Langkah Akhir

221 18 0
                                        

Foto di tangan Agatha nyaris terjatuh, di bawah sana Ayahnya mengaum keras. Gaung suara Ayahnya mengoyak keheningan malam, jantung Agatha seakan meloncat dari dalam dadanya. Kemudian suara auman Ayahnya disusul oleh suara gedoran kasar yang berasal dari kamar Ayahnya, pintu kamar Ayahnya berubi-tubi ditinju dan ditendang dari dalam.

"Tolong!"

Agatha mendengar suara Ibunya menjerit, ia menghambur keluar kamar.

"Sial, Radian pasti udah tahu gue dapet foto ini, dan merasuki Ayah." Pekiknya saat berlari menuju tangga.

Keadaan menjadi begitu berbahaya untuk Agataha, Ayahnya yang kini sepenuh dirasuki Radian dapat dengan mudah membunuh ia dan Ibuya. Ia harus cepat menghancurkan foto itu sebelum terlambat, nyawa mereka berada di tangan Agatha secara harfiah.

Di tangga Agatha bertemu Ibunya, ia mendorong tubuh Agatha hingga kembali ke lantai dua. "Ayah mengamuk lagi, tadi dia mau membunuh Ibu. Kita harus sembunyi, Agatha." kata Ibunya terbata-bata.

"Ibu berhasil mengunci Ayahmu, tapi itu tidak akan bertahan lama. Kita harus bersembunyi, Ayahmu sudah benar-benar lepas kendali." Ibunya melanjutkan.

Agatha menoleh ke pintu kamar yang masih terbuka, "kita sembunyi di dalam kamar itu aja, Bu."

Agatha menarik tangan Ibunya, mereka berdua masuk ke dalam kamar dan menutup sekaligus mengunci pintu. Ayahnya masih menggedor-gedor pintu kamarnya dari dalam, suara patahan kamu beberapa kali terdengar. Pintu itu tidak akan bertahan lebih lama lagi, semkin lama kekuatan Ayahnya semakin besar.

"Kita harus gimana, Ibu takut." Ibunya berkata, raut wajahnya terlihat kalut.

"Kalo Ayah berhasil mendobrak ke sini, kita harus kompak untuk melumpuhkannya. Aku harus menghancurkan benda ini, Bu." Agatha menunjukan foto di tangannya.

"Apa itu?"

"Benda ini yang menjadi biang dari terror yang kita alami, Bu. Aku harus menghancurkan ini, dan Ibu menahan Ayah di sini. Setuju?" Agatha berkata lugas.

"Baiklah." Ibunya mengangguk mantap.

Pintu kamar Ayahnya berhasil terbuka, engsel penahan kunci patah dan Ayahnya membanting pintu hingga membentur dinding. Ayahnya menaiki tangga dengan cepat, suara langkah kakinya kian dekat.

Semakin dekat suara langkah kaki Ayahnya, semakin cepat degup jantung Agatha.

Ia melirik Ibunya, "Siap?"

Ibunya mengangguk, lalu mereka mulai mengatur posisi. Agatha berada di depan, siap menyerang. Sedangkan Ibunya berjaga di belakang untuk membantu Agatha.

Agatha terkejut saat Ayahnya menggedor pintu cukup keras, ia sempat mundur satu langkah tapi kemudian maju kembali.

"Agatha!" panggil Ayahnya dari luar.

"Cepat keluar dari sana, dia bukan Ibu. Dia iblis jahat!" Ayahnya berteriak dari luar.

Agatha terbelalak, degup jantungnya berhenti saat itu juga. Lehernya terasa amat kaku untuk digerakan, tetapi ia tetap berusaha menoleh kea rah Ibunya.

"Ingin menghancurkanku, hah?" sebuah suara terdengar dari belakang, mirip suara Ibunya hanya terdengar sedikit asing.

Agatha menoleh ke belakang, Ibunya menyeringai. Dua bola matanya hitam legam, gelap, tanpa jiwa. Di dalam mata itu Agatha bisa melihat sosok Radian di dalam tubuh Ibunya, ia tertawa girang atas kemenangannya.

"Tidak semudah itu, tapi perlu aku akui bahwa kamu itu yang paling tangguh." Ibunya tertawa.

"Jadi selama ini kamu merasuki Ibuku, dan membuatnya membunuh tanaman Ayah dan Bruno?" Agatha menatap Ibunya penuh amarah.

The Haunted DiaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang