Andini mengumpulkan hampir separuh siswa sebelas IPS 3 secara khusus untuk dikenalkan kepada Agatha, sesungguhnya ia agak risih tetapi ia tidak berdaya. Sebagian dari mereka nampak enggan, namun ada juga yang bersemangat. Beberapa wajah meudah dikenali, dan menempel di kepalanya bagai permen karet menempel di bagian bawah meja di kelas.
Edgar contonhnya, hal pertama yang mencirikannya dari murid laki-laki lain di kelasnya adalah tatapannya yang murung ditambah rambut lurusnya yang dibelah pinggir rapi menggunakan pomade murahan. Ia memperkenalkan diri dengan suara sendu, Agatha merasa ada kesuraman yang menaungi wajahnya. Bukan kesuraman karena mendapat nilai merah di ujian mata pelajaran Matematika, tetapi kesuraman yang memang menjadi bagian dari dirinya. Seakan-akan bertahun-tahun hidupnya ia lewatkan dengan kemalangan yang luar biasa. Seperti namanya, Edgar adalah tipe cowok pembaca buku-buku Edgar Allan Poe.
Selain Edgar, ada Zara yang terkenal kepo, konon ia adalah pemegang rahasia kotor selusin murid di IPS 3. Jangan tertipu dengan wajahnya yang nampak tak berdosa karena dibalik itu bergulung-gulung rahasia telah didokumentasikan berdasarkan perorangan maupun kolektif.
"Lo udah punya pacar?" tanya Zara, matanya berbinar.
"Hah?" alis Agatha hampir menyatu, "belum."
Zara keliahatan kecewa, "kalo deket sama cowok pasti pernah dong?" berondongnya, "terus udah pernah ngapain aja?"
Agatha mulai mundur tertatur, secara sembunyi-sembunyi ia membuat daftar teman yang wajib ia hindari dan Zara ada di urutan pertama.
Cowok yang cukup menarik di mata Agatha adalah Bono, jangan nilai ia dari namanya yang terkesan norak. Bono adalah turunan terbaik dari campuran Batak dan Belanda, ia punya rahang tegas yang ditunjang mata cokelat. Ia begitu sopan saat menyalami Agatha, tidak ada tanda-tanda ia menyimpan kelakuan yang menyimpang. Bono hanya tipe cowok yang tidak tertarik dalam hal basa-basi, ia lebih senang langsung to the point dan tidak membuang waktu.
Kata Andini, saat pembagian kelompok presentasi banyak cewek yang ingin sekelompok dengannya walau setiap mengerjakan slide presentasi Bono hanya muncul seperlunya. Ia akan pergi saat bagiannya sudah selesai, waktu singkat itu kerap dimanfaatkan oleh cewek-cewek ganjen untuk memotretnya diam-diam.
Lalu ada si kembar Adit dan Rene, mereka seperti orang yang sama terbelah menjadi cowok dan cewek. Rene tampaknya menyenangkan, ia memiliki ketertarikan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sama seperti Agatha. Hanya saja sudara kembarnya Adit, yang kerap menulis namanya dalam Bahasa Inggris menjadi i-did, tidak terlalu menyenangkan. Ia terkenal sering mengusili anak-anak sekelas. Ada saja yang bernasib naas dijahili olehnya.
Setelah perkenalan yang melelahkan, Agatha, Andini, dan Rene pergi ke kantin. Cacing di perutnya sudah menari liar bagai ratusan protestan yang menentang kenaikan harga BBM, di kantin mereka duduk di meja pojok. Menurut Rene meja itu adalah Invisible Table karena saat ramai meja itu seakan menghilang dari penglihatan murid yang ada di sana.
"Ini adalah tempat yang aman untuk menghindar dari perhatian senior," bisik Rene seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Emangnya senior cewek di sini kejam-kejam?" tanya Agatha.
"Enggak, kok. Cuma kadang ya enggak ngenakin aja, suka damprat junior karena hal-hal kecil yang gak jelas," jawab Andini.
"Kayaknya jadi semacam permainan untuk mereka, menekan junior pelan-pelan. Mungkin menurut mereka itu menyanangkan," Rene mengendikkan bahunya.
"Jadi mau pesen apa? Biar gue aja yang jalan." Andini berkata kepada kedua temannya.
"Yang enak di sini apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Haunted Diary
HorrorSelamat datang di Haunted Diary, dan selamat membaca. Sinopsis: Agatha tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku diary yang ia temukan membawanya dan keluarganya ke sebuah kejadian yang mengerikan, dan juga mengancam jiwanya juga orang-orang yang ia...
