Hari ini Davian berangkat pagi-pagi sekali ke kantornya. Ia sengaja tidak ingin bertemu Lessi lebih dulu untuk menenangkan perasaannya. Ia hanya menulis selembar memo di atas meja makan yang mengatakan kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikannya dengan segera. Setelah memastikan istrinya masih di kamar, pria itu segera berjalan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara lalu turun ke bawah dengan tergesa-gesa.
Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan tentang kepindahan Lessi. Selama ini ia sudah terbiasa dengan kehadirannya, mendengar celotehannya, dan tak jarang pula berdebat dengannya. Rasanya apartemennya akan sepi tanpa kehadiran istrinya. Karena itu, ia bermaksud membelikan sesuatu yang pastinya disukai Lessi sehingga membuat istrinya tersebut mengurungkan rencananya kembali ke rumahnya yang lama.
Sambil menyetir ia berpikir keras dan melihat sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang pas untuk Lessi dan tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Lagi pula, kalau memang dia tetap berniat kembali ke rumahnya, setidaknya dia akan selalu mengingatnya. Ia ingin membuat kejutan untuk Lessi, selama ini ia tidak pernah memberikan apa pun untuknya. Ia juga mengingat perkataan Mario kalau wanita itu suka sesuatu yang manis dan romantis.
Kalau sikap manisnya tidak berhasil, tidak ada salahnya ia mencoba memberikan sesuatu yang romantis, bukan?
Davian menghentikan mobilnya di salah satu toko perhiasan yang tidak jauh dari kantornya. Namun sayangnya toko itu belum buka karena waktu itu baru pukul tujuh pagi. Davian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Howard, aku berada di depan tokomu, ada sesuatu yang ingin aku beli."
Jeda sejenak, ia mendengarkan seseorang di seberang sana bicara.
"Tidak, kau tidak perlu datang ke sini. Cukup pegawai tokomu yang bertugas di sini saja, aku hanya sebentar. Pembayarannya akan kutransfer ke rekeningmu. Terima kasih."
Tidak berapa lama kemudian, seorang security segera membukakan pintu kaca tebal yang masih terkunci, lalu seorang pria muda berbadan tegap namun terlihat ramah segera menyambutnya sambil tersenyum.
Davian tahu toko itu memiliki seorang pegawai yang kompeten yang dipercayai untuk tinggal di kamar yang berada di lantai atas. Karena pemilik toko ini, James Howard, yang tidak lain adalah salah satu mitra bisnisnya, pernah menceritakan hal itu padanya.
"Selamat pagi, Pak Davian. Saya Moren. Atasan kami meminta saya untuk melayani Anda dengan baik. Silakan masuk," ucapnya sopan sambil membungkuk sedikit ketika mempersilakannya.
"Terima kasih," sahut Davian sopan sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul.
Davian berjalan dan melihat-lihat deretan perhiasan yang dipajang di rak-rak kaca yang berderet di seluruh ruangan. Ia agak kebingungan ketika melihat begitu banyak perhiasan di depan matanya. Ia belum pernah membeli perhiasan sebelumnya. Apa yang akan ia cari? Perhiasan macam apa yang disukai wanita? Terutama Lessi yang notabene tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada benda tersebut.
Ia memulai dari barisan etalase pertama, dengan hati-hati ia meneliti ratusan cincin di depannya, semuanya terlihat indah dengan hiasan batu mulia yang diukir sedemikian rupa. Tapi, ia tidak tahu berapa ukuran jari Lessi. Sepertinya ide membeli cincin adalah hal yang buruk, tidak lucu kalau nantinya akan kebesaran atau lebih parah justru kekecilan. Ia meringis mengingat hal itu.
Saat pernikahan saja ia tidak memakai cincin kawin. Lagi pula ia tidak ingin mengikat Lessi hanya karena ia memberinya cincin. Meskipun saat ini mereka memang sudah terikat dengan tali pernikahan, namun ia tidak ingin memaksa Lessi untuk bersamanya kalau memang dia tidak bahagia.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudden Marriage (Wedding Series #2)
RomanceSEDANG DALAM PROSES PENERBITAN. Awal pertemuannya dengan Alecia Western, Davian Origa sudah merasa kalau hidupnya sangat sial. semua yang sudah dia rencanakan ternyata tidak berjalan dengan semestinya, terutama hatinya. Lessi --begitu gadis itu disa...