Setelah hari itu, tidak ada yang pernah tahu dimana Jiyong berada. Dia seakan ditelan bumi, dan akulah yang menyebabkan dirinya seperti itu. Aku mengacak - acak makan siangku pelan, bahkan Yujin yang mengetahui kegundahanku belaangan ini hanya bisa diam dan selalu memberiku semangat walaupun tidak mengubah apapun. Aku tetap merasa bersalah atas apa yang aku lakukan pada Jiyong.
Seungri mengajakku untuk pergi makan bersamanya sepulang sekolah, namun aku tolak.
Atau Yujin yang mengajakku untuk melakukan me time, namun juga ku tolak.
Taeyang yang menawarkan dirinya yang baru seminggu di Australia untuk kembali ke Seoul, namun aku tolak dengan keras.
Apalagi Seunghyun Oppa yang tengah dimabuk asmara dengan Sarang Eonnie, hampir rela membatalkan dating mereka hanya karena aku. Namun aku tolak juga.
Aku tidak bisa membuat mereka semua selalu berada disisiku kapanpun aku butuh, mereka semua punya kepentingan lain dan aku tidak boleh memaksakan kehendakku dan egois. Aku harus menyelesaikan masalahku ini sendiri, untuk saat ini.
Langit kelabu tak menyurutkan langkah kakiku untuk terus melangkah, bahkan ketika rintik hujan mulai membasahi tubuhku dengan perlahan aku membiarkannya. Menikmati sensasi saat hujan menyentuh permukaan kulitku.
Dingin.
Mungkin itu yang dialami Jiyong selama ini. Ia mengatakan kalau perhatian orangtuanya selama ini hanya tercurahkan untuk Kwon Yul, kakaknya. Juga aku yang mencintai kakaknya dalam diam bahkan hingga hari itu aku baru mengetahui bahwa kakaknya meninggal karena aku. Cinta pertama juga cinta masa kecilku. Aku tahu, menunggu dan mencintai seseorang yang tidak pasti keberadaannya dimana adalah hal yang sia - sia. Namun untuk satu hal, aku melakukannya. Kwon Yul, dia adalah penyelamatku. Dia orang yang membuat aku lebih mensyukuri hidup, bahkan hingga hari ini pun aku masih bisa bernafas karenanya.
Tubuhku sudah kuyup, namun aku tidak berniat untuk berteduh. Masa bodoh kalau nantinya aku akan terkena demam saat pulang nanti, aku hanya ingin merasakan sebagian kecil hal dialami Jiyong sepanjang hidupnya.
Kesepian.
Aku tidak tahu, perasaan nyaman dan aman ketika berada di sekitar Jiyong apa itu namanya cinta? Atau hanya rasa simpati? Semuanya masih sangat membingungkan bagiku. Karena selama ini fokusku hanya pada satu bocah laki-laki yang menolongku saat itu, mencoba mencari tahu segalanya tentangnya walau sampai beberapa hari belakangan nihil. Hingga takdir mempertemukanku pada sosok Kwon Jiyong yang seakan membuka pandora box dalam hidupku. Semuanya terasa jelas sekarang, walau beberapa masih ada yang terasa buram.
Contohnya, perasaanku.
Aku menghentikan langkahku, menengadahkan wajahku untuk menatap langit kelabu itu sekali lagi. Lalu, entah mengapa aku memilih untuk menoleh ke kanan. Ditengah guyuran hujan deras, aku bisa melihat sosok siluet yang menatap kearahku namun ia segera berbalik ketika aku menatapnya. Jantungku seakam berhenri berdetak.
Itu, Jiyong!
Dia pria yang selama ini membuat tidurku tak nyenyak. Setiap dini hari selalu terbangun karena terus memikirkan keadannya. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia makan dengan baik? Apa dia tidak kesepian?
Aku, mengkhawatirkannya.
Kakiku kubiarkan melangkah kemanapun ia ingin. Aku pasti tidak mungkinsalah lihat, itu Kwon Jiyong. Menggenakan jaket berwarna biru donker, celana panjang dan sepatu kets warna putih yang sering ia pakai setiap ke sekolah.
"Jiyong! Kwon Jiyong!" Teriakku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru, namun aku tidak bisa menemukan sosoknya dimanapun. Lututku jatuh ke tanah ketika kurasakan diriku tak lagi bisa menopang bobot tubuhku sendiri. Membiarkan diriku dalam posisi berlutut dan menangis bersama hujan.
YOU ARE READING
Talk! [BigBang Imagines]
Fanfiction⚫COMPLETE⚫ Gimana ceritanya ketika kamu dideketin para member bigbang dengan berbagai cara? Gak tanggung-tanggung lima cowo ganteng sekaligus dalam satu kurun waktu yang berbeda. Pada akhirnya kamu harus memilih. Member mana yang bakal jadi cowok ka...
![Talk! [BigBang Imagines]](https://img.wattpad.com/cover/58269105-64-k502651.jpg)