#TIGA BELAS

10.7K 414 0
                                        


"Nindy!"

"hah??" Jawabku seadanya.

Suara Febri itu memnyadarkanku dari lamunanku.

Kejadian tadi sore itu benar-benar membuatku seperti orang bodoh yang selalu memikirkannya.

Aku ingat betul tatapan itu. Itu tatapan mata punya Dimas. Tapi apa mungkin? Ya mungkin saja. Toh selama ini ketika aku belum mengenal Dimas, Dimas selalu muncul di tempat yang tak terduga.

Tadi laki-laki yang menabraku hingga membuat ponsel ku yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Mati. tidak bisa nyalah dan retak. Kini ponsel itu aku letakan di atas magic jer. Berharap akan menyalah kembali setelah kering.

Kembali lagi ke laki-laki itu. Tanpa dosa dia langsung pergi tanpa meminta maaf. Ais, ingin sekali rasa aku membuat manusia itu menjadi perkedel.

Dasar manusia tidak punya etika dan sopan santun.

"NINDY!!!!!" Suara Febri kini berteriak.

"hah?? Kenapa?" Bodoh Nindy, bodoh.

"lu ini kenapa sih?"

"anniya" jawabku menggunakan bahasa Korea. Tidak.

"udah, tuh lanjut nontonnya" aku mengalihkan pembicaraan. Terlihat sekali muka jengkel Febri itu.

Saat ini aku dan Febri sedang menonton drama korea HEALER. Di laptop ku. Kata Febri sih bagus. Bergendre action, romence, comedy gitu.

Tanpa aku sadari episode satu selesai. Tapi, Wait. Pemeran utama pria itu.

"Feb, itu yang maen siapa cowok nya?" Aku bertanya pada Febri.

"oh, itu. Park Boong Soo kalo nama aslinya ngga tau dah gw. Kenapa emang?" Febri menjawab. Dari raut wajah febri terlihat bingung.

"Park Boong Soo" Tanyaku memastikan.

"iya, kenapa sih?" Tanya Febri semakin heran.

Aku berfikir sejenak. Park Boong Soo Akh, i remember.

Tatapan matanya sangat mirip dengan Dimas dan orang yang menabrakku tadi. Apakah sepasaran itu tatapan yang dipunyai dimas? Aihss, ini membuat aku bingung. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

"hey,, kenapa sih lu? Kayanya ada yang ngebebanin pikiran lu ya?" Tanya Febri yang kini sudah berpindah duduk di depanku.

Semenjak Juli kuliah di bandung dang Okta di semarang. Aku tidak pernah cerita kepada siapa pun tentang Dimas. Termasuk febri ya walaupun kami sudah dekat. Jadi, selama itu juga aku hanya memikirkan dan merasakan sendiri saja. Komunikasi aku,Juli dan Okta pun susah. Ya tau sendiri lah. Tugas nunpuk jadi ngga sempet.

"Nindy ayo ceritalah! please! gw tau ada sesuatu yang memberatkan pikiran lu. Ayolah!" Febri memelas dengan muka penasarannya.

"tapi ini agak aneh."

"ya ngga papa. Ceritain aja."

Aku menghela nafas berat. Lalu bercerita kepada Febri dari awal aku bertemu Dimas hingga saat tadi sore. Tanpa terkecuali.

"terus sekarang gimana?" Tanya f
Febri.

"ngga tau. Kami ngga kontek-kontekan. Kami ngga tau nomor telepon atau medsos masing-masing. " jawabku jujur.

"terus perasaan lu sama dia sekarang gimana?"

"ngga tau. Gw bingung." Jawabku lemah. Aku menundukan kepala.

"gw tau lu sebenernya juga punya rasa sama dia dari awal." Aku kaget mendengar ucapan Febri. Punya rasa dari awal? Aku menatap Febri dengan tatapan bingung.

MARRIAGE WITH YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang