Ran bangun pukul 5 seperti biasa. Mata nya tampak sayu seperti orang yang kekurangan tidur. Ya elah, gimana gak kekurangan tidur coba? Semalam tidur jam 1 sekarang bangun jam 5 cuma 4 jam Ran tudur. Ran meraih ransel nya lalu di bawa nya keluar kamar. Di bawah dilihat nya Mama tengah menyiapkan sarapan. Dan Papa nya yang tengah membaca koran setiap pagi. Ran menaruh tas nya di atas kursi. Mendekati Mama nya yang membuat nasi goreng untuk keluarga ini.
"Ran kamu kenapa? Kok sayu banget." ucap Mama sibuk dengan masakan nya
"Aku tidur larut Ma. Aku menghafal materi untuk UN. Ma? Mau aku tolongin apa?" tanya Ran
"Ambil piring trus kamu pindahin ke piring nya. Mama mau buat dadar dulu." ucap Mama
Ran mengangguk. Diambil nya beberapa piring lalu dan di pindahkan nya nasi goreng itu ke piring tersebut. Mata sayu, tapi Ran tetap semangat. Andre juga sudah bangun. Beh, emang gue pikirin, batin Ran. Ran duduk di meja makan setelah menaruh piring-piring yang berisi nasi goreng ke meja makan. Selesai sarapan, bukan sarapan. Dia hanya makan sekitar 5 sendok lalu di raih nya ransel nya. "Ran berangkat."
"Ma Pa. Fathur juga berangkat."
Ran berjalan menuju halte depan. Yaa, harus berjalan sekitar 1 km untuk sampai keluar. Fathur berlari mengejar kakak nya yang tidak peka.
"Uni! Tunggu dulu." ucap Fathur
"Apaan sih dek." ucap Ran
"Uni gak kenapa-napa kan?" tanya Fathur
"Maksud nya dek? Uni baik-baik aja kok." ucap Ran
"Iya. Gak disakitin sama Andre kan?" tanya Fathur
"Iya gak kok. Perhatian amat sih jadi adek. Kamu udah punya?" goda Ran mendekap adek nya
"Ish. Tersakiti jiwa dan ragaku Uni. Uni mengertilah. Aku masih jones tauk. Mungkin SMA kayak Uni baru gak jones lagi." goda Fathur
"Ada-ada aja kamu dek. Gimana sekolah nya?" tanya Ran
"Seperti biasa Uni." ucap nya cuek
"Cuek amat." ucap Ran
"Hahaha, gak sama Uni kok cuek nya. Buat Uni apa yang nggak." ucap Fathur
"Haha.. Bisa aja kamu." ucap Ran menyikut Fathur pelan
Setiba di Halte. Fathur langsung naik angkot yang ada di depan mereka. Tujuan nya beda. Ran ke kanan. Fathur ke kiri. Ran menyebrang. Dan naik bis tingkat yang sudah menunggu nya. Ya, mereka satu bis lagi. Ran duduk di sebelah Rizky yang sedang membaca buku sejarah. Mereka nanti ada presentase kelompok di jam pertama. Dan juga pembagian nilai Ulangan. Hening. Taj ada yang mulai angkat bicara. Sepi.
"Riz?" tanya Ran
"Apa?" tanya Rizky masih fokus dengan bukunya
"Di sekolah ada ekskul musik kan? Kenapa gak ada yang masuk ke sana?" tanya Ran
"Haha. Itu karena gak ada yang bisa main musik. Eh? Tapi kenapa jadi nanya? Kamu bisa main musik?" tanya Rizky melirik Ran
"Hei. Musik itu duniaku. Aku bisa bermain gitar." jelas Ran
"Kenapa kelas 10 gak bilang. Ini mau tamat baru inget." sindir Rizky
"Heh. Ini kan juga baru tahu apa sebabnya. Ku kira tempat musik itu angker makanya gak ada yang mau masuk ke sana." ucap Ran
"Udah jangan pikir yang macam-macam. Gini aja pas perpisahan. Kita buat band." ucap Rizky
"Haa.. Kalau itu sih aku setuju. Tapi anggotanya?" tanya Ran
"Gampang itu." ucap Rizky
Rizky tersenyum manis. Ran dibuat nya mati kutu.
"Ngapain sih. Gitu amat senyum nya. Ntar satu bis suka lagi sama kamu." ucap Ran
Mampus. Kok bisa keceplosan sih. Anjirr, gimana dong.. Duh, malu lah.
"Ran tenang aja. Gak bakal. Setia sama seorang kok." ucap Rizky
Maksud nya apaan sih? Ngomong yang jelas.
"Andre gimana? Gak nyelakain kamu kan? Kamu gak diapa-apain kan?!" selidik Rizky
"Aku gak papa. Emang kenapa. Khawatir amat." ucap Ran
"Huuu. Geer amat. Siapa juga yang khawatir sama kamu!" seru Rizky
"Boong!" seru Ran
KAMU SEDANG MEMBACA
This Love * Tahap Perubahan
Fiksyen RemajaYou wrapped me in your arms it felt like home.
