Langkah kaki Agatha mengayun pelan, hatinya kini tenang ketika mengetahui ia tidak sendiri. Ia punya teman yang siap membantunya, hatinya yang was-was kini bisa tenang. Jalanan komplek yang lengang membuat pikirannya melambung ke mana-mana, sudah pukul setengah sepuluh. Agatha sudah terlambat setengah jam, seharusnya ia sudah sampai di rumah setengah jam yang lalu.
Agatha tertawa kecil, namun matanya memancarkan seberkas kesedihan. Lucu, seharusnya keringat dingin seukuran biji jagung sudah memenuhi wajahnya. Namun, sekarang ia tampak tenang, tidak takut sama sekali. Agatha anteng-anteng saja pulang malam, toh Ibunya tidak akan ada menanti dengan tampang tentara kalah perang. Pintu rumahnya akan kosong ketika Agatha lewati nanti, ia berani bertaruh.
di persimpangan menuju rumahnya, Agatha bertemu dengan Pak Romli yang sedang sibuk menutup warungnya. Pak Romli menyapa ketika melihat Agatha lewat.
"Dari mana, Neng?" Pak Romli maju beberapa langkah ke bibir jalan.
Agatha menoleh lalu tersenyum, "abis main, Pak."
"Sampai malam begini? Enggak takut dimarahi Ibu kamu nanti?" sahut Pak Romli sembari memegang sebuah kaleng kerupuk berwarna biru tua di tangannya.
Justru karena tidak ada yang memarahi saya pulang malam, Pak.
"Ah, enggak, Pak. Saya sudah izin sama orangtua tadi."
"Oh, begitu," Pak Romli menaruh kaleng krupuk di dalam warungnya, tepat di sisi rolling door.
Pak Romli kembali kepada Agatha, ia sibuk membenahi sarungnya yang mulai renggang. "Memang kamu abis main di mana?"
"Rumah ujung jalan sana, Pak," telunjuk Agatha mengarah ke asal ia berjalan tadi.
"Memangnya di RT sana ada yang punya anak remaja kayak kamu, ya?" Pak Romli berkata seraya menggaruk keningnya.
"Ada, Pak." Jawab Agatha, senyum tak pernah absen dari wajahnya.
"Oh, gitu. Maklum udah tua, jadi Bapak mungkin sudah lupa sama tetangga satu komplek," setengah bibir Pak Romli tertarik ke atas.
"Ya, sudah. Kamu pulang sana, nanti dimarahi Ibu kamu kalo pulang terlalu larut," lanjut Pak Romli.
Agatha berpamitan lalu melanjutkan langkahnya.
Ketika membuka pagar rumahnya, Agatha merasakan hawa dingin yang mengembus dari dalam rumah. Tidak seperti biasanya, rumahnya terlihat temaram padahal biasanya terang benderang. Perasaan Agatha tidak enak, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu Bi Nur sedang berdiri dengan wajah cemas dan tangan yang meremas-remas bajunya sediri, Agatha berlari ke arahnya.
"Ada apa, Bi?" tanya Agatha.
Melihat Agatha datang, Bi Nur terlihat lega.
"Ada yang aneh sama Bapak, Non," Bi Nur berkata, beberapa kali ia melirik ke pintu kamar orantua Agatha yang terbuka.
"Emang ada apa?"
"Dari tadi Bapak duduk di meja kerjanya, diem aja. Bibi panggil gak menyahut, Bibi takut Non. Wajah Bapak gak seperti biasa, tatapannya kosong melompong." Bi Nur bergidik.
"Bibi tunggu di sini, biar aku yang memeriksa Ayah," Agatha meninggalkan Bi Nur, ia berjalan hati-hati ke arah kamar orangtuanya.
"Ayah," panggil Agatha ketika ia masuk ke dalam kamar, benar kata Bi Nur, Ayahnya tengah duduk di meja kerjanya, ia menatapi selembar kertas kosong yang tergeletak di atas meja.
"Ayah enggak apa-apa, kan?" Agatha kembali bersuara tetapi Ayahnya tetap bergeming.
Selangkah demi selangkah Agatha mendekati Ayahnya, mata Ayahnya memancarkan kehampaan. Langkah kakinya terhenti ketika tangan Ayahnya bergerak membuka laci meja kerjanya, Agatha berusaha melihat apa yang Ayahnya ambil dari sana. dari tempat ia berdiri sudut pandangnya terbatas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Haunted Diary
HorrorSelamat datang di Haunted Diary, dan selamat membaca. Sinopsis: Agatha tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku diary yang ia temukan membawanya dan keluarganya ke sebuah kejadian yang mengerikan, dan juga mengancam jiwanya juga orang-orang yang ia...
