Four. Truth or Dare

186 4 0
                                        

Di antara sinar matahari yang berusaha menembus lapisan ozon, langit masih malu untuk memamerkan birunya. Gadis berseragam putih abu-abu dengan pakaian ketat dan rok di atas lutut itu mendesah. Rambutnya yang dicat dengan warna ungu serta warna biru yang senada dengan langit dengan ujungnya yang sedikit bergelombang menari karena sapaan angin pagi.

Ia mendesah berat.

Namanya Kesya Jovita Anggara. Gadis itu, aku. Gadis naif yang akan menceritakan sepenggal kisahnya.

Aku. Bukan siapa-siapa selain seorang siswi SMA yang senang melakukan aksi gila. Garis bawah 'bukan mauku'. Aku memiliki beberapa teman kelas yang sama gilanya sepertiku. Di antara kami, jika ada yang mendapat nilai di bawah 8, maka dia akan menerima sanksi.

Selama dua bulan sekolah di GIS, aku sudah 3 kali dihukum oleh guru karena ulah yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan. Pertama, memakai lipstik ungu tebal ke sekolah. Kedua, memakai seragam siswa laki-laki. Tiga, ya ini. Mengecat rambut hitamku dengan dua warna yang aku benci. Biru langit dan ungu.

Aku sudah menerima hukumanku kemarin. Membersihkan seluruh toilet sekolah.

Aku selalu berangkat pagi ke sekolah. Alasannya hanya satu. Aku. Membenci. Rumah.

Langkahku terasa ringan menuju kelas yang ada di lantai dua. Beberapa classmate-ku sudah datang dan bermain truth or dare.

"Widih, ini dia princess kita," sambut Dion, cowok yang terkenal paling rusuh di kelas. Aku mengangkat sebelah alis sambil meletakkan tasku di atas meja. Anak-anak yang lain menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.

"Ada apa? Hidung gue jadi dua?"

Dion dan Tasya tertawa heboh. Sedangkan yang lain cuma nyengir kuda.

"So, loe beneran mutusin si Farel?" tanya Dion dengan mimik tidak percaya. Padahal, dia yang menantangku untuk menaklukkan kapten tim basket itu.

"Kan udah seminggu," ucapku datar. "Perjanjiannya seminggu, kan?" lanjut ku.

"Parah loe, Kes!" ucap Tasya dengan kepala yang digelengkan.

"Kan gue cuma ngikutin maunya Dion. Nah sekarang, mana 500 ribu gue?"

Dion tertawa sambil mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah dengan gambar sang proklamator_katanya_ yang ikut nebeng pada uang itu.

Aku tersenyum miring.

"Loe mau apain uang itu, Kes? Loe kan nggak kekurangan uang?" tanya Tasya dengan kening mengernyit.

Aku mengangkat pundak. Aku memang tidak butuh uang itu. Yang aku butuhkan, hanya sebuah alasan untuk menyakiti cowok-cowok yang belagu.

Jangan tanya mantanku berapa, tidak terhitung. Aku melancarkan aksi play girl ku semenjak kelas 6 SD. Beberapa karena taruhan, beberapa karena masuk jeratanku. Beberapa karena mereka mendatangiku untuk kusakiti dengan sukarela. Aku senang menyakiti mereka. Dan aku punya alasan yang sangat konyol, kenapa melakukan itu.

"Gue ikut main, ya," tawarku pada Dion, Tasya, dan teman-teman lainnya yang main truth or dare.

Kami mulai bermain truth or dare dengan menggunakan botol minuman. Aturan permainan kami sedikit berbeda dari permainan truth or dare yang lazim dilakukan. Jadi permainan ini dilakukan dengan memutar botol. Yang mendapat bagian bawah botol harus menjawab pertanyaan dengan jujur atau melakukan tantangan dari orang yang mendapat bagian atas botol. Tergantung yang dapat bagian bawah memilih tantangan atau jujur.

Permainan dimulai. Botol berputar.
Aku tersenyum jahat karena mendapat bagian atas botol dan Gilang bagian bawahnya.

Ia menatapku yang tersenyum licik dengan tatapan frustasi.

Love to SkyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang