Tabir Gelap yang Tersingkap

473 29 1
                                        

Agatha mengeluarkan ponsel dari dalam tas, hati-hati ia memindahkan nomor ponsel Bono ke daftar kontak ponselnya. Ia tersenyum sejenak ketika membayangkan wajah Bono ketika menulis di kertas kecil, rona wajahnya begitu serius dan kekanak-kanakan. Di dalam angkutan yang berjalan pelan pikiran Agatha merambat ke mana-mana, untung angkutan dalam keadadan kosong.

Seandainya ada orang bersama Agatha saat itu sudah pastilah akan berdecak heran, mungkin Agatha akan dikira gila karena sering tersenyum sendiri.

Di depan komplek angkutan berhenti, Agatha turun hati-hati lalu berjalan masuk ke dalam komplek. Ayunan langkahnya terhenti ketika melihat Pak Romli yang sedang memunguti dus makanan ringan yang berceceran di jalan, Agatha berlari mendekati Pak Romli untuk membantunya.

"Eh, Neng Agatha. Baru pulang sekolah?" ujar Pak Romli sembari berjongkok dengan dua kecil dus makanan ringan di tangannya.

"Iya, Pak. Ngomong-ngomong Bapak kenapa?"

"Oh, gak apa-apa, tadi Bapak abis belanja eh Bapak gak liat ada lubang di jalan, jadinya belanjaan Bapak Jatuh."

"Biar saja bantu, Pak." Agatha ikut berjongkok memunguti dus kecil yang masih berserakan.

"Makasih, Neng. Aduh, Bapak jadi nyusahin."

"Enggak apa, Pak. Saya malah senang bisa bantu Bapak."

Pak Romli menatap Agatha, ada binary salut terhadap Agatha. "Gini deh kalo udah tua, bawa motornya udah gak terlalu stabil. Padahal dulu Bapak kalo bawa motor kayak Rossi," Pak Romli terkekeh.

"Wah, emang Bapak dulu pembalap, ya?" Tanya Agatha.

"Ah, enggak, kok. Bapak cuma tukang ojek, tapi bukan sembarang tukang ojek, Bapak ini tukang ojek favorit di komplek ini." Ungkapnya bangga.

Agatha berhenti memungut dus, ia memerhatikan Pak Romli. "Bapak sudah lama tinggal di sini?"

"Lumayan lama, semenjak komplek ini baru dibikin Bapak sudah tinggal di sini. Sampai sekarang, komplek ini termasuk lama loh pembangunannya. Kebanyakan berhenti, mungkin pengembangnya dulu kurang modal."

Agatha langsung mencium bau harapan menguar dari keringat Pak Romli, seluruh dus makanan ringan itu dimasukan ke dalam dua kantung yang bergantung di kursi belakang motor bebek tua milik Pak Romli.

"Ikut Bapak aja, Yuk. Bapak antarkan sekalian ke rumah." Pak Romli berkata.

"Ah, sekarang saya yang nyusahin Bapak," Agatha menyahut.

"Enggaklah, justru kita impas tidak ada yang saling menyusahkan." Timpal Pak Romli ramah.

"Baiklah kalo gitu, Pak."

Agatha naik ke boncengan motor Pak Romli, barang belanjaan menyulitkan Agatha untuk naik tapi ia menahan diri untuk tidak protes. Motor Pak Romli mulai berjalan setengah terseret melewati jalanan komplek.

"Pak, boleh gak kalo saya mampir ke rumah Bapak?"

Pak Romli menoleh ke belakang.

"Boleh banget, Bapak senang kalo kamu mau mampir. Memangnya ada apa kamu mau mampir?"

"Enggak ada apa-apa sih, Pak. Saya cuma mau ngobrol-ngobrol sama Bapak."

Pak Romli bergumam panjang, ia tidak bertanya lagi. Motor tua berbelok ke arah rumahnya, di depan rumah istrinya sudah menunggu. Senyumnya melebar ketika tahu Agatha ikut Pak Romli.

"Kamu masuk saja dulu, biar Bapak masukin belanjaan dulu nanti Bapak nyusul." Pak Romli berkata, tangannya sibuk membuka simpul tali yang mengikat kuat barang belanjaannya agar tidak jatuh.

The Haunted DiaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang