Rethan meraung kesal, menjambak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ada seseorang yang mengetahui kalau Rethan pemakai? Ketergantungan dengan obat itu lebih tepatnya.
Meski tebakan Moli meleset jauh, tetap saja Rethan tidak suka wilayah tutorialnya dijajah oleh orang lain, terlebih Moli, cewek kemaren sore yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
"Kakak mau cokelat?" suara menggemaskan itu sayup-sayup ditengkap indra Rethan.
Rethan berbalik, memaksakan senyum pada Abel yang sudah menatapnya lebih dulu. Mempersilahkan Abel duduk di kursi panjang berwarna putih, disebelahnya.
"Ini cokelat dari Randy, Abel gak tahu pasti dia ngasih ini sebagai pertanda apa," Abel bergumam lugu. "Tapi kalau di sekolah Abel, biasanya kalau cewek dikasih cokelat sama cowok, berarti cowoknya lagi jatuh cinta."
Mata Abel berkilat jenaka, sontak membuat tawa Rethan berderai renyah dengan mudah.
"Oh, ya?" Rethan menanggapi. "Jadi Randy suka sama Abel?"
"Abel rasa, iya." jawabnya mantap, tanpa ragu-ragu.
"Jadi, Abel juga suka sama Randy?" Rethan mulai kepo, mengorek informasi sampai telinga Abel memerah.
"Sebenarnya Abel gak suka Randy," sesaat kedua bola matanya menerawang. "Tapi cokelat ini enak, Abel jadi suka sama Randy."
Dasar anak-anak.
"Abel bukan anak-anak lagi, andai Kak Rethan mau ceramahi Abel. Abel udah dewasa, Cuma belum tinggi." Abel bersungut marah, seolah tahu arti tatapan Rethan.
"Kakak gak bilang kamu anak-anak, kamu memang sudah dewasa, cantik pula. Randy pasti makin sayang."
Mata Abel berkilat, "Benarkah?"
"Ya."
"Lalu Abel harus memberikan apa untuk Randy sebagai balasannya? Cokelat, bunga, mainan, atau kaset PS terbaru? Ah tapi, Randy nggak suka main PS, dia senang main bola kaki."
Rethan lagi-lagi menyemburkan tawanya, antara geli dan takjub melihat kepesatan pola pikiran Abel. Dan Rethan cukup bersyukur, setidaknya dengan ocehan polos Abel, Rethan bisa sedikit menenangkan diri dari segala kegundahan yang sedari tadi mencekiknya kuat.
"Kalau begitu, Abel ikut bermain bola bersama Randy aja. Randy pasti senang." Rethan memberi saran.
"Tapi Abel gak bisa main bola."
Mata Rethan mengerling nakal, "Abel bisa meminta Randy untuk mengajarkan Abel bermain bola--"
"Dengan begitu Abel dan Randy bisa dekat, ya? Woah, ide Kak Rethan cemerlang! Kami pasti akan terlihat serasi!" Abel bersorak girang, memperhatikan cokelat yang tinggal setengah digenggamannya.
Rethan jadi ikut-ikut senang. Abel yang sedang jatuh cinta memang terlihat sangat menggemaskan, yang sejujurnya hal ini bukan kali pertama bagi Abel.
"Omong-omong, Kak Rethan pernah memberi cokelat kepada perempuan yang Kakak sukai?"
Mendadak pertanyaan Abel membuat Rethan tercenung, dan secara tidak langsung memaksa ingatan Rethan untuk melihat masa lalu. Dimana Rethan dan gadis itu masih bersama, masih merajut tali kasih, dan masih berpegang teguh pada komitmen, sampai pada akhirnya mereka menyerah pada keadaan.
Status mereka hilang sekejap, meninggalkan luka-luka yang membekas, yang tidak ingin Rethan ingat-ingat lagi. Tapi, sejatinya, kenangan yang mati-matian kita kubur justru mati-matian pula menghantui pikiran kita. Menerjang balik.
Dan yeah, Rethan rutin memberikan bahkan membuatkan cokelat untuk gadis yang Rethan tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.
"Pernah," Rethan menjawab pelan, nyaris berbisik, sarat akan kerinduan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Les Misèrables
Teen FictionAda begitu banyak orang, yang kita temui dalam hidup. Bermacam-macam; yang datang, yang pergi, yang sekadar singgah, yang masih menetap, yang dijatuhi cinta, yang menjatuhi cinta, yang datang lalu pergi lagi, yang pergi lalu ingin kembali lagi, yan...