Chapter 11

844 97 0
                                        

Akhirnya, setelah beberapa jam bel istirahat berbunyi juga. Sungguh, aku hampir saja mati kelaparan. Ditambah lagi pelajaran yang membuatku mengantuk. Ya, memang, tadi pagi aku belum sempat bersarapan, karena tadi pagi aku telat bangun.

Aku merapihkan alat-alat tulisku yang masih berserakan diatas meja. Setelah selesai, dengan segera aku keluar kelas untuk menuju kantin.

"Ariana..." panggil seseorang.

Aku yang tengah berjalan di koridor sekolah pun menoleh ke asal suara. Ternyata yang memanggilku adalah Mrs. Pamela. Dengan segera aku menghampirinya.

"Ada apa, Miss?" tanyaku.

"Kamu mau kemana?" Mrs.Pamela malah balik bertanya.

Aku berdehem, "Aku mau ke kantin, Miss."

"Nggak lagi buru-buru banget, kan?" tanyanya.

"Nggak sih, Miss." aku mengerutkan dahi, "Memangnya kenapa, Miss?"

"Kamu mau bantu Miss nggak?"

"Bantu apa, Miss?"

"Bantu simpan buku-buku ini ke dalam gudang." kata Mrs.Pamela sambil menunjukkan tiga buah buku yang di bawanya.

Aku tekejut, "G-gudang...Miss?"

Mrs. Pamela mengangguk. "Can you help me?"

Duh, gimana ini, udah perut keroncongan banget. Eh, sekarang malah disuruh simpan buku ke gudang? Gudang kan gelap banget, terus juga menurut isu yang beredar gudang itu angker banget. Aku takut. Tapi, masa aku menolak permintaan guru? Kan nggak sopan banget.

"Ariana, bagaimana? Can you help me?" tanya Mrs. Pamela sekali lagi.

Aku tersenyum tipis, "Ok, Miss."

"Oh, are you sure, Ari?"

No, Miss. I just kidding! "Yeah, tentu, Miss!"

"Baiklah, ini buku-bukunya!" Mrs. Pamela memberikan buku-buku itu padaku. Aku menerimanya, cukup berat. Erhhh. "Thanks, Ariana." ujar Mrs. Pamela lalu pergi.

Akupun menghembuskan nafas lalu pergi.

***

Sekarang aku sedang berada di depan pintu gudang. Sungguh, aku ragu sekali untuk masuk. Ralat, bukan ragu, tapi...scary.

Dengan seluruh keberanianku yang tinggal tersisa dua puluh persen aku membuka pintu gudang lalu masuk ke dalamnya.

Bulu kudukku semua berdiri. Merinding. Disini gelap sekali, sungguh aku tidak berbohong. Aku gemetaran, kemana aku harus menaruh buku-buku ini. Mmm, lebih baik aku taruh di meja tua itu saja.

Baru saja aku hendak menaruh buku-buku itu, namun aku merasakan ada langkah kaki yang mendekat, langkah kakiku pun menjadi terhenti. Mendekat...mendekat...mendekat...dan....

Hap! Sebuah tangan mendarat dibahuku. Aku langsung menjatuhkan buku-buku itu sambil berteriak dan menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku ingin menangis sekarang juga!

"Hei, buka mata lo!"

"Ari, ini gue...Justin!"

Justin? Aku melihat orang atau apapun itu dari sela-sela jariku. Huft, ya, itu betul-betul Justin. Aku membuka kedua mataku. "Justin, lo ngagetin gue aja sih.."

"Siapa juga yang ngagetin lo, lo aja yang terlalu parno!" kata Justin, memang benar, aku yang terlalu berfikir mistis.

"Habisnya disini gelap banget, gue jadi takut!"

Justin tertawa kecil, "Dasar penakut!" Justin menjulurkan lidah.

Aku manyun sambil memutar bola mata, "Tapi...lo kok bisa disini juga?"

Justin berdehem, "Ya, tadi gue liat lo jalan, yaudah gue ikutin aja, eh nggak tahunya lo ke gudang." kata Justin

"Oh." jawabku.

"Lagian, lo ngapain sih sendirian ke gudang?" tanya Justin.

Aku menghela nafas, lalu membenahi buku-buku yang tadi aku jatuhkan. "Nih, gue disuruh nyimpen ini di gudang sama Miss Pamela. Kan crazy banget ya. Gue pengen nolak tapi kan yang nyuruh guru, padahal gue takut banget ke gudang. Kan yang gue denger-denger digudang ini tuh angker..."

Justin menggelengkan kepala, "Lo mah mikirnya yang nggak-nggak aja sih!"

Aku manyun. "Tapi kan emang begitu yang gue denger!" kataku, "Eh, tapi lo ngapain ngikutin gue? Hayo ngapain?" godaku.

"Apaan sih lo, gue ngikutin lo cuma mau ngajak lo ke kantin. Mau nggak?" tawar Justin.

"Oh, ok, gue juga laper banget dari tadi."

"Yaudah yuk?" ajak Justin.

"Bentar, gue simpen bukunya dulu." kataku, aku pun menyimpan buku-buku itu di atas meja tua yang terdapat digudang ini.

***

Aku berjalan bersama Justin menuju kantin, namun di tengah perjalanan, aku dan Justin bertemu dengan Ricky yang sedang berjalan berlawanan arah dengan aku dan Justin. Sebenarnya aku tidak mau berhenti, namun Justin malah berhenti berjalan.

"Hai, Ky!" sapa Justin.

Ricky melihatku, tetap dengan tatapannya yang dulu. "Hai, Just, Ri!" balas sapa Ricky, aku hanya diam tak menggubris.

"Lo mau kemana, Ky?" tanya Justin.

Justin ngapain sih sok basa-basi banget sama tuh orang. Nggak penting banget.

"Gue mau ke kelas." kata Ricky

Aku berdecak, "Justin, ayo buruan, gue laper nih!"

Justin menatapku heran, mungkin dia heran dengan sikap dinginku pada Ricky.

"Yaudah, Ky. Gue sama Ariana duluan ya!" kata Justin.

"Ayo!" aku menarik tangan Justin.

***

Aku duduk dengan Justin di salah satu meja kantin, duduknya sih di bangku ya bukan di meja. Yeah, you know lah.

"Lo kenapa, Jutik?" tanya Justin.

Aku mengerutkan dahi, "Kenapa apanya?"

"Kenapa kayaknya tadi lo dingin banget sama si Ricky? Bukannya lo temenan deket ya sama dia." kata Justin.

Aku menghela nafas. Benar kan dugaanku, Justin pasti akan menanyakan hal itu. Sudah dapat ku tebak!

"Ri..."

"Hm?" aku tersadar dari lamunanku.

Justin berdecak, "Malah ngelamun. Lo kenapa sih?"

Aku menggeleng "Nggak. Udah ah, gue lapar! Gue mau pesen makan dulu. Lo mau pesen apa?"

"Sama kayak lo aja."

Akupun pergi untuk memesan makanan.

FEELING [Jariana]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang