Suara jeritan Agatha hilang saat paru-parunya tidak lagi mampu memompa cukup udara untuknya, yang tersisa kemudian adalah jeritan tanpa suara. Seluruh tubuh Agatha gemetaran, ia berjongkok di dalam kamar gelap. Satu-satunya yang dapat ia lindungi adalah wajahnya.
Tidak lama kemudian kamar itu ramai oleh suara cicitan, Agatha membuka matanya. Dua ekor tikus yang tengah berkelahi berputar-putar di lantai, dua makhluk kecil itu saling mengigit selama beberapa saat hingga salah satu dari mereka menyerah dan melarikan diri di susul oleh yang lain.
Agatha masih di posisinya, tidak bergerak seincipun. Otot tubuhnya terasa kaku, rasa ngilu juga menusuk-nusuk kakinya.
Jadi itu cuma tikus, pikirnya.
Ia kemudian tertawa seakan-akan ada yang lucu. Seenggaknya itu bukan arwah Radian dan gue masih hidup.
Agatha mencoba bangkit walau tertatih-tatih, di depannya berserakan puing dari plafon yang ambrol akibat perkelahian sengit dua tikus. Sisa-sisa pasir bercampur debu mengepul di udara, menyusahkan bagi Agatha yang sedang perlu udara segar untuk paru-parunya yang tengah bekerja keras membuatnya terus hidup.
Agatha mengipas-ngipas debu dengan kedua tangannya, sesekali ia terbatuk. Tetapi kemudian sesuatu muncul di sudut loteng, tepat di dekat lubang yang dibuat si tikus. Sebuah kotak kayu persegi panjang terselip di sana, Agatha tidak bisa menahan diri untuk berjingkrak saking senangnya.
Ulah si tikus yang membuatnya hampir mati muda melahirkan sebuah petunjuk, mungkin si tikus memang ingin membantunya. Agatha teringat perkataan Bu Sudji kala ia menceritakan kunci laci mejanya yang tertinggal di rumah padahal ada berkas penting di dalam sana, mau tidak mau ia harus jauh-jauh kembali ke rumahnya untuk mengambil kunci itu. ia begitu jengkel saat itu, di dalam perjalanan ia tidak berhenti memaki dirinya.
Ketika sampai di rumah ia menemukan kompor gasnya masih menyala, rupanya ia lupa mematikan kompor sebelum berangkat mengajar. Jika saja ia tidak kembali untuk mengambil kunci pasti rumahnya sudah habis dilalap api. Rata dengan tanah.
Blessing in disguise, itu katanya setelah menceritakan kejadian itu.
Dan inilah yang terjadi pada Agatha, blessing in disguise.
Agatha menarik sebuah kursi lalu menaikinya, hati-hati ia menjulurkan tangan untuk mengambil kotak itu. tangannya tak bisa menjangkau kotak itu, tapi ia tidak mau menyerah. Sembari mengusap keringat di wajahnya, Agatha berpikir. Sebuah ide muncul saat ia melihat tumpukan buku di dalam dus.
Diambilnya sebuah buku tebal lalu dilemparkan ke kotak itu, berharap buku itu dapat menjatuhkannya. Di lemparan pertama ia gagal, lemparan kedua menyusul dan berakhir kegagalan.
Buku ketiga siap menyusul, Agatha mencoba mengatur napasnya sedemikian rupa agar ia bisa sedikit relaks.
"Ayo, Agatha. masa gitu aja lo gak bisa." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Agatha mulai mengeker kotak itu dengan bukunya, dan dengan kuda-kuda yang cukup buku itu melayang ke loteng dan akhirnya menyentuh kotak itu.
Kotak itu pun jatuh ke lantai.
"Yes!" Agatha memekik.
Ia mengambil kotak itu dan membersihkan debu di permukaan kotak dengan telapak tangan, bola matanya menggebu-gebu ketika melihat kotak itu.
"Kali ini gak boleh salah." Agatha berkata ketika membuka kotak itu.
Senyum lebar disertai embusan napas panjang menyertainya malam itu, di dalam kotak itu terdapat selembar foto berisi seorang pria berwajah tegang yang didampingi perempuan berambut panjang dengan bando polkadot di kepalanya, perempuan itu tersenyum. Di antara mereka berdiri seorang anak laki-laki berambut pendek, ekspresi wajahnya terlihat aneh. Ia seperti berada di tempat dan waktu yang salah bersama orang yang paling ia benci, tatapan mata tajam itu mengingatkan Agatha pada seseorang.
"Akhirnya kitabertemu juga, Radian."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Haunted Diary
TerrorSelamat datang di Haunted Diary, dan selamat membaca. Sinopsis: Agatha tidak pernah menyangka bahwa sebuah buku diary yang ia temukan membawanya dan keluarganya ke sebuah kejadian yang mengerikan, dan juga mengancam jiwanya juga orang-orang yang ia...
