Si Pemilik Kematian

546 40 2
                                        

Sepulang dari klinik Agatha membaringkan Ayahnya di ranjangnya, ia tidak berani menatap langsung ke mata Ayahnya seakan-akan Ayahnya adalah Medusa yang dapat membunuhnya hanya dengan menatap langsung ke matanya. Dalam hal ini Bi Nur sangat membantunya agar tidak menatap langsung mata Ayahnya.

Ketika mereka pulang, Ibunya sudah ada di rumah, tetapi ia tidak keluar dari kamar tamu. Mungkin Ibunya merasakan hal yang sama seperti apa yang Agatha rasakan.

Agatha kelelahan, mendadak otot-otot tubuhnya terasa ngilu dan suhu tubuhnya naik. Ia meminta Bi Nur menyediakan air hangat untuk melemaskan ototnya yang kaku, ketika Bi Nur menawarkan makan malam ia malah menolak dan terburu-buru masuk ke dalam kamar.

Tepat di atas tempat tidurnya buku itu tergeletak seakan-akan sudah menunggu Agatha, seraya melemparkan handuk yang melilit rambutnya ia berjalan mendekati buku itu. Agatha melompat pada beberapa halaman terakhir, tidak lupa ia menarik napas panjang-panjang sebelum mulai membaca. Semoga kamu tidak apa-apa Enditha, bisik Agatha.

Aku dan Ibu tidak tahu harus berbuat apa, kemarin dengan mata kepalaku sendiri aku lihat Ayah mencoba membunuh Ibu di meja makan. Sekuat tenaga kuserbu tubuh Ayah, ia terdorong ke belakang dan pisau di tangannya jatuh. Ibu hanya bisa meratap di lantai, jantungku berdebar-debar saat itu. seakan itu adalah detik terakhirku hidup di dunia ini, untung kesadaran Ayah yang masih tersisa kembali. Ia menggeram lalu masuk ke dalam kamar, meninggalkanku dan Ibu yang menangis tersedu-sedu.

Aku tahu itu bukanlah Ayahku, aku bisa melihatnya dari bola matanya. Ada sesuatu yang mengendalikan Ayahku hingga melakukan perbuatan itu, aku sudah tahu bahwa dia yang ada dibalik semua ini. Ada dendam yang berkobar di jiwanya yang tak tenang, ia berubah menjadi makhluk yang haus darah. Aku menjulukinya si pembawa kematian.

Aku berharap dapat segera menemukan cara menumpasnya, aku tidak bisa membiarkan ini terjadi. Kami benar-benar dalam bahaya, bukan saja untukku dan Ibuku tapi juga untuk Ayahku. Aku yakin di dalam sana Ayahku menjerit ketakutan.

Aku sudah tahu apa yang aku lakukan, aku hanya perlu melakukannya. Mungkin malam ini adalah saat yang tepat. Ya, malam ini adalah waktu yang tepat.

Aku sempatkan untuk menuliskannya hingga apapun yang terjadi padaku malam ini tidak menghentikan usahaku untuk melawan si pembawa kematian, siapapun yang membaca tulisanku ini, apabila aku tidak berhasil berarti kamulah yang harus meneruskannya. Jangan biarkan dia menang.

Nyawa keluargamu ada di tanganmu.

Satu hal yang perlu kamu tahu bahwa si pembawa kematian itu nyata, mungkin kamu akan mengejekku karena membual atau mungkin kamu berpikir aku adalah anak rumahan yang mencari perhatian.

Kamu salah.

Apa yang aku alami pasti kamu juga alami, apakah itu tidak cukup menjadi bukti untukmu?

Ini memang menakutkan, percayalah. Kaki gemetaran saat menulis ini, tetapi kita tidak punya pilihan. Apa yang aku lakukan malam ini adalah satu-satunya cara untuk menyelematkan keluargaku, jika nyawaku taruhannya aku rela. Yang penting keluargaku selamat.

Sial!

Ada rebut-ribut di luar kamarku, aku mendengar suara gaduh keras dari dalam sini. Ada suara Ibuku di antara suara-suara itu, jadi bisa saja jadi kali terakhir aku bisa meraihmu dengan tulisanku.

Ingat! Jangan biarkan rasa takut mengalahkanmu, si pembawa kematian akan semakin kuat saat rasa takutmu mengalahkanmu. Untuk kali pertama dan terakhir dalam hidupmu, jadilah pemberani untuk orang-orang yang kamu sayangi.

Tulisan itu berhenti pada sebuah coretan panjang di huruf terakhir, garis hitam kasar membentang hingga tepi bawah halaman. Tiba-tiba Agatha merasakan kepedihan di dalam hatinya, airmata hampir menetes.

Enditha tidak berhasil malam itu, lebih buruk dari itu nyawanya dan keluarganya pun ikut terenggut. Kabut yang selama ini menutupi kenyataan tentang apa yang terjadi kepada Enditha dan keluarganya terkuak sudah, Enditha tidak berhasil malam itu. si pembawa kematian menang.

Agatha menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, matanya memandangi halaman-halaman yang kosong setelah tulisan terakhir itu. Hatinya tertusuk-tusuk oleh nestapa.

Enditha adalah remaja Agatha, mungkin banyak kemiripan di antara mereka berdua. Mereka sama-sama mempunyai semnagat yang menggebu-gebu, sorot mata mereka sesak oleh harapan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan membawa mereka kepada petualangan milik mereka sendiri.

Namun tidak untuk Enditha, Agatha tidak tahu di mana ia sekarang berada. Apapun yang dialami oleh Enditha malam itu sudah meremukkan perasaan Agatha, ia akan mengalami hal yang sama.

Agatha menarik napas panjang lalu bangun, ia tidak mau larut dan menyerah begitu saja. Rahangnya mengeras, tarikan napasnya berubah berat mirip banteng.

"Gue harus menyelesaikan apa yang Enggak sempat diselesaikan Enditha, gue gak akan biarin kematian Enditha sia-sia begitu saja," kata Agatha pada udara kosong di kamarnya.

Dari ruang tamu terdengar suara tawa keras yang mengejek, bukan Ayah, Ibu, ataupun Bi Nur. Suara itu milik seseorang yang tinggal di dalam rumah yang sama bersama mereka tapi tidak pernah mereka sadari.

Suara itu milik sipembawa kematian.

The Haunted DiaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang