Sekolah Baru, Teman Baru

1K 44 4
                                        

Hanya butuh tiga hari untuk mereka beradaptasi dengan rumah yang mereka tempati, kesibukan langsung menyesaki rumah itu. Pagi-pagi sekali suara gaduh sudah terdengar di sana sini, Agatha dan ibunya berjibaku untuk mempersiapkan diri. Agatha bersiap untuk sekolah sedangkan ibunya bersiap untuk berangkat kerja, satu-satunya yang tampak tenang adalah ayahnya. Ia duduk di meja makan dengan secangkir kopi hangat di atas meja dan roti yang ia buat sendiri, kesibukan anak dan istrinya adalah hiburan terpenting yang tidak ingin ia lewatkan. Karena itulah ia merasa hidup.

Agatha diterima di SMU Negeri 11, Bekasi terhitung semester ini. Tidak sulit bagi sekolah manapun untuk menerima Agatha, bisa dibilang ia memiliki banyak prestasi di sekolah semenjak SD. Namun, prestasi yang paling membanggakan adalah kemenangannya di debat bahas Inggris sekota Bogor. Ia mengalahkan sepuluh kandidat dari sekolah paling bonafit di kota Bogor, dan ketika menginjak kelas sepuluh ia dua kali menjuarai lomba pidato dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Nilai rapor Agatha pun tak bisa diragukan, tidak ada nilai yang mengecewakan. Untuk hal akademi ia mirip sekali dengan ibunya, bakatnya dalam hal linguistik diturunkan langsung dari ibunya. Sayangnya Agatha belum ingin menulis sebuah buku, belum perlu, ujarnya.

Mobil Pajero Sport hitam keluar dari garasi rumah, ayahnya berdiri di teras. Ia melambaikan tangan kepada istri dan anaknya yang berada di dalam mobil, "Hati-hati di jalan." Ayahnya berkata, di sebelahnya Bruno mengucapkan selamat tinggal dengan menggoyangkan ekornya.

Ayah Agatha sama sekali tidak mirip ayah kebanyakan, ia tidak pernah bekerja di kantoran, ia hanya bekerja di kebun. Berkawan dengan tanah dan tanaman. Jika istri dan anaknya harus meninggalkan rumah pukul enam pagi, ia baru meninggalkan rumah pukul sepuluh pagi. Biasanya, setelah sarapan dan membaca koran ia keluar halaman untuk merawat tanaman kesayangannya. Pagi itu pengecekkan lebih teliti dari sebelumnya karena pergantian cuaca dapat saja mempengaruhi tanamannya, belum lagi jika ada kerusakan selama proses pemindahan. Saat selesai menyirami tanaman kesayangannya, barulah ayah Agatha mulai bersiap-siap ke toko tanaman miliknya, biasanya bawahannya yang menjemput dan mengantar pulang.

Pajero sport hitam miliknya hampir tidak pernah ia gunakan, mobil itu ia hibahkan untuk istri dan anaknya. Ia lebih senang menggunakan kendaraan inventaris toko miliknya.

Keluarga Agatha mungkin tidak seperti keluarga kebanyakan di mana ayah bekerja di kantor dan ibu mengurus rumah tangga, tetapi ia tetap merasa beruntung mempunyai orangtua yang mendidik anaknya dengan cara mendewasakan bukan mendikte atau menggurui. Hingga akhirnya Agatha tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan tidak cengeng walau kedua orang tuanya jarang di rumah karena kesibukan mereka, satu hal yang diyakini Agatha adalah orangtuanya menyayanginya lebih dari segalanya.

***

Lorong sekolah yang lengang membentang di hadapan Agatha, sayup-sayup terdengar suara guru tengah mengajar di dalam kelas. Pagi ini jam pelajaran sudah dimulai sedangkan ia masih menunggu di depan kelas sebelas IPS 3, seorang pria kurus dengan seragam hitam yang sudah mulai luntur sedang berada di dalam kelas untuk memberikan informasi atas kedatangan murid baru. Lucunya si petugas bertampang kaku malah menyuruh Agatha menunggu di luar, bukankah seharusnya ia ikut masuk ke dalam.

"Orang yang aneh," bisik Agatha pada dirinya sendiri.

Pintu kelas terbuka, si petugas kurus memanggilnya.

"Bapak antar sampai di sini aja, ya." Ujarnya ketika Agatha menghampirinya. Di belakangnya seorang perempuan paruh baya tersenyum pada Agatha, ia tampak begitu bersahabat.

"Seterusnya nanti kamu akan dibimbing sama Bu Sudji, kebetulan beliau sedang mengajar." Ia melanjutkan.

Agatha mencium tangan Bu Sudji.

The Haunted DiaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang