Sebelum menghadapi apa yang sama sekali tidak ia ketahui, Agatha memilih untuk mencoba mendekati orang yang semenjak lahir ia kenal dengan baik. Orang yang sedari ia baru hadir di dunia sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang, ini adalah upaya yang mungkin bisa dilakukan untuk mengakhiri ini baik-baik.
Dari pintu kamarnya yang setengah terbuka, Agatha mengintip ke ruang tamu. Ibunya duduk dengan layar laptop menyala di hadapannya. Cahaya dari layar laptop menerangi wajahnya yang kosong dan matanya yang menerawang, Agatha mempersiapkan diri untuk menghampiri Ibunya. Siapa tahu Ibunya masih bisa diajak bicara baik-baik.
Agatha mundur setelah mengambil langkah pertama, Ibunya tiba-tiba beranjak dan berjalan ke dapur. Ibunya melewati Agatha yang melongo di depan pintu kamarnya, darah Agatha berdesir karena takut aksi memata-matainya terbongkar. Namun, Ibunya berjalan begitu saja seakan-akan Agatha tidak berada di sana, Agatha jadi teringat invisible table yang biasa ia duduki bersama Andini dan Rene.
Agatha penasaran dan membuntuti Ibunya ke dapur, tetapi ia berhenti di balik tembok. Celah kotak di dinding pemisah antara meja makan dan dapur kotor menjadi fasilitas untuk Agatha untuk tetap dapat melihat sosok Ibunya.
Ibunya tengah sibuk di meja dapur, seperti sedang membuat kudapan atau teh.
"Bu," panggil Agatha, suaranya terdengar ragu.
Ibunya seolah terkejut sebelum menjawab, "Oh, Kamu. Ada apa?"
Bola mata Agatha bergerak ke mana-mana, bingung harus memulai dari mana.
"Ibu tahu kan keadaan Ayah?" ujar Agatha.
Ibunya mengangguk tanpa menoleh, "Bi Nur sudah merawat Ayah, lukanya pasti akan sembuh beberapa hari lagi."
Napas Agatha tertahan, bukan itu yang ia maksud.
"Bukan begitu," Agatha diam sejenak untuk mengetahui reaksi Ibunya, tak ada tanda-tanda Ibunya mengerti apa yang ia maksud, "tindakan Ayah udah enggak lazim. Apa sebaiknya kita harus bicara sama dia?"
Agatha membuang mukanya, takut tahu-tahu Ibunya marah karena ia membicarakan Ayahnya.
Tidak ada jawaban dari Ibunya, akhirnya Agatha memberanikan menatap Ibunya lagi. Ibunya masih menekuri meja dapur, tetapi kini tubuhnya sudah berhenti bergerak.
"Ayahmu itu monster Agatha," Ibunya berkata lirih.
Agatha tercengang mendengar itu.
"Apa maksud Ibu?"
Walaupun dapur remang malam itu, tapi Agatha bisa melihat Ibunya menyeringai.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu, Ayahmu bukanlah Ayahmu. Ada sesosok makhluk menyeramkan hidup di dalam dirinya,"
Suara jantung Agatha mulai terdengar di kesunyian malam.
"Kamu sebaiknya hati-hati Agatha, nyawa kita sedang terancam."
Hening panjang, dan deru napas Agatha mulai memburu.
"Pergi, selamatkanlah dirimu selagi bisa. Bersembunyi di tempat yang tidak pernah akan ditemukan Ayahmu, Ibu harap kelak kamu akan luput dari buruan Ayah. Ibu sangat menyayangimu, Agatha, dan mungkin juga Ayahmu. Tapi kini rasa sayang Ayahmu akan menggerakan dirinya untuk mengulitimu hidup-hidup, lalu dia akan duduk di sofa sembari mendengarkan jeritanmu hingga suaramu benar-benar habis dan kamu tak dapat lagi menjerit. Ayahmu akan tersenyum pas setelah menikmati setiap detik dari penderitaanmu."
Kengerian di mata Agatha terbaca oleh ibunya.
"Menakutkan bukan?" Ibunya bertanya dengan suara lembut.
"Percayalah, Agatha, Ibu juga merakan apa yang kamu rasakan. Selamatkan dirimu selagi bisa, jangan pikirkan Ibu."
Leher Agatha terasa kaku bagai besi ketika kepala Ibunya terangkat, mata Ibunya terkunci pada matanya. Sorot mata Ibunya mengalirkan ketakutan yang pekat dan dingin. Agatha mundur dan berbalik meninggalkan Ibunya, dadanya mulai sesak karena tatapan Ibunya. Jika lebih lama lagi berada di sana dadanya akan meledak, darah dan serpihan organ tubuhnya akan menyembur ke dinding dan lantai dapur.
Agatha membanting pintu kamarnya dan mengucinya dari dalam.
***
Kejadian semalam meninggalkan kengerian di dalam diri Agatha, hati kecilnya tak bisa menerima bahwa Ayahnya dapat menyakitinya tetapi akal sehatnya mengamini semuanya. Melihat keadaan yang semakin mengkhawatirkan ini apapun bisa terjadi, salah satunya adalah nyawa Agatha hilang di tangan Ayahnya sendiri.
Setelah memakai seragam, Agatha keluar kamar menuju meja makan. Ibunya sudah tidak ada, yang ada hanyalah Ayahnya yang duduk di meja makan seperti seorang pesakitan dan Bi Nur yang sibuk menyiapkan sarapan. Tergopoh-gopoh Agatha menuju meja makan, perban berlumuran antiseptic yang melingkar di punggung tangan Ayahnya menarik perhatian Agatha. Ia melirik cepat perban itu lalu pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi, Yah." sapa Agatha. Di dalam hatinya ia berdoa mudah-mudahan sikapnya terlihat menyakinkan.
Ayahnya tidak menjawab, ia diam saja.
Bi Nur datang membawakan setangkap roti dan segelas susu, ia meletakannya di hadapan Agatha dan tidak lupa menyelipkan senyuman sebelum pergi. Pagi itu terasa agak normal kecuali ketidakhadiran Ibunya dan sikap Ayahnya yang dingin seperti pengidap gangguan mental.
"Gimana kalo kita pindah dari rumah ini, Yah?" Agatha bertutur dengan tenang.
"Sepertinya kita gak cocok sama rumah ini, lagian Bekasi panas, Yah. Enggak cocok buat tanaman Ayah, mending kita pindah ke tempat yang lebih baik. Cileungsi atau Cariu misalnya." Agatha bicara sambil mengigit roti lalu mengunyahnya.
Agatha menatap wajah Ayahnya, masih tidak ada reaksi.
"Kalau daerah sana kan gak terlalu jauh dari sini, Yah. Kerjaan Ibu tidak akan terganggu, dan Ayah juga bisa mulai menanam lagi. Aku sih gak keberatan kalo sekolahku jadi jauh, jadi Ayah gak perlu khawatir. Gimana, Yah?"
"Kita gak akan pindah," Ayahnya bersuara pelan.
"Kenapa, Yah? Ayah takut rumah kini susah laku? Tenang aja, Yah. Aku denger-denger banyak orang yang cari rumah daerah sini," Agatha terus menyakinkan.
"Atau kalau Ayah gak suka Cileungsi atau Cariu, Ayah bisa pilih daerah lain. Gak masalah, asal kita pindah dari rumah ini." Agatha mulai terengah-rengah.
Yang terjadi beberapa detik kemudian adalah Ayahnya yang terlihat tenang mendadak marah, dan menggebrak meja hingga seisi meja bergetar hebat. "Kita gak akan pindah dari rumah ini!" suara Ayahnya menggelegar bagai petir yang menyambar ubun-ubun Agatha.
Agatha kaget hingga seluruh tubuhnya membeku ketika Ayahnya bangkit dan masuk ke dalam kamarnya, tinggalah Agatha sendirian menahan tangis.
Dari dapur Bi Nur setengah berlari mendekati Agatha.
"Non, enggak apa-apa, kan?" Bi Nur memeriksa wajah Agatha. Tidak ada luka yang Bi Nur temukan, hanya mata Agatha yang mulai berlinangan airmata.
"Ya, ampun, Non," BiNur memeluk Agatha seperti memeluk anaknya sendiri, di dalam pelukan Bi Nurtangis yang sudah sekuat tenaga di bendung pecah bagai tanggul beton yang jebolbegitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Haunted Diary
TerrorSelamat datang di Haunted Diary, dan selamat membaca. Sinopsis: Agatha tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku diary yang ia temukan membawanya dan keluarganya ke sebuah kejadian yang mengerikan, dan juga mengancam jiwanya juga orang-orang yang ia...
