-Enam Belas

65 4 0
                                        

Terlalu kepagian. Ran tersentak pukul 04.00 shubuh. Ran tak ingin melanjutkan tidur nya. Lalu dia beranjak dari ranjang menuju meja belajar nya. Diambil nya buku diary nya. Lalu di tuliskan nya sepatah 2 patah kata. Ran mengambil gitar dan ponsel nya ditambah sweater nya. Ran keluar dari rumah dan duduk di pondok kecil rumah Ran. Ran melihat Pak. Dono sedang menjaga ketertiban rumah Ran. Ya Pak. Dono adalah satpam yang menjaga rumah Ran. Sudah bekerja selama 5 tahun di sini. Dan orang tua Ran juga senang dengan kerja Pak. Dono.

"Udah bangun Neng." ucap Pak. Dono
"Iya Pak. Bapak udah makan?" tanya Ran
"Belum Neng." ucap Pak. Dono
"Kalau begitu saya buatkan roti panggang sama kopi ya Pak. Bapak tunggu di sini aja." ucap Ran
"Eh? Tak usah Neng." ucap Pak. Dono
"Tak apa Pak. Jangan sungkan-sungkan." ucap Ran

Belum sempat Ran membuka gitar nya. Ran surut lagi masuk ke dalam dan berjalan ke dapur. Membuat beberapa potong roti panggang dan kopi ekstra. Agar Pak. Dono tidak tertidur ketika kerja. Ran membawa nampan yang berisi roti panggang dan kopi.

"Pak, ini Pak!" seru Ran
"Makasih Neng." ucap Pak. Dono

Ran kembali duduk di pondok. Lalu di buka nya pembungkus gitar. Maksud nya tempat gitar. Ran mulai memainkan gitar itu dengan alunan melodi yang sangat indah. Pak. Dono saja sampai kalap-kalap ingin tidur. Lagu yang Ran nyanyikan? Mellow. Ran jadi kepikiran dengan Rizky.

"Neng? Kok Den Rizky jarang ke sini lagi Neng."
"Oh Rizky. Dia punya adik di rumah Pak. Abang juga mau menikah. Jadi Rizky harus super duper jagain adik nya ketiga kedua orang tua nya meeting ataupun kerja Pak." jelas Ran
"Oh gitu toh. Hubungan Neng sama Den Andre?"
"Dia bukan siapa-siapa Pak. Bagi saya dia itu musuh!" seru Ran
"Maap Neng. Bapak ganggu Neng main gitar nya." ucap Pak. Dono
"Udah Pak jangan minta maap muluk." ucap Ran

Kembali ke kamar Ran. Ya. Mia sudah bangun. Dilihat nya ponsel nya berdering.

"Halo?" ucap nya tanpa melihat nama yang sudah muncul di layar ponselnya
"Mia? Kamu dimana?" tanya nya
"Eh?" ucap Mia

Mia melihat nama yang ada di layar panel ponsel nya.

Hah? Haekal? Jam 4 nelfon? Ngapain?

"Aku? Aku dirumah Ran. Orang tua-ku pergi ke luar negeri. Jadi aku sendiri di rumah. Dari pada sendiri. Mending aku ke rumah Ran. Maaf ya Kal. Maaf untuk masalah kemarin. Aku egois." jelas Mia
"Haha. Iya udah aku maafin. Ntar aku jemput ya. Di depan rumah Ran. Kamu harus stand by!" seru Haekal
"Iya Mr. Cerewet." usil Mia
"Ya udah sana tidur lagi." ucap Haekal
"Gak mau. Mau nolongin orang tua Ran masak. Kamu aja yang tidur duluan." ucap Mia
"Duh calon istri mau masak nih. Ya udah sana bantuin ntar Mama nya Ran ngusir kamu karena makan nya banyak."
"Calon istri? Maksud nya? Huu. Aku nggak makan banyak kok." protes Mia
"Kamu kan calon istri nya Haekal. Ya udah. Jangan sedikit makan nya ntar sakit."
"Haha iya. Kamu juga ya. Ntar sakit. Oke bye." ucap Mia
"Byee!" seru Haekal

Ran bersandar di dinding pondok itu. Dia ingin sesuatu.
Sesuatu yang tak bisa orang miliki
dan diri nya miliki.

This Love * Tahap PerubahanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang