"Ndy, udah siap?" Tanya Febri saat ia masuk ke ruang tempat ku berdandan.
"Insyallah,feb."Aku tersenyum melihat diriku dikaca.
Cantik sih. Tapi jujur aku tak suka. Kini aku telah di balut oleh kebaya warna putih dan kain songket yang susah untuk di ajak jalan serta konde yang membuat berat kepalaku ini. Dan yang paling aku tidak suka ini adalah make up yang entah tebal nya berapa centi dan melati yang menghias konde ini. Sunggu aku paling tidak suka dengan bau melati.
Pasti bingung deh. Kok tiba-tiba pake kebaya. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku dengan dimas.
Akhirnya aku menikah juga hehehe. Setelah 6 bulan lalu dimas resmi melamarku di jogja kepada kedua orang tuaku dan sepakat bahwa pernikahan akan diadakan hari ini.
Jangan berfikir selama 6 bulan ini aku tidak ada masalah. Kak Sase. Ya, kak Sase sampai sekarang sepertinya masih belum menerima aku akan menjadi adik iparnya. Dia selalu menatapku dengan tatapan sinis dan merendahkan.
Dimas dan Adi sih selalu meyakinkan ku dan selalu mendukungku.
Oh ya, selama 6 bulan ini aku juga ikut program diet loh. Hasil cukup memuaskan. Dari berat badan 65 kg sekarang aku menjadi 50 kg. Pas bukan. Sesuai dengan tinggiku yang hanya 160 cm.
Sebenernya aku diet karena kesal dengan ucapan kak Sase waktu itu. Dia bilang kalau badanku ini kaya boneka beruang. Dimas sempet ngga setuju kalau aku diet. Dengan alasan yang banyak. Kak Rendy juga. Sama kaya Dimas. Takut malah kalau diet magh ku akan semakin parah.
Tapi, coba lihat sekarang. Malah maghku sudah tak kambuh lagi semenjak aku diet hehehe. Thank you om Deddy :*.
"Nindy ayo!" Panggil Febri menyadarkanku dari lamunanku.
"Hah? Iya... iya... " jawabku bodoh.
Aku berdiri. Menggandeng tangan Febri. Melangkah dengan pasti ke pelaminan.
Disana terlihat dimas dengan setelan baju berwarna putih berserta kopeah di kepalanya. Ganteng. Banget malah. Aku tersenyum melihatnya.
Selain Dimas disana ada bapak penghulu, ayah, daddy dan entah siapa lagi itu aku tak tahu.
Perlahan tapi pasti. Aku melangkah mendekat. Dimas berdiri. Tersenyum manis banget. Mengajak ku duduk di kursi sebelahnya.
Ya Allah sekarang aku sudah resmi menyadang status sebagi istri dari seorang Dimas Nugroho di umur ku yang masih 20 tahun.
Dimas memasangkan cincin di jari manisku. Pas. Aku juga memasangkan cincin di jari manisnya.
Aku mencium tangan Dimas dengan hormat. Dimas berbisik kepadaku.
"Terimakasih Nindy Andriana"
Entah kenapa. Kata sesimple itu terasa sangat mengharukan rasa-rasanya aku ingin menagis.
Tak lama. Dimas mengecup keningku. Kedua pipiku. Hidungku dan bibirku. Sontak aku kaget.
Benar-benar gesrek ini manusia. Di depan orang banyak brani-braninya dia nyium di bibir. iya sih tau udah sah. Tapi ngga gitu juga kali.
Aku mencubit pinggang Dimas. Bukannya kesakitan ini orang malah cengengesan.
Ya walaupun aku sedikit malu atas tingkah lakunya. Tapi aku sungguh bahagia.
***
"Ndy, udah kelar belom?" Tanya dimas saat aku sedang merapihkan koper.
"Kamu bukanya bantuin biar cepert kelar, malah tidur-tiduran disitu." Gerutuku kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIAGE WITH YOU
Novela JuvenilBaru pertama kali ini Nindy Andriana bertemu dengan seseorang yang selalu memenuhi pikirannya. Seseorang yang belum pernah ia,kenal. Tiba-tiba memintanya untuk menikah. Dimas Nugroho, laki-laki itu seketika membuat dunia Nindy berubah.
