Typo bertebaran
Aku terkurung disebuah kamar yang tidak aku ketahui ini kamar siapa atau ini rumah siapa? Saat bangkit dari tidurku dan berusaha untuk duduk, aku merasakan sakit disekujur tubuhku. Peluh membasahiku, Kakiku terdapat luka yang cukup banyak dan sekarang sudah diperban dan di obati, lenganku terdapat beberapa luka seperti sayatan kecil tapi juga sudah diperban, entah oleh siapa. Kepalaku sakit, bahkan aku seperti mengalami vertigo.
Aku mencoba untuk berjalan, kemanapun yang terpenting aku keluar dari kamar ini. Aku bisa merasakan jika kamar ini terlalu luas, bahkan mungkin luasnya melebihi rumahku, keren bukan? Jalanku tak tentu arah, bahkan beberapa kali aku terjatuh duduk karena kakiku sangat sakit ataupun aku tersandung oleh kakiku sendiri dan itu membuat aku meringis, bahkan untuk berdiri saja aku harus memegang sesuatu agar menopang tubuhku. Aku mencoba mencari saklar lampu, aku meraba - raba dinding, saat menemukannya aku langsung menyalakannya dan ruangan ini membuatku terkejut sekaligus aku terpesona oleh kamar ini. Warna ruangan ini didominasi oleh warna hitam dan abu - abu, ranjang yang berukuran king size, dibagian sisi kanan dan kiri ranjang terdapat nakas, ada lemari yang berisi buku - buku yang berada di bagian kiri bersebelahan dengan jendela yang cukup besar tertutup tirai shiffon berwarna hitam, dibagian kaki ranjang terdapat sofa kecil dan didepannya berhadapan dengan Televisi berukuran sedang. Dibagian kanan terdapat pintu yang berbahan kaca, mungkin pintu kamar mandi. Pikirku
Aku melihat sebuah pintu kayu, aku mencoba membukanya dan ternyata tidak terkunci. Saat keluar aku dikejutkan lagi, aku melihat desain interior rumah ini bergaya klasik. Ah mungkin bukan rumah, tepatnya ini seperti istana. Entahlah aku tidak memikirkan itu.
Kamar yang aku tempati berada beberapa meter dengan tangga disampingnya. Aku mencoba berjalan perlahan, karena kakiku masih sangat nyeri dan perlahan aku menuruni anak tangga seraya berpegangan dengan besi tangga itu. Setelah turun, aku bingung harus melewati jalan yang mana? Karena aku melihat dua lorong dan Samar - samar aku mendengar suara orang - orang di bagian lorong sebelah kanan lalu aku mengikuti suara itu. Aku menyusuri sebuah lorong panjang dengan langkah terseok - seok, di sepanjang sisi lorong itu ada jendela kaca. Aku melihat pemandangan yang indah dan menyejukkan, pemandangan hutan dengan kabut yang menyelimutinya dan dibagian sisi hutan itu terdapat gunung yang diselimuti oleh es, sebenarnya dimana aku? Disini indah sekali. Pikirku
Aku berhenti berjalan saat aku sampai disebuah pintu besar. Aku mencoba membukanya dengan tenaga kecil milikku, dan kalian tahu? Ternyata berhasil! Walaupun harus sedikit berusaha. Saat masuk ke dalamnya, aku melihat, entahlah ini seperti dapur dan banyak orang yang bekerja disitu dengan pakaian yang sama. Apakah itu pelayan? Siapa yang mempunyai rumah ini? Aku tidak peduli lebih baik aku bertanya kepada mereka, saat menghampiri mereka, aku mencium bau lezat berbagai makanan yang menbuatku lapar. Lalu aku mencoba bertanya kepada wanita paruh baya.
" Maaf, Nyonya. Apakah kau tahu aku berada dimana? Dan oh ya, bisakah aku meminta segelas air putih, mungkin dan roti? Aku lapar. " ucapku saat aku menyentuh pundaknya, ia terperanjat kaget. Hey! Apa aku monster?
" Oh! Maafkan, aku Luna. Aku sangat minta maaf, aku akan segera membawakan dirimu makanan, Luna. Tapi seharusnya anda tidak keluar dari kamar, kau bisa memanggilku jika kau membutuhkan sesuatu, Luna. Sekali lagi maafkan aku. " jawabnya dengan ketakutan. Hey! Aku hanya meminta makanan, dan bertanya aku ada dimana bukan? Kenapa aku tidak boleh keluar dari kamar itu? Siapa pemilik rumah ini? Dan Siapa Luna? Lalu kenapa aku dipanggil Luna? Namaku Daniella! Batinku memberontak
" Tapi.. Maaf, aku berada dimana, Nyonya? Dan namaku adalah Daniella bukan Luna. Aku hanya bertanya, kenapa kau ketakutan? " tanyaku lagi, ini aneh.
" Aku tidak bisa memberi tahumu, Luna. Dan aku mohon jangan panggil aku Nyonya, aku pelayanmu, Luna. " eh apa dia bilang? Pelayanku? Sebenarnya dimana aku?!
" T- tapi, a- aku-- "
" Sudahlah, Luna. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu lagi, aku takut kau dimarahi oleh Alpha. Dan pasti jika Alpha melihatmu keluar dari kamar dalam keadaan kau masih belum terlalu sehat, seluruh orang yang tinggal disini, dimarahi olehnya. Aku mohon padamu, Luna " pinta nya
" Tapi, aku kan hanya bertanya dan.. Apa kau mendengarku? " ucapanku terhenti saat aku merasa aku diabaikan olehnya dan saat melihat ekspresi wanita didepan ku berubah pucat saat dia melihat yang mungkin ada seseorang yang ada dibelakang, aku mengikuti tatapannya dan menoleh kesana. Oh kalian tahu? Aku terpaku, jantungku berdetak sangat kencang layaknya sehabis lari marathon puluhan kilometer, dan keringat dingin keluar dari pelipisku. Entah mengapa saat aku melihatnya, aku merasakan perasaan aneh, takut, senang, waspada, dan merasa terintimidasi. Dan kalian tahu lagi? Dia pria shirtless di hadapanku ini, sama seperti di mimpiku walaupun dalam mimpi itu aku tidak bisa melihat wajahnya dan aku tidak tahu, tapi dari segi bentuk tubuhnya orang yang sekarang ada dihadapannku dan di dalam mimpiku itu sama. Tapi yang membedakannya adalah dia mempunyai tattoo di dada sebelah kanannya, yaitu namaku Daniella.
' Hey! Kenapa ada namaku di dadanya? '
Dia melihatku dengan rahang yang mengeras, bibir tipisnya mengatup rapat, tatapan intimidasinya seakan menelanjangiku, dia marah? Kenapa aku merasakan aura yang sangat mencekam disini? Atau hanya aku yang merasakannya saja? Aku rasa tidak, buktinya wanita tua di sebelahku sepertinya merasakan hal yang sama. Ujarku dalam hati
Lalu dia berjalan dengan langkah panjangnya dan saat aku menutup mataku dan membukanya lagi, dia sekarang berada dihadapanku, dia menyentuh pundakku dan mengcengkramnya membuatku meringis kesakitan. Aku memanggilnya pelan bahkan mungkin hanya aku saja yang mendengar karena aku seperti berbisik kearah, entah karena aku yang shock melihatnya ada disini atau aku yang masih terlalu lelah dan juga aku merasa lapar dan haus. Lalu aku merasakan sesuatu menusuk kulit leher ku dan tubuhku tiba - tiba melemas, aku tidak mempunyai tenaga sama sekali dan aku hanya bisa melihatnya. Sebelum kegelapan benar - benar merengkuhku, dan aku memanggil namanya lirih sekali lagi.
" Leo? "
***
Mungkin ini menjadi part terpendek yang pernah aku buat, atau nanti lama kelamaan part - part ini akan pendek?
Love, Axela :*
KAMU SEDANG MEMBACA
My Love
Hombres LoboSemua berawal dari hal yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Berawal dari imajinasi belaka, menjadi sebuah bagian yang nyata. Berawal dari dunia fantasi yang dulu sangat ia sukai, menjadikan dunia itu yang paling ia benci. Semua itu membuat diriny...
