BACK TO WORK

98 1 1
                                    

Bulan melongo. Gedung berlantai tujuh yang ada di hadapannya membuatnya tak bisa berkedip. Ya Tuhan ....apa saja yang sudah kulakukan? Aku bekerja disini?

"Ayo, Bulan! Sebentar lagi jam delapan. Jangan sampai terlambat!" tegur ayah sambil membuka sit belt yang melilit tubuhnya. Dia sudah hendak membuka pintu mobil ketika melihat Bulan yang hanya diam tak bergeming di tempatnya.

"Bulan? Kamu kenapa?"

"Apa benar aku bekerja disini?" Bulan masih belum melepaskan pandangannya dari gedung di depannya.

"Ya. Kamu memang kerja disini."

"Apa karena ayah, aku bisa kerja disini?"

Bulan mengalihkan perhatiannya ke wajah ayah dengan curiga.

"Apa menurutmu ayah bisa membujukmu menuruti keinginan ayah?" tanya ayah sambil mengangkat alisnya.

Bulan meringis. Tidak menjawab.

"Kok aku bisa kerja disini, ya?"

"Yang pasti bukan karena ayah. Mungkin waktu itu Aska jatuh cinta padamu makanya dia langsung menerimamu bekerja disini."

"Ayah, apaan sih!"

Bulan memandangi ayahnya sambil cemberut.

"Ayah bahkan tidak tahu kamu melamar pekerjaan kemari, Bulan...Kamu pernah menolak ketika ayah menawarkannya!"

"Masa?"

"Kamu datang kemari waktu ayah pergi ke Bandung. Kamu sengaja melakukannya supaya ayah nggak ikut campur kan?"

"Aku nggak ingat, ayah!"

"Memang begitu kejadiannya! Sekarang cepat masuk! Aska bisa menyusulmu kemari kalau kamu tidak segera muncul di ruanganmu!"

"Masa, sih?"

Bulan tersenyum geli sambil mengikuti ayah yang sudah mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaannya. Benar juga, Aska sudah berdiri di pintu masuk dengan wajah gelisah. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat Bulan sedang berjalan mengikuti ayahnya.

"Pagi, Om!" sapa Aska sambil mengangguk.

"Pagi, Aska!" balas ayah sambil tersenyum. Lalu menggerakkan kepalanya ke arah Bulan yang sudah berada di sampingnya.

"Tolong, kau ambil alih dia ya? Om lelah ditanya-tanya terus."

"Siap, Om!"

Aska nyengir sambil menatap Bulan yang sedang memandangi kepergian ayahnya dengan wajah cemberut.

"Apa susahnya sih, tinggal jawab pertanyaanku? Aku memang tidak bisa mengingatnya!" gerutu Bulan.

"Memangnya kamu tanya apa? Biar aku yang jelaskan."

"Aku ingin tahu apa aku bekerja disini karena rekomendasi ayahku?"

"Tentu saja tidak! Aku bahkan tidak tahu kalau kau putri Om Winata. Lagipula kemarin aku sudah menjelaskannya padamu!"

"Jadi begitu ya?"

Aska menghela napas.

"Pantas saja Om Winata kesal sama kamu. Pasti kamu nggak percaya sama ucapannya. Mulai sekarang berhentilah meragukan penjelasannya padamu," gerutu Aska.

"Aku bingung dengan banyak hal. Banyak pertanyaan di kepalaku,"keluh Bulan sambil berjalan di samping Aska.

Beberapa staf yang berpapasan dengan mereka mengangguk dengan hormat. Bulan jadi salah tingkah.

"Kenapa mereka mengangguk padamu?" bisik Bulan lebih mendekat ke sisi Aska.

Aska tidak menjawab. Tangan kanannya menggenggam jemari tangan kiri Bulan sedangkan tangan kirinya masuk ke saku celananya. Dia tidak peduli telah mencuri perhatian banyak orang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 10, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MIDDLE EASTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang