Kali pertama Agatha datang ke latihan English Club ia dirundung grogi luar biasa, perutnya mulas bukan main. Bagaimana jika dia bertemu dengan senior tukang damprat atau terjerumus di tipe pergaulan keras Bekasi sebagaimana dijelaskan Rene. Namun, ia tetap menganyunkan kakinya menuju lab Bahasa Inggris di lantai dua setelah pelajaran usai, doa tulus dari Rene dan Andini mengiringi kepergiannya ke lab sore itu.
Agatha membusungkan dadanya ketika membuka pintu lab, untungnya lab masih sepi. Hanya ada dua siswi yang tengah bercakap-cakap. Mereka berdua menoleh dan tersenyum ketika Agatha masuk ke dalam lab, salah satu dari mereka beranjak menghampiri Agatha.
"Agatha, right?" tanyanya.
"Oh, yeah." Jawab Agatha gugup.
"Hai, i'm Sofie and the girl over there is Tarisa," ia menunjuk temannya di pojok ruangan, Tarisa menyapa dari jauh.
"Welcome to English Club, the only place stundents can improve their English well." Tutupnya.
"Actually, Bono asked me to come here after school." Agatha berusaha berbicara sealami mungkin ketika degup jantungnya berantakan. Mereka akan jadi teman yang baik, ia menyakinkan dirinya sendiri.
"We knew that, so come and join us," Sofie menggiring Agatha ke pojokan, di sana ia juga berkenalan dengan Tarisa. Lama kelamaan rasa groginya luntur.
"Are you nervous?" Tarisa membaca air wajah Agatha.
"Little bit," desah Agatha, "we always nervous when we meet new people." Sambungnya.
"Don't be, we are nice cool person." Sofie tertawa lebar.
"Sure you all are," balas Agatha.
"The English makes me nervous too, it's feel strange when i actually use it in daily basis." Ia buru-buru menambahkan.
"In English Club we speak English all the time until we leave this lab, you'll get used to it." Tarisa menepuk punggung Agatha pelan.
"Where are Bono and the others then?" Agatha mellirik Tarisa dan Sofie bergantian.
"They will be here in a few minutes." Jawab Sofie seraya mengangguk.
Bono dan enam orang anggota English Club yang lain menyerbu masuk ke dalam lab beberapa menit kemudian, ia tersenyum puas ketika melihat Agatha ada di sana.
"Glad you make it," Bono berkata pendek.
Ia mulai memperkenalkan enam anggota English Club yang lain. Ada Toni, Hanafi, Rita, Abbas, Hendru, dan Tio. Mereka semua tampak seperti remaja baik-baik dari keluarga yang terpandang, tidak ada tanda-tanda remaja pinggir jalan seperti cerita Rene. Agatha mengembuskan napas lega, akhirnya ia bisa menikmati English Club tanpa takut terjerumus ke jurang pergaulan bebas.
"Tarisa is our partner in English debate next month, maybe we will hang with her more often in this lab," Bono berkata kepada Agatha.
Tidak heran banyak cewek yang tergila-gila padanya, Bono adalah tipe cowok yang sudah mendapatkan wibawa sebagai seorang lelaki dewasa di umurnya yang masih muda. Cara biacaranya yang jauh dari kata bertele-tele akan membuat lawab bicaranya terkesan, bahasa yang ia gunakan baik dan sopan tapi tidak terlalu kaku. Bisa dibilang Bono memiliki mental dan karisma seorang pemimpin, dan ia juga menyimpan sisi misterius yang menarik perhatian cewek-cewek untuk dapat mengungkapnya hingga terbongkarlah seperti apa sesungguhnya sosok Bono.
Selama latihan di lab, mereka mengasah kemampuan berbahasa Inggris lebih keras dibanding yang mereka pelajari di kelas. Semua aspek kemampuan Bahasa Inggris mereka asah, mulai dari Listening, Speaking, Reading, dan Writing. Selain itu mereka juga saring mengoreksi jika ada anggota yang melakukan kesalahan tanpa menggurui atau ingin terlihat lebih pintar, mereka menjadi pijakan untuk yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Haunted Diary
TerrorSelamat datang di Haunted Diary, dan selamat membaca. Sinopsis: Agatha tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku diary yang ia temukan membawanya dan keluarganya ke sebuah kejadian yang mengerikan, dan juga mengancam jiwanya juga orang-orang yang ia...
