Kenapa?" tanyanya bingung.
"Lo pulang sama siapa?" Tanya Avari tanpa basa-basi.
"Di anterin Kenan," ucapnya sambil tersenyum miring, "Lo?" tambahnya, "Lo kenapa belom pulang?"
Avari melirik sekilas ponselnya lalu kembali melihat wajah Keiza, "Nggak ada yang jemput. Nyokap nggak bisa dihubungin. Anjir ya ini gue pulang gimana," dumal Avari sambil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, "Mana udah sore lagi,"
"Makanya move on terus cari pacar," celetuk Keiza.
"Pacar mulu lo. Lo sendiri, kan, tau gue baru aja ditikung."
Keiza tertawa, "Ya udah gue balik duluan, Kenan udah nungguin soalnya. Nanti di jalan biar gue BBM Tante Meta," ucap Keiza sambil melihat Kenan sudah berada di gerbang.
Mata Avari membulat, "Seriusan lo mau BBM Nyokap gue?!"
Keiza mengangguk, "Iya, duluan, ya, Var!" setelah menepuk bahu Avari dua kali Keiza langsung ngeloyor pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cream
Teen FictionIni semua tentang kisah Farrel dan Fausta, si kembar identik yang populer dan tajir pesona. Farrel, cowok tampan dengan hobi fotografi itu memang sangat mengagumkan, namun sikapnya yang selengean dan tengil membuat gadis incarannya selalu kesal saat...
