Choi, Kwon, Dong :: 7 [ Escape Pt.1]

562 94 15
                                        

"Sampai kapan kau mau dirumah, hm?" Tanya Eomma ketika aku duduk santai didepan sofa sambil menonton televisi.

"Eomma, aku ini masih sakit."

"Jangan banyak alasan, pokoknya besok kau harus sekolah." Ucap Eomma dan berlalu meninggalkanku untuk pergi ke toko bakery.

Aku menghela nafasku panjang dan memejamkan mataku erat. Sudah hampir tiga hari aku keluar dari rumah sakit setelah seminggu aku dirawat disana. Total, sudah sepuluh hari aku absen dari sekolah.

Kehidupanku masih sama seperti biasa, hanya saja ada sesuatu dalam diriku yang hilang.

Aish, apaan lagi sih? Bukannya kemarin dan kemarin-kemarinnya lagi aku bertekad untuk melupakan mereka semua? Mereka itu hanya orang asing yang datang ke kehidupanku hanya untuk mengacaukan kehidupanku.

Beberapa kali mereka masih datang ke rumah sakit untuk menjengukku, namun aku meminta Eomma untuk tidak menerima mereka. Alasanku simple, aku hanya tidak ingin melihat pembohong dan pengkhianat seperti mereka dihadapanku.

Walaupun Eomma tidak mengucapkan satu hal apapun, aku tahu Eomma cukup ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dan beberapa, uhm, teman-temanku itu. Tapi Eomma sama sekali tidak bertanya, mungkin Eomma ingin aku memecahkan masalah ini sendiri.

Aku meraih ponselku dan mendapati beberapa notif dari mereka. Juga beberapa panggilan dari Sunbae, Oppa, Taeyang dan beberapa nomor tak dikenal, tapi aku yakin pasti mereka.

Siapa lagi?

Aku melempas ponselku asal keatas sofa.

Lalu, besok kalau aku masuk sekolah. Bagaimana aku harus bertingkah didepan mereka?

****

"Nanti pulang, Eomma jemput." Kata Eomma ketika kami sampai didepan pintu gerbang sekolahku.

"Eomma, kepalaku tiba-tiba pusing lagi. Aky tidak usah sekolah, yah." Ujarku sambil memegang kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak sakit.

"Jangan acting. Kau ini, mau menipu Eomma-mu sendiri." Kata Eomma sambil mengangkat tangannya ke udara seakan ingin memukulku. Aku memejamkan mataku erat sambil menyilangkan kedua tanganku didepan.

"Eomma tidak tahu apa yang terjadi dengan kau dan beberapa temanmu itu. Tapi kau sudah beranjak dewasa, dan sudah seharusnya kalian bisa menyelesaikannya sendiri. Jadi, Eomma tidak ingin ikut campur." Kata Eomma membuat aku membuka mataku perlahan dan terdiam sejenak.

"Sudah sana!" Usirnya galak.

"Arra! Hari ini ke sekolah." Ucapku kesal lalu membuka pintu mobil dan dengan langkah berat masuk ke dalam pekarangan sekolah.

"Jangan lupa, pulang sekolah Eomma jemput! Belajar yang benar!" Teriak Eomma sebelum pada akhirnya benar-benar pergi.

Aku mengepalkan tanganku disisi tubuhku. Aku bisa merasakan jantungku berdetak dua kali lebih cepat, entah karena apa.

"Kau sudah sehat?" Tanya orang itu membuat langkahku terhenti.

Tap. Tap. Tap.

Ditengah kesunyian pagi hari, aku bisa mendengar pantulan bola basket beradu dengan tanah begitu memekakan telingaku. Aku bahkan tak sanggup untuk membalikan tubuhku, hanya untuk bertatap muka dengannya.

Dengan cepat, aku memaksakan kakiku yang sebenarnya masih sedikit sakit untuk berlari. Menjauh dari siapapun, terutama mereka. Walaupun hanya salah satu diantara mereka.

"Kenapa? Kenapa kau menghindar dariku?" Ucapnya ketika ia mencekal tanganku dan menarikku. Membuat aku menabrak dada bidangnya.

Aku mendorong tubuhnya pelan membuat kontak fisik kami terputus. Aku menunduk dalam, tanpa mampu melihat wajah apalagi matanya.

Talk! [BigBang Imagines]Stories to obsess over. Discover now