HILANG INGATAN

162 1 0
                                    

Bulan berjalan mendekati pintu pagar rumahnya ketika didengarnya suara yang sangat pelan di belakangnya. Bulan menoleh. Mobil Aska sudah berlalu dan lenyap di tikungan jalan.

Seseorang dengan jaket hoodie berwarna gelap berada dekat sekali di belakangnya. Tubuhnya sedikit lebih pendek dan wangi parfum yang dipakai orang itu tidak terlalu asing untuknya. Bulan berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah mencium bau parfum yang sama.

"Siapa, ya?" tanya Bulan sambil mencoba mengintip wajah yang tersembunyi dibalik hoodie.

Orang itu tidak menjawab. Sebuah benda tertimpa cahaya lampu penerangan jalan berada di dalam genggaman tangannya yang tiba-tiba terangkat tinggi di atas kepalanya. Bulan menjerit. Secara reflek menutupi wajahnya. Dia melangkah mundur namun hak sepatunya yang tinggi membuat pijakannya meleset. Tubuhnya terayun ke belakang membentur tepian pagar besi. Kepalanya terasa nyeri dan pandangannya seketika mengabur. Detik berikutnya dia tidak sadarkan diri.

***

Bulan membuka matanya. Rasanya masih mengantuk. Kepalanya terasa sakit sekali. Dia mengerang. Mencoba menyentuh kepalanya. Ada apa ini? Apa yang terjadi?

Disisi tempat tidurnya, seorang pria tidur dengan posisi kepala tertelungkup.

Siapa dia? Kenapa dia ada di samping tempat tidurku?

Bulan mengerjap.

Ini bukan kamarku. Bau ini. Ruangan yang serba pucat. Ini rumah sakit!

"Ayah!" panggil Bulan dengan suara serak bercampur panik.

Dia meringis ketika telinganya berdesing. Pandangannya berputar. Bulan memejamkan matanya.

Pria yang tidur dengan kepala tengkurap itu terbangun. Memegangi telapak tangan Bulan berusaha menenangkan.

"Ada apa, Bulan? Kamu sudah sadar rupanya. Syukurlah," ucap pria asing itu dengan lega.

Bulan berusaha membuka matanya kembali. Menatap pria di sampingnya dengan wajah bingung.

Siapa dia? Dimana ayah?

"Mana ayah? Aku kenapa?" keluh Bulan sambil memegangi kepalanya dan berusaha untuk duduk.

Pria itu bergegas menahan tubuh Bulan sambil menggelengkan kepalanya.

"Jangan dipaksakan. Kamu masih sakit."

"Aku mau ketemu ayah! Kamu siapa?"

Bulan berusaha menepis tangan pria itu dari tubuhnya. Tapi tenaganya belum pulih benar sehingga dia terpaksa rebah kembali.

Pria itu terkejut. Wajahnya mendadak pucat.

"Bulan....," pria itu tiba-tiba meraih tangan kanan Bulan," Aku Aska . Kamu tidak mengenalku?"

Bulan mengerutkan keningnya. Menatap wajah yang penuh harap itu dengan bingung. Lalu menggeleng.

"Sama sekali tidak ingat?" tanya pria itu sekali lagi seolah-olah ingin meyakinkan dirinya sendiri.

Bulan kembali menggeleng.

"Apa aku pernah mengenalmu?" tanya Bulan ragu-ragu.

Pria di depanku ini tampan sekali. Sepertinya dia berdarah campuran. Dan dia kelihatannya sedang sedih. Dia ini siapa ya?

"Kamu tidak ingat pada cincin ini?" tanya pria itu sambil meraih telapak tangan kiri Bulan. Menunjuk pada cincin berlian yang terpasang di jari manisnya.

Bulan menatap cincin itu dengan mulut terbuka.

Darimana asal cincin mahal ini? Aku tidak mungkin membelinya dari gaji yang kuterima sebagai penjaga wartel. Ini tidak mungkin.

MIDDLE EASTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang