SM #5

1K 64 6
                                    


Lessi menatap cermin di depannya dengan jantung berdebar-debar, satu jam lagi ia akan menikah dengan pria yang sangat ia cintai. Ia sudah menunggu bertahun-tahun akan hal ini, peristiwa paling penting dalam hidupnya.

Penata riasnya sudah melakukan tugas dengan baik, wajahnya yang biasa polos kini terlihat cantik dengan make up natural. Rambutnya juga ditata sedemikian rupa sehingga terlihat anggun dan elegan. Ia tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan reaksi calon suaminya nanti. Sudah seminggu ini mereka tidak bertemu, tepatnya setelah bertemu secara tidak sengaja di cafe waktu itu. Dan ia merindukannya ....

Lessi terkesiap ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi, membuyarkan khayalan indahnya. Sebuah pesan singkat dari Bertha.

"Temui aku di belakang gedung sekarang. Penting!"

Ia mengerutkan kening, sahabatnya itu tidak pernah menganggap sebuah masalah itu penting. Kalau sampai Bertha bilang begitu, ini berarti benar-benar sangat penting. Ia harus pergi sekarang kalau tidak mau terlambat.

Hanya butuh 10 menit untuk Lessi pergi ke sana dengan high heels di kakinya karena belakang gedung berarti belakang rumah pamannya juga, karena rumah pamannya dan gedung tempat resepsi letaknya hampir bersebelahan. Hanya terpisah jalan raya yang tidak terlalu ramai.

"Kau cantik dalam gaun itu, sayang," puji Louis, matanya menatap gadis di depannya dengan tatapan bergairah.

"Kau juga sangat tampan, Louis. Kenapa kita tidak menikah saja?" tanya Bertha mesra, tangannya mencengkeram leher Louis dan menariknya ke tubuhnya.

Louis tertawa melihat ke agresifan wanita itu. "Inilah yang aku sukai darimu. Kau sangat agresif dan ... panas." Ia mencium leher jenjang Bertha yang terbuka karena gaun pendamping wanita itu sengaja dibuat mirip gaun pengantin wanita, hanya saja lebih sederhana.

Bertha mendesah samar, membuat Louis tersenyum senang.

"Tapi, kau tahu kita tidak akan bisa menikah," lanjut Louis, membuat Bertha menatapnya tajam.

"Apa yang dimiliki Lessi tapi aku tidak? Kenapa kau begitu ingin menikahinya padahal kau tidak mencintainya?" jerit Bertha geram, sesekali ia melirik ke tempat Lessi berdiri, puas melihat sahabatnya sudah ada di sana.

"Tenanglah, sayang. Ini tempat umum, bisa saja ada seseorang yang mendengarkan kita." Louis merangkul Bertha untuk menenangkannya. "Sebenarnya aku punya alasan yang kuat untuk menikahinya."

"Jelaskan padaku," pinta Bertha lirih.

"Apa kau tahu kalau Lessi itu sebenarnya kaya raya?" tanya Louis.

"Apa?" Bertha terperangah, "Tidak mungkin! Lessi hanya seorang fotografer di sebuah majalah kacangan. Ia bahkan tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Bagaimana mungkin?"

"Ya, kau benar. Tapi, apa kau tahu kehidupan keluarganya di Inggris? Kedua orang tuanya hidup dalam rumah mewah yang sangat besar. Mereka pengusaha sukses. Dan Lessi adalah putri tunggal, menurutmu pada siapa lagi mereka mewariskan semua harta itu?"

"Jadi, kau menikahi Lessi demi harta?" tanya Bertha, wajahnya terkejut bercampur panik.

"Tentu saja. Aku hanya mencintaimu, sayang. Meskipun aku menikah dengannya, tapi kita masih bisa berhubungan seperti biasanya. Bukankah itu rencana yang bagus?" Louis tersenyum lebar.

"Aku pikir ... kau ...." Wajah Bertha mendadak pucat.

"Ada apa, sayang?" tanya Louis heran.

"Ternyata kau di sini, Les. Paman mencarimu ke mana-mana. Barusan orang tuamu menelepon Paman, pesawat mereka baru saja mendarat di bandara. Mungkin mereka akan tiba dalam waktu satu jam lagi kemari," Albert berkata dalam satu tarikan napas, namun menyadari keponakannya tidak bereaksi, ia bertanya lagi. "Ada apa, sayang? Kenapa kau bisa ada di sini?"

Sudden Marriage (Wedding Series #2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang