Kedua kaki Agatha mengayun cepat, begitu matahari tenggelam ia bersiap menuju rumah Rachel. Napasnya terdengar pendek-pendek, beberapa kali ia menengok ke belakang takut ada yang mengikutinya. Tidak peduli seberaba bodoh tindakannya, keamanan adalah hal yang penting untuknya saat itu. jadi lebih baik terlihat bodoh dari pada nantinya ia dicegat oleh si pembawa kematian, tiba-tiba Agatha teringat akan apa yang terjadi pada Enditha.
Eavan dan Rachel sedang berdiskusi seperti biasa di teras rumah Rachel, hanya mereka berdua tanpa Lailani.
"Lani ke mana?" Tanya Agatha.
Rachel mengangkat bahu, "enggak tahu, kayaknya dia sakit, deh."
Agatha duduk lalu memandangi Rachel dan Eavan dengan, tatapan matanya mengisyaratkan sesuatu yang mengerikan. Raut wajah Agatha mirip seperti orang yang sedang kerampokan.
"Ada apa?" Tanya Eavan, "lo kok gitu banget ngeliatinnya?"
"Bahaya," kata Agatha.
"Apanya yang bahaya?" potong Rachel, ia menegakkan badan.
"Gue tahu apa yang terjadi sama Enditha," ujar Agatha pelan, "walaupun gue gak tahu pasti, tapi gue yakin di mati di rumah itu."
Eavan melirik Rachel, mereka sama sekali tidak terkejut. Agatha diam, muncul kecurigaan di dalam dirinya.
"Ayahnya membunuh Enditha malam itu," suara Eavan terdengar lirih, "dengan pisau dapur lalu bunuh diri," ia meneruskan.
Agatha terbelalak, mulutnya mengatup-atup. "Dari mana lo tahu?"
"Orangtua gue yang bilang, mereka udah hubungin gue dan cerita soal rumah itu," Rachel bersuara.
"Enditha dan Ibunya mati dengan puluhan luka tikam di sekujur tubuhnya, sedangkan si Ayah menggorok lehernya sendiri," kata Eavan, matanya menatap lekat Agatha.
"Ya ampun," Agatha menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
"Semenjak kejadian itu, rumah yang lo tinggalin berpindah tangan. Tapi satu yang pasti, siapapun pemiliknya, mereka enggak pernah tinggal lama di sana. Katanya rumah itu punya aura jahat yang bisa memperngaruhi orang," kata Rachel kepada Agatha.
"Berarti benar malam itu adalah malam di mana Enditha meninggal."
"Maksud lo?" Rachel mengerutkan kening.
"Di tulisan terakhirnya, Enditha bilang ada sosok yang bergentayangan di rumahnya. Dia menjulukinya si pembawa kematian, sebenernya dari awal dia udah ngerasa kehadirannya tapi Enditha belum yakin. Malam itu sebelum kematiannya, Enditha memutuskan untuk melawan si pembawa kematian, menurutnya ada cara untuk menghancurkannya."
"Sayangnya malam itu Enditha gagal," ada sebersit duka di dalam sorot mata Agatha tiap kali bicara tentang Enditha.
"Menurut gue juga gitu, pasti ada cara. Siapapun si pembawa kematian itu pasti ada cara untuk menghentikannya." Ujar Eavan.
Pembicaraan mereka terhenti ketika pintu pagar terbuka, jantung Agatha seperti dibetot kuat keluar dari dadanya ketika mendengar suara pagar yang dibuka paksa. Dalam keadaan seperti itu suara kucing mengeong pun dapat berpotensi ancaman untuknya.
Mereka semua mengembuskan napas ketika sosok Lailani muncul dari balik pagar, ia memandangi teman-temannya. "Ada apa?" tanyanya seperti orang tak berdosa.
"Gak bisa ya elo buka pagernya nyantai aja, gak usah bikin jantung orang copot." Rachel melotot ke Lailani.
"Lo pada kaget, ya? Maaf-maaf, gue gak sengaja."
Lailani berjalan santai ke arah mereka lalu duduk.
"Lagi pada ngomongin apa, sih? Kayaknya serius amat?"
Eavan menggeleng lelah, "kita lagi ngomongin rumahnya Agatha yang ternyata angker, lo udah tahu, kan?"
"Oh, yang itu." lailani mendadak jadi semangat.
"Lo harus hati-hati Agatha, sekarang lo sedang dalam bahaya." Lailani meneruskan penuh simpatik.
Agatha terlihat hampir depresi. "Gue harus apa? Gue bingung," ia mendengus panjang.
"Pokoknya lo harus ekstra hati-hati apa lagi sama Ayah lo, sampai kita udah tahu cara buat menghentikan si pembawa kematian itu." tegas Eavan.
"Kita pasti bantu elo," Rachel merangkul Agatha.
"Iya, lo punya kita," imbuh Lailani.
"Gue gak tahu lagi harus bilang apa sama kalian," mata Agatha berkaca-kaca.
"Pokoknya lo harus bertahan sampai kita dapet cukup informasi tentang siapa dan bagaimana menghentikan si pembawa kematian itu, jangan sampe nasib lo berakhir seperti Enditha." Eavan berkata lagi.
Lailani menatap mata Agatha lekat-lekat, "iya, lo harus bisa menghentikan dia."
"Ternyata di balik tampang pertemanan kalian yang mirip trio kwek-kwek, kalian punya jiwa solidaritas yang tinggi."
Wajah Eavan langsung kecut, "Enak aja trio kwe-kwek!"
"Kalo kita trio kwek-kwek berarti si Eavan itu jadi Fandi, ya. Pas, muka si Eavan sama imutnya sama Fandi." Rachel terkekeh.
"Cowok imut yang gemar menari," Lailani berseru.
Rachel, Lailani, danAgatha tertawa terbahak-bahak ketika raut wajah Eavan semakin masam. TanpaAgatha sadari, seluruh ketakutannya hilang begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Haunted Diary
HorreurSelamat datang di Haunted Diary, dan selamat membaca. Sinopsis: Agatha tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku diary yang ia temukan membawanya dan keluarganya ke sebuah kejadian yang mengerikan, dan juga mengancam jiwanya juga orang-orang yang ia...
