Seperti yang dikatakan Lessi, tidak banyak undangan yang hadir, hanya beberapa kerabat dekat dan teman kerjanya. Itupun hanya beberapa orang saja yang ikut jamuan makan di rumah Albert, sisanya memilih pulang untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing.
"Jadi, kalian akan tinggal di mana setelah ini?" tanya Lucy Western, Ibu Lessi dengan lembut.
"Di apartementku."
"Di rumahku."
Mereka menjawab bersamaan sehingga kedua orangtua Lessi saling pandang dengan kebingungan, sementara Albert hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal di belakang mereka.
"Maaf, Mom, Dad, kuharap kalian tidak keberatan aku memanggil begitu." Davian diam sejenak, memperhatikan reaksi kedua mertuanya, setelah mereka mengangguk setuju, maka ia pun segera melanjutkan. "Sebenarnya kami belum membicarakan masalah ini secara serius. Isteri saya menginginkan untuk tetap tinggal di rumah kost-nya, sementara saya ingin kami tinggal di apartement kami karena di sana segalanya lebih terjamin sehingga saya bisa memanjakan isteri saya. Bagaimana menurut Mom dan Dad?" lanjut Davian.
Lessi melotot, bagaimana mungkin ia tinggal dengan Davian di apartemennya? Ia sama sekali tidak mengenal Davian, selain sebagai atasan Pamannya dan sebagai pria yang sudah merusak kameranya, ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya. Enak saja dia membuat keputusan sepihak! Ia menginjak kaki suaminya itu sekuat tenaga, membuat Davian meringis tanpa suara, hanya matanya saja yang berair pertanda sakit yang dirasakannya.
"Hei, sakit tahu!" geram Davian lirih di telinga Lessi, namun gadis itu cuek saja seolah tidak melakukan apa-apa.
Albert yang melihat itu memilih untuk keluar ruangan dan mencari udara segar, ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada keduanya.
Kedua orangtua Lessi hanya manggut-manggut mendengar alasan Davian, sebenarnya selama ini mereka juga merasa cemas kalau mengingat puteri tunggalnya memilih tinggal di rumah sederhana itu, namun Lessi itu sangat keras kepala dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya.
"Baiklah, kami sangat setuju denganmu, Davian," kata Mr. Robert tenang, "mulai saat ini, kau harus tinggal dengan suamimu."
"Tapi, Dad-"
"Cukup, jangan membantah!" potong Mr. Robert, "Kami ingin istirahat, kalian pergilah."
Lessi segera pergi keluar dengan wajah ditekuk, langkahnya berderap ditambah high heels yang dikenakannya. Davian bermaksud mengejar isterinya ketika ayah mertuanya berkata lagi.
"Kami akan mengawasimu. Sedikit saja kau melukai puteriku, maka tawatlah riwayatmu."
O'ow, sepertinya Mr. Robert tidak main-main dengan ucapannya.
Davian memarkirkan mobilnya di basement seperti biasanya dan menuju lift ke lantai teratas di mana apartementnya berada. Lessi hanya mengekor di belakangnya tanpa banyak bicara, sepertinya ia masih kesal dengan keputusan ini. Tapi, Davian bersikap seolah-olah tidak peduli dan masuk ke apartementnya dengan santai.
"Wah ... Bagus sekali tempatmu ini, pemandangannya pasti indah dari jendela sana. Tapi, kau ini kan direktur terkenal, memang pantas kalau kau tinggal di tempat semewah ini," komentar Lessi asal.
Davian mencibir, "Jangan berlebihan! Apa kau pikir aku tidak tahu siapa orangtuamu tadi? Kau juga bisa tinggal di tempat yang lebih mewah dari ini kalau kau memang menginginkannya."
"Apa maksudmu?" Lessi mendelik curiga padanya.
"Hei, Nona kaya yang sok miskin! Berhentilah berpura-pura, tidak ada gunanya. Semua pengusaha tahu siapa Robert Western."

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudden Marriage (Wedding Series #2)
RomanceSEDANG DALAM PROSES PENERBITAN. Awal pertemuannya dengan Alecia Western, Davian Origa sudah merasa kalau hidupnya sangat sial. semua yang sudah dia rencanakan ternyata tidak berjalan dengan semestinya, terutama hatinya. Lessi --begitu gadis itu disa...