Part 4 : The Reason

1.5K 132 4
                                        

Sooyeon tertidur beberapa saat setelah Kyuhyun menenangkan pikiran gadis itu. Tangannya masih bergerak membelai lembut surai cokelat bergelombang milik gadisnya. Gadisnya? Entahlah, ia hanya merasa bahwa Sooyeon adalah miliknya.

Kyuhyun menggeser posisinya agar dapat mendekap erat tubuh gadis itu. Membenamkannya pada dada bidang miliknya. Kepala gadis itu bergerak kesana kemari mencari tempat yang nyaman pada dada pria itu. Kyuhyun kembali membelai rambut Sooyeon lembut. Berharap waktu berhenti disini dan berharap semua kekhawatirannya akan masa depan gadis dipelukannya ini lenyap. Sesuatu yang buruk, akan terjadi dimasa depan. Kyuhyun membacanya.

Tetapi biarlah saat ini Kyuhyun mendekap erat gadisnya. Mencoba menyesapi feromon gadis itu. Lee Sooyeon. Gadisnya, miliknya.

***

Sinar matahari mulai beranjak masuk melewati celah horden, mengusik tidur seorang gadis yang kembali bergelung dalam selimutnya. Namun belum sampai satu menit, tiba-tiba tubuh dan selimutnya terangkat dalam gendongan seseorang.

Gadis itu mengkerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan bias cahaya yang mulai masuk kedalam retina matanya. Matanya menangkap sosok pria yang akhir-akhir ini selalu menemaninya tidur ketika malam.

CHO KYUHYUN..

Ya. Pria itulah yang kini selalu berada disisinya ketika malam dan akan berubah menjadi seorang CEO yang dingin dan berkuasa ketika siang. Sudah 3 bulan sejak kedatangan Kyuhyun ke apartemennya untuk menjelaskan siapa diri pria itu dan apa yang membuat model cantik bernama Park Shin Young mati mengenaskan dalam ruangan pria itu. Sejak saat itulah Kyuhyun selalu mendatanginya setiap malam. Memastikan bahwa gadisnya dalam keadaan baik dan tidur dalam rasa nyaman dan aman. Gadisnya? Lagi-lagi seperti itu.

Sooyeon masih ada dalam gendongan pria itu. Ia hanya menyunggingkan senyumnya ketika pria itu meletakkannya didalam bathup. Mengambil selimut yang membungkus tubuh rampingnya dan membuangnya sembarangan. Kemudian tangan pria itu menyusuri lekuk wajah dan..

Chu~~

Benda kenyal nan dingin mendarat mulus dikening gadis itu. Kyuhyun tersenyum sesaat setelah Sooyeon membuka matanya. Mereka saling berpandangan, menyalurkan rasa kekaguman satu sama lain.

"Cepat mandi. Kau bau sekali."

Sooyeon mendesis, namun bibirnya melengkung menunjukkan senyuman gelinya atas perlakuan Kyuhyun yang dengan seenak jidatnya menggendong Sooyeon dan meletakkannya dalam bathup.

***

"Lee Hyukjae, temui aku sekarang juga."

"....."

"Hmm.. dan bawa juga file-file dan informasi yang telah kau temukan."

"....."

"Oke." Kyuhyun melempar asal benda pipih itu ketika pembicaraannya dengan Hyukjae berakhir. Matanya membulat sempurna mendapati asisten pribadi sekaligus gadisnya duduk dihadapannya dengan wajah ditekuk. Spontan Kyuhyun tersenyum walau tak lama kemudian ia mengubah air mukanya kembali seperti sedia kala. Dingin.

"Ada apa Nona Lee? Apa kau tidak mengetuk pintu sebelumnya?" Tanya Kyuhyun.

"Sepertinya anda terlalu sibuk berurusan dengan pasangan homo mu sehingga anda tak mendengar suara ketukan pintu, Presdir." Kyuhyun tersenyum, lagi.

Kyuhyun berdiri dari kursi kebesarannya, menghampiri Sooyeon yang masih menatapnya dalam. Sejurus kemudian Kyuhyun mendaratkan bibir dinginnya di bibir gadis itu. Sooyeon terperanjat. Seperti mengingat sesuatu namun entah, semuanya begitu samar dalam ingatannya.

"Ada apa, Yeon?" Nama panggilan dari Kyuhyun untuk gadisnya. Okey cukup dengan kata gadisnya, Kyu. Kau terlalu egois untuk menganggapnya sebagai gadismu. Tapi kata-kata apa lagi yang harus ia deskripsikan untuk gadis dihadapannya ini? Jujur dalam hatinya ia menginginkan wanita ini. Namun tak satupun dari mereka yang mengutarakan apa yang mereka rasakan.

Ya, alasan kuat untuk Kyuhyun tetap menjabat di posisinya sebagai CEO ini adalah gadis itu. Lee Sooyeon.

'Neo, nae goya.. (Kau, milikku)'

"Hmm.. presdir."

"Ya.."

"A-ada surat untukmu. Tapi tidak ada nama pengirimnya."

Dahi pria itu sedikit terangkat, membentuk kerutan-kerutan kecil. Tangannya terulur mengambil amplop yang ada ditangan gadis yang kini sedang menatapnya ragu.

"Damn.."

"Apa isi suratnya, Presdir?"

"Yeon-ah.. kau harus bersembunyi. Berhenti bekerja disini dan tinggallah ditempatku. Mereka-"

"Ada apa sebenarnya, Cho. Ceritakan semuanya sebelum kau menyuruhku ini dan itu." Gadis itu memanggilnya tanpa embel-embel presdir.

"Mereka, Black Blood.. Mereka tahu tentangmu. Mereka mulai berburu untuk menemukan dirimu dan berencana untuk membunuhmu. Mereka ingin menghancurkanku. Mereka-" Perkataan Kyuhyun terhenti ketika sebuah jari telunjuk mendarat halus dipermukaan bibirnya.

"Ssttttt... Cho, dengar. Aku akan pergi bersamamu, tapi sebelumnya jelaskan mengapa kau sepanik ini? Apa yang Black Blood inginkan dariku?"

"Yeon, aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya saat ini. Tolong ikuti perkataanku, ini demi keselamatanmu, sayang."

Sooyeon terdiam. Bukan karena nyawanya yang terancam, namun panggilan 'sayang' yang terucap dari bibir dingin pria itu membuatnya terpaku. Apakah ia mencintai gadis itu? Mencintai Sooyeon?

"Yeon..!! Kau melamun. Ayo cepat kita pergi dari sini."

"Tapi meetingmu, Cho?"

"Hyukjae bisa mengatasinya. Cepat peluk aku."

"APAA..??" Kyuhyun menarik tangan gadis itu. Membawanya dalam dekapan dingin namun menenangkan, bagi Sooyeon tentunya.

"Tutup matamu dan jangan coba-coba untuk membuka matamu sebelum aku meminta."

Buuusssshhhhhh....

***

Di lain tempat, seorang wanita dengan dress merah yang melekat pas ditubuhnya, berdiri memandang keluar jendela sambil tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan senyuman mengejek.

Ya, wanita itu terus menerus tersenyum sesekali menggoyang-goyangkan gelas wine yang ia pegang. Cairan merah pekat yang ada dalam gelas tersebut tandas dalam sekali teguk. Tak lama gema tawa terdengar disitu.

"Tak ada yang bisa merebutnya. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Cho Kyuhyun, aku datang."

"Sepertinya kau begitu bahagia, Qian. Ahh.. jelas saja, karna sebentar lagi kau akan bertemu dengan pria tercintamu itu kan?"

"Kau benar, Casey. Terima kasih atas kerja sama yang kau tawarkan padaku."

"Tak perlu sungkan. Kau dapatkan yang kau mau dan aku dapatkan apa yang aku mau. Adil bukan?" Casey tersenyum. Qian yang melihat hal itu pun ikut tersenyum. Sekali lagi, bukan senyum kebahagiaan melainkan senyum penuh kemenangan. Sungguh mengerikan.

The Blood Roses [Hiatus]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang