Tungkai Jongin terhenti saat melihat Seulgi berada dalam pelukan Sehun, membelakanginya. Mata Sehun terarah jelas padanya, begitu tajam namun tidak lantas membuatnya mundur. Dia tahu bahwa akhir-akhir ini Seulgi merasa tertekan. Karena itu saat tadi mendengar suara Soojung di telpon, dia langsung bergegas menemui Seulgi. Ternyata benar, Seulgi makin tertekan dan akhirnya mengakui semua pada Sehun. Jongin melangkah lagi, makin dekat dan bisa dilihat Sehun menatapnya makin tajam.
"Sehun-ah... apa kau diam karena marah? Hiks... maafkan aku, Sehun-ah... hiks... aku bersalah... hiks... aku tidak pantas dimaafkan... hiks... hiks..." suara tangisan Seulgi terdengar pilu, begitu mengiris hatinya. Jongin mempercepat langkahnya agar Seulgi cepat berada dalam jangkauan tangannya. Dia akan merebut Seulgi dari pelukan Sehun, saat itu juga.
"Berhenti di sana, jangan mendekat!" tangan Sehun terarah pada Jongin, begitu juga tatapan tajamnya. Tapi Jongin tak peduli. Dia tidak mampu mendengar tangis Seulgi lebih keras lagi. "Ku bilang berhenti!" volume suara Sehun naik, membuat Jongin—dan dia yakin Seulgi juga—tersentak. "Dia masih milikku. Kau tidak berhak."
Berjarak tak sampai satu meter, Jongin berhenti. Dilihatnya pelukan Seulgi melonggar dan gadis itu mendongakkan wajahnya.
"Sehun-ah...."
Tapi Sehun tidak menatap Seulgi sama sekali, terlalu sibuk untuk melempar tatapan benci pada Jongin.
"Ini bukan salah Seulgi. Aku yang memaksanya bersamaku. Jangan buat dia menangis," ucap Jongin dengan suara tegas, tenang, tanpa mencerminkan rasa takut sedikit pun.
Perlahan kepala Seulgi menoleh ke belakang. Dia terkejut melihat Jongin sudah berdiri di sana.
"Sayang, aku akan mengantarmu pulang," Sehun merangkul Seulgi menjauh dari Jongin.
"Seulgi-ah," kaki Jongin hendak mencegah itu terjadi, tapi entah kenapa rasanya kaku saat melihat Seulgi tidak melakukan penolakan atas tindakan Sehun. Tapi gadis itu sempat menoleh dan menatapnya sendu, seolah mengisyaratkan permintaan maaf.
Jongin mematung, tidak melakukan apa pun lagi dan hanya menatap mereka menjauh. Jadi akhirnya harus begini. Benar begini, sesuai yang dia perkirakan. Dia tahu jika Seulgi mengakui semuanya pada Sehun, posisinya justru akan semakin sulit. Karena Sehun tidak mungkin melepaskan Seulgi begitu saja. Sejujurnya hati Jongin terasa sakit melihat Seulgi kian jauh dari jangkauannya. Tapi haruskan dia menyerah sekarang? Secepat ini?
***
Besoknya dan besoknya lagi, Seulgi tidak membalas pesan atau pun mengangkat telponnya. Hal yang sama terjadi lagi. Tidak, kali ini Seulgi tidak mungkin mencoba untuk meninggalkannya lagi. Setidaknya itu yang Jongin yakini. Dia percaya Seulgi akan mengingat ucapannya untuk tidak akan meninggalkannya. Dan malam itu, saat Seulgi menoleh padanya, dia tahu hati Seulgi masih miliknya. Dengan keyakinan itulah malam ini dia mendatangi apartemen Seulgi. Selain untuk memastikan dia baik-baik saja, dia juga ingin tahu bagaimana hubungannya dengan Sehun. Sebut saja dia punya sisi jahat yang menginginkan hubungan mereka berakhir. Ya, Jongin berharap Sehun mengakhiri hubungan mereka—atau Seulgi sendiri yang mengakhirinya. Mungkinkah terjadi?
Mobil Jongin berhasil mendapatkan spot kosong di parkiran gedung apartemen. Dia tidak memberi tahu Seulgi sama sekali bahwa dia akan datang malam ini. Baru saja kakinya menapak keluar dari mobil, ada mobil lain yang baru saja tiba dan Jongin sangat mengenal mobil itu. Milik Oh Sehun. Rupanya mereka memiliki tujuan yang sama malam ini. Entah kenapa Jongin tidak menggunakan kesempatan untuk bisa tiba di apartemen Seulgi lebih dulu, melainkan menunggu Sehun turun dari mobilnya. Dan saat itu terjadi, tatapan mereka bertemu.
"Haruskah kita membicarakannya dulu?" Sehun yang membuka suara pertama kali setelah beberapa detik hanya saling tatap—tatapan yang menyerupai duel.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet
Fanfiction"Love sucks. Sometimes it feels good. Sometimes it's just another way to bleed."