SM #9

966 55 3
                                    


"Sebenarnya kita mau ke mana?!" Davian mulai kesal karena sejak tadi isterinya itu selalu mengajaknya berputar-putar dan sekarang mobilnya mulai menanjak dengan dikelilingi pohon-pohon besar di kiri dan kanan jalan.

"Sebentar lagi juga sampai kok," jawab Lessi santai.

Davian masih menggerutu tidak jelas, tapi gadis itu sudah tidak mempedulikannya. Dia sudah asyik melihat pemandangan hutan di sekelilingnya.

"Stop di sini!" kata Lessi tiba-tiba.

"Di sini? Di tepi hutan ini?!" Davian melotot tidak mempercayai penglihatannya. Sejauh mata memandang hanya pohon-pohon saja yang bisa ia lihat.

"Ini tempat favoritku," kata gadis itu sambil turun dari mobil, tidak lupa tangannya menjawil ransel kecilnya yang berisi kamera dan mulai memotret beberapa kali.

"Kau mau turun tidak?" tanya Lessi heran ketika dilihatnya Davian masih belum beranjak dari tempatnya.

"Dengan pakaian seperti ini?" Davian menunjuk setelan jas dan sepatu kulitnya yang mengkilat.

Lessi tertawa pelan, "Seharusnya aku mengingatkanmu untuk tidak memakai pakaian seperti itu."

"Dan kau tidak melakukannya," tukas Davian sengit.

"Yah, aku lupa. Mungkin," sahutnya cuek, tapi mulutnya tetap tertawa geli. "Sudah, jangan banyak protes! Kau tetap tampan meskipun salah kostum."

Davian membanting pintu mobilnya dengan lagak marah, meskipun dalam hatinya ia senang mendengar pujian itu. Ia berjalan di belakang gadis itu, sesekali mereka berhenti karena Lessi harus memotret di sana sini. Bahkan ia sempat terpeleset beberapa kali karena sepatu kulitnya agak licin di jalan yang menanjak.

"Sudah sampai."

Kata-kata Lessi membuyarkan konsentrasi Davian yang sedang menunduk melihat jalan agar tidak terjatuh, ia memandang sekelilingnya dengan takjub.

"Tempat apa ini? Indah sekali," komentar Davian setelah berhasil menguasai keterpesonaannya pada pemandangan di depannya.

"Kita sekarang berada di Taman Nasional Jasmund, dan ini adalah Cliffs Rugen, karena letaknya di timur laut pulau Rugen. Aku sangat menyukai tempat ini," kata Lessi sambil mengambil posisi untuk duduk di atas batuan yang ada di pinggir tebing, di bawah pepohonan yang rindang. Matanya tertuju pada laut lepas yang ada di depannya. Davian pun ikut duduk di sebelahnya dan melakukan hal yang sama.

"Kau lihat laut itu? Itu adalah Laut Baltik. Aku suka menghabiskan waktu di sini, dari atas sini aku bisa memandang langit dan mendengarkan debur ombak di bawah sana yang menghantam tepian tebing, namun tebing kapur setinggi 387 kaki ini tetap berdiri tegar. Hutan yang masih natural di belakang tebing sana juga merupakan objek foto yang bagus," Lessi menerangkan panjang lebar.

Davian terpukau olehnya, selama ini ia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini. Ia hanya sesekali pergi bersama rekannya ke pusat kota atau mengunjungi tembok Berlin. Atau terpaksa menemani Briedgitta berbelanja di mall dan mall lagi, macan betina itu selalu berusaha menguras dompetnya setiap kali bertemu, berbeda sekali dengan gadis yang sekarang berada di sampingnya. Tanpa sadar Davian mendesah pelan.

"Ada apa?" tanya Lessi heran, "Kau bosan?"

"Tidak. Hanya ada sesuatu yang sedang aku pikirkan."

"Masalah wanita?" tebak Lessi.

"Bukan," elaknya cepat dengan mata melotot.

"Kau tidak pandai berbohong. Aku bisa merasakannya, Davian. Apakah ini tentang satu wanita atau dua wanita?" tebaknya lagi.

Sudden Marriage (Wedding Series #2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang