Hari ini adalah hari terakhir keluarga Origa dan keluarga Western berkumpul sebelum mereka akan kembali ke negara masing-masing esok hari. Karena itu, mereka memutuskan untuk mengadakan acara barbeque di atap gedung apartemen Davian. Kebetulan gedung itu memiliki gazebo dan taman buatan yang sangat indah sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat berkumpul.
Para pria -atau tepatnya hanya Davian dan Mario- bertugas menyiapkan segala keperluan memanggang untuk nanti malam, Alexander Origa dan Robert Western masih sibuk bertanding catur untuk ke sekian ratus kalinya dalam beberapa hari terakhir ini. Mereka bilang ini adalah penentuan siapa yang lebih hebat diantara mereka berdua, jadi siapa pun tidak boleh mengganggunya. Mario dan Davian hanya bisa pasrah dan menyiapkan semuanya berdua, masih ada beberapa jam lagi sebelum acara, jadi mereka memutuskan untuk duduk bersantai sambil minum anggur sementara para wanita sedang pergi berbelanja.
Davian duduk di kursi malas yang agak jauh dari gazebo, di mana kedua pria tua itu sedang 'bertarung'. Ia setengah memejamkan mata ketika tiba-tiba Mario duduk di depannya sambil membawa segelas anggur putih untuknya.
"Terima kasih," ucap Davian, ia menguap sejenak karena terbawa suasana sejuk dan angin semilir yang membelai rambutnya.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Mario, wajahnya terlihat serius sehingga Davian segera menegakkan tubuhnya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Davian cemas, tidak biasanya adik iparnya terlihat seserius itu, kecuali kalau ada masalah yang gawat.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu," kata Mario kesal.
Davian mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba marah padaku?"
"Kenapa kau membohongi kami semua?" tanya Mario tajam.
"Bohong? Bohong apa?" Davian makin bingung.
"Tentang pernikahanmu."
Davian terkesiap, bagaimana dia bisa tahu? Apa yang lain juga tahu? Marina? Papa? Ia melirik ke arah gazebo, papanya masih serius bermain dengan ayah mertuanya, besar kemungkinan kalau mereka belum tahu.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Davian pelan.
"Ternyata memang benar," nada suara Mario berubah mengejek. "Asal kau tahu, Kak, sejak awal aku sudah curiga dengan pernikahan dadakanmu ini, lalu karena penasaran jadi aku bertanya hanya untuk menjebakmu saja. Dan lihat wajahmu sekarang. Kau seperti bocah yang ketahuan mencuri permen dari stoplesnya. Itu artinya, memang sudah terjadi sesuatu di sini," Mario menerangkan panjang lebar dengan bangga, tidak peduli pada Davian yang wajahnya berubah dari pucat menadi merah padam.
"Dasar adik durhaka kau! Seharusnya dulu aku tidak pernah merestui kau menikahi Marina!" umpat Davian kesal, ia menjitak kepala Mario sekuat tenaga.
"Auww, sakit, Kak!" ringisnya sambil memegangi kepalanya yang berdenyut, matanya memerah dan berair pertanda sakitnya tidak main-main. "Kau mau membuatku gegar otak, ya?! Sudah kuduga kalau kau tidak ikhlas aku menjadi adik iparmu," gerutunya pelan.
Davian terkekeh geli, Mario ternyata tidak berubah, sama seperti ayahnya, Om Alexander Forbs yang suka slengekan meskipun sudah berumur.
"Jadi, pernikahan kalian cuma main-main? Iya, kan?" tebak Mario dengan agak berbisik, takut kedua orangtua itu mendengar.
Davian menegang, ia tidak pernah menganggap pernikahannya ini main-main. Ia serius menikahi Lessi, ia ingin melindunginya dari pria brengsek itu. Ia mencintainya.
"Tidak. Aku tidak main-main," bantahnya tegas.
"Lalu, kenapa sampai sekarang kalian belum melakukan 'itu'?" tanya Mario lagi dengan nada menggoda.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudden Marriage (Wedding Series #2)
RomanceSEDANG DALAM PROSES PENERBITAN. Awal pertemuannya dengan Alecia Western, Davian Origa sudah merasa kalau hidupnya sangat sial. semua yang sudah dia rencanakan ternyata tidak berjalan dengan semestinya, terutama hatinya. Lessi --begitu gadis itu disa...