Delapan

15.6K 1K 16
                                        

Tidak sama dengan hari-hari biasanya Clara sudah terlihat rapi dengan baju bebasnya di pagi hari, rambut coklat ikalnya sudah teringat rapi model ekor kuda. Ia sedang duduk manis di kursi teras menunggu ayah dan ibunya keluar dari rumah.

"Hello, anak manis," sapa Oscar yang baru saja turun dari mobil.

"Hello, Kakek Oscar. Kau siap mengantar kami hari ini?" tanya Clara antusias.

"Of course. So, how do feel? Hari pertama sekolah?"

Clara terlihat berpikir sejenak, lalu mata indahnya terlihat semakin berbinar-binar. "Tentu saja aku sangat menantikannya, Kakek. Aku akan bertemu dengan teman baru. Sounds great!!!"

Oscar ikut merasakan kebahagian gadis kecil di depannya itu. Hal ini memang sudah sangat lama dinantikannya.

"Aku sudah bilang kalau aku akan membawa mobil sendiri!!" suara marah Fay terdengar dari arah pintu. Kemudian tubuhnya muncul dari balik pintu dengan wajah kesal yang langsung berubah ketika melihat Clara yang sedang menatapnya. "Kau sudah lama menunggu, sayang?" tanyanya.

Clara sedikit mengernyit ketika melihat penampilan ibunya yang lain hari ini. Dress merah span selutut, mencetak tubuh indahnya yang mungil.

"You are the hottest Mom ever," gumam Clara.

Fay tergelak mendengar ucapan putrinya. "Dari mana kau tahu kata-kata itu, Clara?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.

"Aku melihatnya di TV," jawab Clara sekenanya. "Oh...hello Dad good morning." Clara langsung berlari memeluk ayahnya, tanpa memperdulikan wajah ceria ibunya yang kembali menjadi kesal.

"Hari ini kau pergi ke sekolah dengan mobil Mom," sergah Fay cepat. Ia tidak mau kesempatan paginya direbut oleh Ivar.

"Daddy?" tanya Clara menatap keduanya sedikit bingung.

"Daddy-mu akan berangkat dengan mobilnya menyusul kita," jelas Fay dengan wajah sedikit membujuk, ia tidak ingin kalah.

Clara menatap lekat ke arah ayahnya, seperti meminta bersetujuan, karena dari tadi pria itu hanya berdiri diam menyaksikan percakapan mereka. Dan hal itu membuat Fay memutar matanya benci, kapan putrinya akan segera mendengarkan permintaannya, tanpa harus meminta kepastian dari pria sialan itu.

Ivar tersenyum lembut pada tatapan mata hijau itu. "Kau tidak ingin mencoba mobil baru Mom? Mobilnya hampir sama dengan mobil Paman Febian. Kau suka kan?"

"Oke...oke...aku akan ikut mobil Mom," seru Clara riang yang sudah berlari ke sisi ibunya, menyisakan ruang kosong pada genggaman ayahnya.

Ivar merasakan perasaan kosong yang tiba-tiba itu, ketika tangan mungil dalam genggamannya menghilang digantikan oleh ruang hampa bersamaan dengan isi hatinya. Ini hanya baru permulaan, namun ia sudah mulai merasakan sesak, ketika Fay lebih memilih berjalan sendiri dengan putri mereka, tanpanya.

Di lain pihak, Fay merasakan sedikit kemenangan atas pilihan putrinya. Walupun ia tahu itu semua adalah campur tangan dari Ivar, namun tetap saja ia harus merayakan kemenangan awalnya itu. Karena secara perlahan ia akan mengambil hati putrinya dan tentu saja dengan-masih-bantuan Ivar, setelah semua beres maka pindah dari sini adalah harga mutlak yang harus dilakukannya. Meninggalkan berjuta-juta kepedihannya di sini, bersama orang-orang yang sudah merenggut semua kebahagiannya.

Senyum merekah masih terlukis indah di kedua bibir merah terang Fay, tanpa pamit terlebih dahulu ia lalu menarik tangan putrinya meninggalkan Ivar yang masih berdiri terdiam. Berbicara dengan pria itu lagi, pasti akan membuat mood paginya berantakan.

Ivar menatap punggung kedua orang yang dicintainya dengan hampa, melihat mereka pergi tanpa kata seperti itu membuatnya semakin sesak, dadanya seperti tertimbun berton-ton kepedihan. Suatu hari hal yang paling ditakutkannya pasti akan terjadi, kedua punggung itu pergi menjauh dari hidupnya, menyisakan ruang hampa dan kepedihan baru dalam relung hatinya.

PAIN ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang