SM #12

926 58 1
                                    


Lessi menunggu dengan cemas di ruang tamu, ia mondar mandir selama setengah jam dengan penasaran. Akankah semuanya terbongkar, atau justru semuanya bertambah rumit? Ketika sedang menunggu itulah ia melihat Ayah mertuanya berjalan ke arahnya tanpa didampingi oleh Davian, apa yang terjadi pada suaminya?

Alex tersenyum melihat wajah menantunya yang pucat, mungkin ia ketakutan karena kesan yang tadi sempat ia tampilkan. Pria paruh baya itu tersenyum untuk menenangkannya.

"Duduklah, Nak, maafkan sikapku tadi, aku hanya ingin memberi pelajaran pada anak itu," ucap Alex lembut, sambil membimbing menantunya ke sofa.

"Jadi, kau keponakannya Albert?" lanjut Alex, "Dan kau puteri tunggal dari Robert Western?"

Lessi mendongak, dan bertanya dengan cemas, "Apakah Davian sudah..."

"Tidak, bukan dia yang memberitahuku."

"Jadi, apakah Anda ...?"

"Panggil aku Papa, itu sebutan Ayah di Indonesia," potong Alex Origa sambil tersenyum ramah.

"Baiklah, Papa," kata Lessi ikut tersenyum, senyum Ayah mertuanya sudah membuat ketakutannya sirna. Sikapnya kini sangat berbeda dengan yang tadi, sepertinya beliau orang yang baik dan periang. "Apakah Papa mengenal orangtuaku?"

"Tidak begitu kenal, tapi kami pernah berbisnis beberapa kali, beliau orang yang baik dan jujur," jawab Alex Origa.

Lessi mengangguk kecil, tanda persetujuannya.

"Nah, bagaimana kalian bisa saling kenal dan menikah diam-diam seperti ini?" tanya Alex lagi dengan penasaran, tingkahnya sama seperti anak ABG yang sedang curhat dengan temannya.

"Papa yakin mau mendengarkan?"

Alex mengangguk mantap dan mulailah Lessi bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Davian di sungai Spree, bagaimana ia 'menyelamatkan'nya dan menghancurkan kameranya. Semuanya ia ceritakan apa adanya, minus tentang Louis dan Bertha dan adegan di hari pernikahannya. Ayah mertuanya mendengarkan dengan saksama, sesekali ia tertawa keras karena gaya Lessi yang lucu saat bercerita. Mereka terus bercerita sampai tidak menyadari kalau Davian sedang memperhatikan mereka di depan pintu kamarnya.

"Kau sudah memilih isteri yang baik, Kak," ujar Marina, sebenarnya sejak tadi ia sudah menguping di balik pintu kamarnya, sementara suami dan anaknya sudah tertidur pulas.

"Ya, kuharap begitu," sahut Davian lirih.

Marina bisa merasakan keraguan dalam nada suara Kakaknya, namun ia tidak ingin mengusiknya lebih jauh. Ia yakin kalau Kakaknya pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik.

-

"Kuharap kau tidak keberatan tidur satu kamar denganku," kata Davian ketika hanya tinggal mereka berdua saja di kamar.

Ayahnya memilih untuk menginap di hotel terdekat karena tidak ingin mengganggu mereka, sementara Marina sudah terlelap di kamar sebelah. Lessi hanya mengendikkan bahu dengan acuh, karena ia tahu tidak ada pilihan lain.

"Besok kita akan mengambil barang-barang di rumah kontrakanmu," lanjut Davian tanpa menoleh, ia sedang sibuk dengan laptopnya di sofa.

"Untuk apa? Aku belum setuju untuk tinggal denganmu!" protes Lessi keras.

"Jangan berisik, kau bisa membangunkan seluruh penghuni apartemen dengan suaramu itu," tegur Davian ketus.

"Aku tidak akan memindahkan barang-barangku ke sini." Lessi tetap bersikeras, namun kali ini ia merendahkan suaranya.

Sudden Marriage (Wedding Series #2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang